https://jatim.times.co.id/
Gaya Hidup

Upacara Minum Matcha Aliran Urasenke Berusia 400 Tahun di Kamogawa Matcha

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:35
Kamogawa Matcha Hadirkan Upacara Minum Matcha Aliran Urasenke Berusia 400 Tahun Ritual menyeduh bubuk matcha di Kamogawa Matcha Surabaya, Jumat (23/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, SURABAYA – Irasshaimase” (いらっしゃいませ) — sambutan ramah terdengar dari meja berkonsep open bar Kamogawa Matcha. Tempat guru matcha, Kaoru Watanabe mempersiapkan segelas minuman dengan penuh ketelitian sebagaimana penyajian upacara minum teh di Kyoto. 

"Chasen tidak boleh ditekan, aduk tanpa mengeluarkan suara," kata Kaoru menunjukkan pengaduk bambu yang menari dalam wadah keramik.

Suhu air hangat tak boleh sembarangan agar tidak pahit dan nutrisi tetap terjaga. Sementara air dingin mampu menghasilkan umami lebih kuat.

Kaoru memang baru berusia 17 tahun, tetapi sudah memilih jalan paling terhormat : meneruskan tradisi lintas generasi. Sebagaimana Chisato Toyama—pemilik Kamogawa Matcha yang menerbangkan sosok muda berpengalaman ini langsung dari negeri matahari terbit ke Surabaya.

Kamogawa-Matcha-Surabaya-2.jpgKaoru Watanabe tengah mempersiapkan seduhan matcha di Kamogawa Matcha Surabaya, Jumat (23/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Berbincang dengan Chisato akan mengingatkan pada novel-novel karya Yasunari Kawabata yang menggambarkan keindahan musim semi dan lonceng kuil tua.

Chisato lahir dan besar di Kyoto. Apakah di sana indah? Ia mengangguk sambil tersenyum, khas senyuman bersahabat orang Jepang.

"Saya lahir di Kyoto, tapi saya tinggal di Osaka," kata Chisato di sela grand opening, Jumat (23/1/2026).

Chisato bercerita, tradisi minum teh masih dilestarikan di Kyoto, meskipun beberapa generasi muda mulai menyukai kopi.

"Tapi, orang dulu suka matcha," serunya.

Nenek buyutnya bahkan dikenal sebagai master matcha beraliran Urasenke. Beliau juga membuka sekolah matcha yang terkenal dan kini juga telah ada di Jakarta.

"Latar belakang keluargaku sangat lekat dengan tradisi Jepang. Almarhum kakek dan buyut merupakan guru upacara teh dari aliran Urasenke, salah satu sekolah upacara teh paling berpengaruh di Jepang dengan sejarah lebih dari 400 tahun," ungkapnya mengisahkan.

Karena rasa cinta pada tradisi dan kualitas teh terbaik Kyoto yang mendunia, Chisato kemudian membuka toko khusus bernama Kamogawa Matcha di kawasan Pakuwon City Surabaya timur.

Gerai berdekorasi minimalis yang menawan ini hadir dengan konsep atmosfer tanah kelahirannya. Sebuah prinsip mewarisi seni chanoyu lintas generasi.

Chanoyu sendiri adalah istilah Jepang untuk upacara minum teh tradisional. Dikenal pula sebagai chado atau jalan teh.

Sementara nama Kamogawa terinspirasi nama sungai ikonik di Kyoto. Melambangkan ketenangan, kesederhanaan, serta penghormatan terhadap proses. 

Karya lukis buatan neneknya turut melengkapi interior ruangan, sederet huruf kanji yang jika diartikan semacam doa keberuntungan—seberkas kenangan tak terlupakan setelah neneknya tiada. Chisato juga menyimpan koleksi mangkuk keramik kuno.

Kamogawa-Matcha-Surabaya-3.jpgKamogawa Matcha menghadirkan set upacara minum teh seperti di Kyoto, Jumat (23/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Hari ini ia tampak bahagia karena merupakan pembukaan perdana toko tehnya. Ia berpakaian kimono, penuh semangat menyambut tamu serta kolega.

Kamogawa Matcha pun penuh dengan pujian — atas kenikmatan rasa maupun nilai estetika yang jarang ditemukan di tempat lain.

Daun tehnya didatangkan langsung dari Kyoto, tempat moyangnya melestarikan tradisi sepenuh hati. Chisato meyakini daun teh dari tanah kelahirannya adalah teh hijau berkualitas tinggi. Dunia sudah mengakui.

"Kualitas teh dari Kyoto very good, Shizuoka juga," kata Chisato.

Nilai ketenangan, keindahan, serta ketulusan dalam menyajikan teh menjadi jiwa dari Kamogawa Matcha.

Identitas tersebut tercermin dalam logo kafe yang menggunakan kamon, simbol keluarga tradisional Jepang yang diwariskan lintas generasi.

Kamogawa Matcha juga mencatatkan diri sebagai yang pertama di Indonesia yang menggunakan mesin giling batu tradisional Ishi-usu langsung di lokasi.

Penggilingan khusus tradisional hanya menyajikan matcha plain tanpa campuran (grade super) seperti daun teh premium dari dataran tinggi Uji di Kyoto dan Shizuoka. 

"Daun teh pilihan didatangkan dari Jepang dan digiling segar, memastikan aroma dan cita rasa matcha tetap murni dan autentik," ungkapnya.

Ada Asashi Matcha Uji, Suiga Uji, Suicho Uji, Tensuika Uji, Satomukashi Uji, Hatsumukashi Uji, Ujihikari, Ukigumo, Furin, dan Suiga Uji.

Tak kalah enaknya, matcha dari daun teh hijau dataran tinggi Shizuoka. Soun dengan rasa tegas, Hosoge tanpa lonjakan rasa dan begitu sederhana yang mencerminkan ketenangan, Okumidori, Yabukita NF5, serta Yabukita 4061. Tinggal memilih sesuai selera. Karena, setiap bubuk teh memiliki profil rasa berbeda. Mulai dari tingkat umami, kepahitan, kemanisan, dan aroma.

Minum seduhan matcha pun disarankan harus dihabiskan, seperti halnya makan nasi. Demikian filosofi petani Jepang yang masih dijunjung tinggi. Saat minum matcha di Kamogawa Matcha, jangan lupa memesan kudapan pendamping bernama kue nerikiri. (*)

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.