TIMES JATIM, PACITAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mengklorinasi sumber air warga dan menetapkan masa siaga serta pemantauan selama 14 hari guna memutus rantai kasus diare yang sempat merebak di Kecamatan Sudimoro.
Lonjakan kasus terpantau sejak pertengahan Januari 2026 dan mencapai puncak pada 19 Januari. Laporan awal diterima dari Puskesmas Sudimoro pada hari yang sama.
Kepala Dinkes Pacitan dr Daru Mustikoaji mengatakan, peningkatan terjadi dalam rentang 12–23 Januari 2026.
“Awalnya banyak dialami balita dan anak usia sekolah. Selanjutnya menyebar ke semua kelompok umur,” katanya.
Untuk memastikan penyebab, Dinkes langsung mengambil sampel pasien. Pemeriksaan mikrobiologi dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, sedangkan sampel virus direncanakan ke Biokes Lab Jakarta.
Meski hasil lab belum keluar, Dinkes menduga kuat penyebabnya mikrobiologi. “Dilihat dari periodenya, kecurigaan mengarah ke mikrobiologi. Karena itu pemutusan penularan kami percepat,” tegas Daru.
Bersamaan dengan klorinasi di wilayah terdampak, Dinkes juga menggencarkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Pengambilan sampel air yang dikonsumsi warga Desa Ketanggung, Kecamatan Sudimoro oleh Dinkes Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
“Kami tidak hanya turun langsung. Kader dan perangkat desa kami latih cara penggunaan klorin agar bisa diterapkan di masyarakat,” ujarnya.
Dinkes juga menetapkan pemantauan kasus selama 14 hari untuk melihat tren penurunan serta dampak intervensi.
Antisipasi diperluas. Dinkes menggelar koordinasi dengan enam puskesmas di wilayah timur Pacitan guna memastikan tidak muncul lonjakan serupa.
Soal data 290 kasus yang sempat beredar, Daru menegaskan itu merupakan data awal berbasis keluhan. Data dikumpulkan petugas surveilans dari laporan wali murid ke sekolah dan diteruskan ke puskesmas.
“Itu keluhan awal, baik muntah, diare, atau keduanya. Untuk memetakan kondisi lapangan,” jelasnya.
Dari pendataan tersebut, kasus yang benar-benar membutuhkan layanan kesehatan tercatat 42 kasus.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Sukorejo Anis Arahmaningtyas menyebut di wilayahnya memang ada peningkatan kasus, namun tidak signifikan.
“Kasus ada, tapi tidak menonjol,” katanya, Jumat (23/1/2026).
Di Puskesmas Sukorejo tercatat 38 pasien rawat jalan dan satu pasien rawat inap. Peningkatan terjadi pada 4–21 Januari 2026, dengan mayoritas pasien usia dewasa.
Puskesmas bersama Dinkes juga melakukan penyelidikan epidemiologi. Hasil pemeriksaan sampel air diduga mengandung Escherichia coli (E. coli).
“Ini berbasis lingkungan. PHBS harus terus diperkuat,” ujar Anis.
Di samping itu, ia menambahkan, empat desa wilayah kerja yang meliputi Sukorejo, Sumberejo, Pagerlor, dan Pager Kidul telah menjalankan program jambanisasi.
Hingga Jumat (23/1/2026), Dinkes Pacitan masih mengambil sampel di Desa Ketanggungan, Kecamatan Sudimoro. Di Puskesmas Sudimoro sendiri, tidak ada pasien diare yang dirawat inap.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pacitan Nunuk Irawati selain membenarkan lonjakan tersebut juga mengatakan jika data masih diverifikasi secara detail.
“Data kami himpun by name by address. Yang kemarin dirilis masih data keluhan,” ujarnya.
Nunuk menyebut puncak laporan terjadi pada 12–19 Januari 2026, dengan keluhan diare, mual, dan muntah. Dugaan sumber penularan mengarah ke air.
Karena itu, klorinasi dilakukan di Desa Ketanggungan, Klepu, dan Sudimoro. “Kami lakukan uji T dan klorinasi. Dugaan kuat mengarah ke E. coli,” tegasnya.
Ia mengakui sanitasi masih menjadi pekerjaan rumah. Kepemilikan jamban layak di Sudimoro baru sekitar 70 persen, dan sejumlah desa belum terverifikasi STBM.
“Ini soal perilaku. Tidak bisa selesai dalam satu hari,” pungkas Nunuk. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |