https://jatim.times.co.id/
Berita

Bedah Buku Melampaui Warna Kulit; Edukasi Masyarakat Untuk Saling Toleransi

Jumat, 23 Januari 2026 - 17:54
Bedah Buku Melampaui Warna Kulit Soroti Akar Teologis Anti-Rasisme Ketua Ikatan Mahasiswa Raas Thaifur Rasyid saat sambutan dalam bedah buku dan dialog isi tematik kedaerahan, di EJSC, Co-Working Space, Bakorwil Kota Malang, Jumat 23/1/2026. (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, MALANG – Forum bedah buku dan dialog isu tematik kedaerahan yang digelar Ikatan Mahasiswa Raas Malang menjadi ruang refleksi kritis atas persoalan rasisme di Indonesia. Kegiatan yang membedah buku karya Dr. Nurul Huda, M.Fil.I berjudul Melampaui Warna Kulit itu berlangsung di EJSC Bakorwil, Kota Malang, Jumat (23/1/2026).

Buku tersebut merupakan pengembangan dari disertasi Nurul Huda yang menyoroti diskriminasi warna kulit sebagai persoalan mendasar dalam kehidupan sosial.

Dalam paparannya, Nurul Huda menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan problem rasisme yang masih mengakar kuat, terutama pada level cara berpikir masyarakat.

Bedah-Buku-Ikatan-Mahasiswa-Raas-2.jpgAdvisor EJSC Kota Malang Andi Prasetyo saat sambutan dalam bedah buku dan dialog isi tematik kedaerahan, di EJSC, Co-Working Space, Bakorwil Kota Malang, Jumat 23/1/2026. (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

Menurutnya, rasisme bukan sekadar persoalan perbedaan fisik, melainkan persoalan mindset. Karena itu, upaya melawannya harus dimulai dari akar terdalam, yakni pembangunan teologi anti-rasisme.

“Rasisme itu mindset, maka harus diubah dasarnya dulu,” ujar Nurul Huda di hadapan peserta diskusi.

Ia menilai, dominasi kelompok mayoritas kerap melahirkan perasaan superpower yang tanpa disadari menumbuhkan bibit diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Situasi ini diperparah ketika perbedaan dibingkai sebagai ancaman, bukan sebagai keniscayaan sosial.

Pembedah buku, Yatimul Ainun, menambahkan bahwa Melampaui Warna Kulit hadir untuk menyusun ulang pola berpikir masyarakat dalam memandang kemanusiaan.

Buku ini, kata dia, mengaitkan nilai kemanusiaan, ajaran keagamaan, dan perilaku sosial dalam satu kerangka berpikir yang utuh.

“Diskriminasi bukan soal warna kulit, tapi soal substansi pemikiran manusia,” ujarnya.

Diskusi juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun ajaran agama yang melegitimasi diskriminasi. Konsep keagamaan justru menempatkan manusia pada posisi yang setara, tanpa membedakan warna kulit, ras, atau latar belakang etnis.

Forum ini dihadiri sekitar 39 peserta dari berbagai organisasi kedaerahan. Diskusi berlangsung dinamis, dengan peserta aktif menyampaikan pandangan dan pengalaman masing-masing.

Bedah-Buku-Ikatan-Mahasiswa-Raas-3.jpgPimpinan Redaksi Yatimul Ainun saat membedah buku dan dialog isi tematik kedaerahan, di EJSC, Co-Working Space, Bakorwil Kota Malang, Jumat 23/1/2026. (Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

Salah satu peserta, mahasiswa asal Timor Leste, Talia Fatima, menekankan pentingnya sikap saling menghargai dalam masyarakat majemuk. Ia menilai Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa seharusnya bebas dari praktik rasisme dalam bentuk apa pun.

“Negara ini satu kesatuan, jadi seharusnya tidak ada rasisme,” kata Talia.

Melalui forum ini, panitia berharap diskusi tidak berhenti sebagai wacana akademik semata, melainkan menjadi refleksi bersama bagi masyarakat dan pemerintah. Persoalan rasisme dinilai perlu ditempatkan sebagai isu serius yang membutuhkan perhatian dan solusi berkelanjutan.  (*)

Pewarta : Miranda Lailatul Fitria (MG)
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.