https://jatim.times.co.id/
Pendidikan

ITS Menuju Kampus Berdaya Saing Global: Fokus pada Riset Berdampak dan Sitasi Internasional

Jumat, 23 Januari 2026 - 21:50
ITS Targetkan Ekosistem Riset Global: Rektor Tekankan Kolaborasi ITS dan Dr. Bagus Putra Muljadi tekankan riset yang tak sekadar sitasi, tapi wajib berdampak nyata bagi regulasi dan penciptaan lapangan kerja saat diskusi pada Jumat (23/1/2026). (Foto: Zisti Shinta/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar acara Sarasehan bertajuk "Menuju Kampus Berdampak dan Berdaya Saing Global" pada Jumat (23/1/2026). Forum ini menjadi wadah krusial bagi sivitas akademika untuk merumuskan ulang masa depan riset Indonesia di tengah tantangan bonus demografi dan disrupsi teknologi.

Membuka acara tersebut, Rektor ITS, Bambang Pramujati, menegaskan bahwa ITS saat ini tengah berada dalam fase transisi strategis untuk 20 tahun ke depan. Ia menekankan bahwa indikator kesuksesan kampus tidak lagi bisa dilihat secara lokal saja, melainkan harus terukur secara internasional.

"Fokus kita adalah meningkatkan international co-authorship dan jumlah sitasi per fakultas di level global," ujar Prof. Bambang.

Namun, beliau menggarisbawahi bahwa riset tidak boleh berhenti di atas kertas. Masalah kompleks seperti perubahan iklim dan transformasi digital menuntut adanya kolaborasi interdisipliner yang mampu menghasilkan solusi konkret bagi kebijakan publik dan masyarakat.

Senada dengan pandangan Rektor, Bagus Putra Muljadi, Assistant Professor dari University of Nottingham, memberikan perspektif yang lebih tajam mengenai esensi riset yang berdampak. Menurut ilmuwan diaspora ini, kesuksesan riset harus bisa terkuantifikasi lewat perubahan hidup masyarakat.

Dr-Bagus-Putra-Muljadi.jpg

"Riset yang berdampak itu bukan semata-mata berhenti pada jumlah sitasi. It’s not a hand-waving," tegas Bagus.

Menurutnya, riset harus menjawab pertanyaan dengan seberapa banyak orang yang terbantu dan regulasi apa yang berhasil diperbaiki.

Poin paling krusial yang disampaikan Bagus adalah mengenai integritas dan iklim universitas. Ia mengingatkan bahwa universitas harus menjadi tempat di mana suara-suara berbeda tetap didengar.

"Para periset harus dibebaskan melakukan riset, betapapun kontroversialnya, untuk mendukung kuriositas. Jika kebebasan akademik dijunjung tinggi, satu universitas bisa menjadi contoh bagi 4.000 universitas lainnya di Indonesia," tambahnya.

Bagus juga memberikan peringatan keras mengenai bonus demografi. Ia memandang jika kampus hanya menjadi "pabrik tenaga kerja" tanpa membekali mahasiswa kemampuan berpikir kritis, maka jutaan lulusan berpendidikan tinggi yang tidak terserap kerja justru bisa menjadi beban bagi demokrasi.

"Kampus bukan penghasil tenaga kerja, tapi penghasil pekerjaan itu sendiri (job creators). Mahasiswa harus dipersiapkan menjadi masyarakat yang bertanggung jawab, menjadi tonggak demokrasi," jelasnya.

Sebagai penutup, diskusi ini menyoroti pentingnya dialog antara akademisi dan legislator. Bagus mendorong para pemangku kebijakan untuk lebih banyak mendengarkan masukan berbasis data dari para ilmuwan dalam merancang regulasi, terutama pada sektor-sektor strategis seperti maritim dan kelautan yang menjadi keunggulan ITS.

Melalui sarasehan ini, ITS berkomitmen bukan hanya menjadi menara gading ilmu pengetahuan, melainkan menjadi mesin penggerak perubahan yang mampu menjawab tantangan riil bangsa melalui riset yang berani, bebas, dan berdampak nyata. (*)

Pewarta : Zisti Shinta Maharani
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.