TIMES JATIM, SURABAYA – Permasalahan tulang dan sendi atau peradangan sendi kini tak hanya dialami oleh orang lanjut usia. Gaya hidup malas gerak (mager) dan pola aktivitas yang tidak seimbang kini juga menjadi pemicu utama.
Fenomena tersebut tidak hanya menyerang lansia, tetapi sudah mulai banyak ditemukan pada usia produktif.
Gaya hidup pasif sering kali berujung pada obesitas. Berat badan berlebih memberikan tekanan ekstra pada sendi penopang, seperti lutut dan panggul. Tekanan ini mempercepat pengapuran sendi atau osteoartritis.
"Lutut adalah penyangga berat badan. Jika dibebani secara berlebihan, sendi akan cepat aus. Itulah sebabnya sekarang banyak orang usia muda yang sudah terkena osteoartritis," jelas Dokter Spesialis Ortopedi RS Premier Surabaya, dr. Faesal Abdarrab Maodah, Sp.OT, Subsp. P.L (K), Jumat (23/1/2026).
Tak hanya sendi, tulang pun terancam keropos (osteoporosis). Aktivitas fisik berfungsi menjaga keseimbangan antara sel pembentuk tulang (osteoblas) dan sel perusak tulang (osteoklas). Tanpa gerak yang cukup, sel perusak akan lebih dominan sehingga tulang menjadi rapuh.
Dokter menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik dan obesitas berperan besar dalam memicu nyeri sendi kronis.
Menurut dr. Faesal, tulang rawan sendi membutuhkan gerakan agar tetap ternutrisi. Berbeda dengan jaringan tubuh lain, tulang rawan tidak memiliki pembuluh darah. Nutrisinya didapat melalui proses difusi dari cairan sendi yang terjadi saat tubuh bergerak.
"Jika jarang bergerak, tulang rawan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Akibatnya, sendi cepat rusak, mengalami penuaan dini (degenerasi), dan memicu rasa nyeri," ungkap dr. Faesal.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik menyebabkan otot dan ligamen melemah. Hal ini membuat stabilitas sendi menurun, sehingga seseorang menjadi lebih rentan cedera meski hanya melakukan aktivitas ringan.
"Orang yang jarang bergerak ototnya akan mengecil. Sedikit terpeleset saja bisa berakibat fatal karena sendinya tidak stabil," tambahnya.
Waspada Olahraga Berlebihan (Overuse)
Meski gerak itu penting, dr. Faesal mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas fisik secara berlebihan tanpa persiapan.
Olahraga intens tanpa pemanasan dapat memicu radang sendi hingga patah tulang halus (fatigue fracture).
"Olahraga berlebihan atau angkat beban tanpa pemanasan justru bisa merusak. Kuncinya adalah keseimbangan," ujarnya.
Untuk menangani masalah ini, RS Premier Surabaya menyediakan layanan ortopedi komprehensif dengan konsep One Stop Service. Penanganan dimulai dari kasus cedera akut (patah tulang, cedera ligamen) hingga penyakit degeneratif seperti pengapuran.
Dr. Faesal menekankan bahwa operasi bukanlah jalan pertama. Penanganan dilakukan secara bertahap, mulai dari terapi konservatif seperti:
pemberian obat-obatan, fisioterapi, latihan penguatan otot, hingga penyuntikan cairan sendi.
"Kami mendahulukan penanganan tanpa operasi. Tindakan bedah hanya dilakukan jika keluhan sudah sangat berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari," kata dr. Faesal.
Layanan ini juga didukung oleh fasilitas rehabilitasi medik yang mumpuni untuk mempercepat pemulihan fungsi gerak pasien, baik pasca-cedera maupun pasca-operasi.
Pendekatan menyeluruh ini bertujuan agar pasien dapat kembali beraktivitas dengan normal dan aman.(*)
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |