TIMES JATIM, MALANG – Di tengah heningnya ruang Museum Brawijaya, Kota Malang, seekor burung merpati menjadi salah satu koleksi yang kerap terlewat dari perhatian pengunjung. Burung tersebut dipajang dalam etalase kaca, berdiri di atas ranting kayu. Meski diam, merpati itu menyimpan makna simbolis yang kuat dalam perjalanan sejarah bangsa.
Burung merpati kerap dimaknai sebagai simbol perdamaian, kesetiaan, dan penghubung pesan, terutama pada masa perjuangan. Dalam konteks sejarah militer, burung merpati pernah digunakan sebagai media komunikasi penting saat teknologi modern belum berkembang. Ia disebut dengan Merpati Pos.
Merpati Pos dilatih untuk kembali ke tempat asalnya. Pesan-pesan penting yang perlu disampaikan ditulis kecil lalu dimasukkan ke dalam tabung yang diikatkan pada kaki merpati. Hal ini menjadikan merpati pos sebagai alat komunikasi yang efektif karena pesan dapat dikirim tanpa diketahui oleh musuh.

Di Museum Brawijaya, Merpati Pos ini dikaitkan dengan Pasukan Komando Divisi V/Ronggolawe. Pada masa tersebut terdapat seekor Merpati Pos yang diberi gelar Letnan Merpati Anumerta karena jasa-jasanya dalam perjuangan Divisi V/Ronggolawe. Keberadaan merpati pos sangat penting karena mampu menghindari pengawasan musuh.
Museum Brawijaya sendiri merupakan museum militer yang menyimpan beragam koleksi bersejarah, mulai dari senjata, kendaraan perang, dokumen, hingga diorama perjuangan TNI. Bangunan museum yang tertata rapi dengan lorong-lorong pameran menciptakan suasana hening dan sunyi, membuat pengunjung seakan diajak menelusuri kembali jejak masa lalu dengan penuh perenungan.
Kehadiran Merpati Pos di Museum Brawijaya mengingatkan pengunjung bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga dengan strategi, kecerdikan, dan pengorbanan yang senyap.
Di era sekarang, ketika kehidupan berjalan serba cepat dan digital, keberadaan koleksi seperti Merpati Pos ini menjadi pengingat akan pentingnya refleksi sejarah. Di tengah hiruk-pikuk media sosial dan arus informasi instan, museum hadir sebagai ruang tenang untuk belajar, memahami, dan menghargai nilai perjuangan bangsa.

Museum Brawijaya terbuka untuk umum dengan harga tiket masuk yang terjangkau, yakni Rp10.000. Dengan biaya tersebut, pengunjung sudah mendapatkan akses ke koleksi sejarah yang lengkap
Dengan merawat ingatan kolektif melalui benda-benda bersejarah seperti ini, Museum Brawijaya terus berupaya menjaga semangat nasionalisme agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi masa kini dan mendatang. (*)
Pewarta: Tiara Malika Hasna
| Pewarta | : TIMES Magang 2025 |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |