TIMES JATIM, MALANG – Di tengah keragaman bahasa dan budaya Nusantara, 80 pelajar dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul dengan satu tujuan yang sama, yaitu menantang diri melalui bahasa asing yang tak biasa bagi keseharian mereka.
Berlokasi di Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi DKI Jakarta, pada 21 Januari 2026, para wakil terbaik dari 59 SMA, SMK, dan MA di 26 provinsi beradu kemampuan dalam Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional 2026.
Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional diselenggarakan oleh Goethe-Institut Indonesien bersama Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia (IGBJI), dengan dukungan Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen serta BGTK Provinsi DKI Jakarta. Kompetisi ini diperuntukkan bagi pemelajar bahasa Jerman berusia 15–17 tahun dan sejak 2008 konsisten menjadi wahana promosi bahasa sekaligus diplomasi budaya.
“Ajang bergengsi ini tidak akan mungkin terlaksana tanpa guru-guru yang berdedikasi, yang setiap harinya berkontribusi untuk menyalakan minat generasi muda pada bahasa Jerman. Dan sesuai semangat olimpiade, keberanian untuk ikut serta sama berharganya dengan kemenangan itu sendiri,” ujar Wakil Direktur Goethe-Institut Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Ulrike Drissner.
Para finalis nasional bukanlah peserta biasa. Mereka telah melewati penyisihan panjang yang diikuti sekitar 1.500 siswa dari 380 lebih sekolah (321 SMA, 31 SMK, 28 MA) yang berlangsung selama November–Desember di 17 lokasi ujian pada 26 provinsi. Hanya yang paling konsisten, paling teliti, dan paling percaya diri yang mampu mencapai babak puncak di Jakarta.
Pada tahap nasional, kemampuan bahasa mereka diuji pada level A2 (pemula lanjutan). Selama 90 menit, para peserta menaklukkan soal membaca, menyimak, dan menulis secara mandiri. Ujian tidak berhenti pada teks dan jawaban tertulis. Dalam sesi berbicara, mereka bekerja dalam kelompok kecil beranggotakan tiga orang untuk mempresentasikan topik tertentu selama 15 menit di hadapan dewan juri, menguji kefasihan, ketepatan bahasa, sekaligus keberanian menyampaikan gagasan.
Peraih Juara 1 dan 2 yang akan melanjutkan perjuangan di tingkat Internasional bulan Juli mendatang. (Foto: Goethe-Institut Indonesien)
Dari persaingan yang ketat dan bertingkat, dua nama akhirnya melesat di panggung pengumuman pemenang di BGTK Provinsi DKI Jakarta pada Kamis, 22 Januari. Sydney Venecia dari SMA Ignatius Global School Palembang dinobatkan sebagai juara pertama, disusul oleh Nicole Alexandra Prayugo dari Saint John’s Catholic School BSD sebagai juara kedua. Keduanya akan mewakili Indonesia ke Mannheim, Jerman, untuk berkompetisi di Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Internasional pada bulan Juli mendatang.
Ajang internasional yang digelar dua tahunan itu akan mempertemukan sekitar 115 pelajar dari lebih 60 negara. Pada tahun ini, kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 13-22 Juli 2026. Bagi Sydney dan Nicole, Mannheim bukan hanya sekadar kota tujuan, melainkan menjadi panggung dunia, di mana tempat kemampuan bahasa menjadi identitas dan jembatan antarbangsa.
Di bawah dua besar, kompetisi tetap melahirkan deretan prestasi membanggakan. Dzaki Putra Indrastata (SMA Negeri 3 Yogyakarta) meraih juara ketiga, diikuti Pierre Adriano Panggabean (SMAK 7 Penabur Jakarta) di posisi keempat. Rahmad Ardhani Arba’a (SMA Ignatius Global School Palembang) dan Ailsya Zivana Khaalidiyya (SMA Al Hikmah Surabaya) melengkapi posisi lima dan enam. Mereka menerima beasiswa kursus bahasa Jerman dan kesempatan mengikuti ujian Goethe-Zertifikat di Goethe-Institut Jakarta atau Bandung.
Pengumuman pemenang tidak hanya dihadiri oleh para guru pendamping, namun juga ada perwakilan Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Indonesia Dr. Philipp Hirsch, Kepala BGTK DKI Jakarta Erfan Agus Munif, Kepala Pusat Prestasi Nasional Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, serta Ketua IGBJI Ekadewi Indrawidjaja. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar mata pelajaran, melainkan investasi relasi antarnegara.
Dr. Dewi Kartika Ardiyani, salah satu juri Olimpiade Nasional Bahasa Jerman 2026, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta atas keberanian dan antusiasme mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa Jerman. “Kompetisi ini menjadi Langkah awal yang penting dalam pembelajaran bahasa asing para siswa, khususnya dalam lingkup pembelajaran bahasa Jerman.”
Sejak pertama kali diinisiasi pada 2008, Olimpiade Bahasa Jerman Tingkat Nasional telah menjadi ruang perjumpaan antara ketekunan akademik dan keberanian bermimpi. Di sinilah pelajar Indonesia membuktikan bahwa bahasa asing bukan penghalang identitas, melainkan jendela menuju dunia. (*)
| Pewarta | : Raida Zharfa Amalia (MG) |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |