https://jatim.times.co.id/
Opini

Tikus Republik

Kamis, 22 Januari 2026 - 17:47
Tikus Republik Ferry Hamid, Peraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif ATI 2024 TIMES Indonesia.

TIMES JATIM, MALANG – Di negeri ini, tikus bukan sekadar hewan pengerat. Ia telah naik pangkat menjadi metafora politik, simbol kekuasaan yang rakus, dan kadang terasa lebih abadi daripada masa jabatan pejabat.

Tikus Republik tidak hidup di got semata, tetapi di lorong-lorong anggaran, di balik meja rapat berpendingin udara, dan di ruang sidang yang kadang lebih dingin dari nurani.

Mereka tidak berbulu kusam, tetapi berdasi. Tidak mengerat karung beras, melainkan menggerogoti pos belanja. Tidak mencicit, melainkan berpidato. Dan yang paling menyedihkan, mereka tidak takut pada cahaya, karena cahaya hukum sering kali redup saat mereka lewat.

Korupsi di Indonesia sudah lama tidak lagi mengejutkan. Ia seperti hujan di musim penghujan: selalu datang, hanya intensitasnya yang berbeda. Yang mengejutkan justru jika sebulan berlalu tanpa berita penangkapan. 

Tikus-tikus ini bekerja dalam senyap, tetapi hasil kerjanya berisik: jalan rusak, sekolah roboh, rumah sakit kekurangan alat, dan rakyat dipaksa antre untuk pelayanan yang seharusnya menjadi hak.

Republik ini dibangun dengan darah dan doa, tetapi di beberapa sudut kekuasaan, ia dikelola dengan kalkulator dan keserakahan. Anggaran negara yang seharusnya menjadi pupuk bagi kesejahteraan, berubah menjadi ladang pribadi. Dari proyek infrastruktur, bantuan sosial, hingga dana pendidikan semuanya seperti keju besar di pesta malam para tikus.

Yang membuat ironi semakin pahit adalah cara mereka berbicara tentang moral. Di mimbar, mereka menjual kata “amanah” seperti pedagang parfum: wangi di awal, menguap setelah lima menit. Di baliho, mereka tersenyum seolah baru pulang dari pengajian, padahal tangan mereka lebih sering menyentuh berkas proyek daripada kitab suci.

Tikus Republik bekerja dengan metode modern. Mereka tidak lagi mencuri sendirian, tetapi berjamaah. Ada yang bertugas membuka pintu regulasi, ada yang menyiapkan laporan keuangan, ada yang mengamankan proses hukum, ada pula yang mengatur narasi di media. Korupsi kini bukan sekadar kejahatan, melainkan sistem. Ia punya struktur, divisi, bahkan manajemen risiko.

Ketika satu tikus tertangkap, yang lain akan berpidato tentang “oknum”. Kata ini seperti sabun ajaib: membersihkan dosa kolektif hanya dengan satu kata. Padahal publik tahu, tikus tidak hidup sendirian. Ia berkoloni. Ia berkembang biak di ruang gelap yang dibiarkan lembap oleh pembiaran.

Lebih tragis lagi, sebagian masyarakat mulai terbiasa. Skandal korupsi disimak seperti sinetron: marah sebentar, lalu pindah channel. Kita mengeluh di warung kopi, mencaci di media sosial, lalu kembali bekerja seperti biasa. Tikus pun belajar: selama rakyat hanya marah sebentar, mereka bisa menunggu badai reda.

Padahal dampaknya tidak pernah sebentar. Uang yang dicuri hari ini adalah buku yang tak sampai ke tangan siswa desa. Ia adalah obat yang tak tersedia di puskesmas. Ia adalah jembatan yang runtuh sebelum diresmikan. Tikus Republik tidak hanya mencuri uang, tetapi juga waktu, harapan, dan masa depan.

Yang lebih halus, mereka mencuri kepercayaan. Perlahan, publik diajari untuk curiga pada semua pejabat, bahkan pada yang jujur. Demokrasi pun jadi pincang: rakyat memilih dengan skeptisisme, bukan harapan. Negara berubah menjadi panggung sandiwara, di mana idealisme hanya menjadi properti.

Ironisnya, sebagian tikus pandai berbicara tentang nasionalisme. Mereka mengutip perjuangan pahlawan dengan dada dibusungkan, lalu menandatangani proyek dengan tangan yang sama. Mereka mengaku cinta rakyat, tetapi alergi pada transparansi. Mereka memuja negara, tetapi memerasnya diam-diam.

Masalahnya, Tikus Republik tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari sistem yang permisif, penegakan hukum yang setengah hati, dan budaya politik yang menormalisasi “uang terima kasih”. Ia dibesarkan oleh masyarakat yang kadang ikut menawar suara, dan oleh elite yang menganggap jabatan sebagai investasi, bukan amanah.

Maka perang melawan tikus tidak cukup dengan jebakan sesekali. Ia butuh pembersihan gudang secara menyeluruh. Transparansi anggaran, penegakan hukum tanpa pandang bulu, perlindungan bagi pelapor, dan pendidikan etika politik sejak dini. Tanpa itu, tikus hanya akan pindah lubang.

Lebih dari itu, kita butuh keberanian kolektif untuk berhenti mengagungkan kekayaan instan. Selama pejabat kaya mendadak masih dipuja, selama koruptor yang keluar penjara masih disambut bak selebritas, Tikus Republik akan terus berkembang biak.

Republik ini terlalu mahal untuk dibiarkan menjadi kandang tikus. Ia dibangun dari cita-cita, bukan dari kuitansi palsu. Dari harapan, bukan dari mark-up anggaran.

Mungkin tikus tidak akan pernah benar-benar punah. Tapi setidaknya, kita bisa membuat mereka takut keluar sarang. Dan itu hanya mungkin jika rakyat berhenti menjadi penonton, hukum berhenti menjadi dekorasi, dan kekuasaan kembali diingatkan: bahwa ia bukan milik pribadi, melainkan titipan sejarah. Karena jika tidak, suatu hari nanti, yang tersisa dari Republik ini hanyalah nama sementara isinya telah habis digerogoti.

***

*) Oleh : Ferry Hamid, Peraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif ATI 2024 TIMES Indonesia.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.