https://jatim.times.co.id/
Opini

Kebiasaan Orang Indonesia Mencintai Sampah

Kamis, 22 Januari 2026 - 15:08
Kebiasaan Orang Indonesia Mencintai Sampah Agam Rea Muslivani, S.H., Praktisi Hukum Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Indonesia dikenal sebagai negeri yang ramah, religius, dan gemar bergotong royong. Tapi ada satu “cinta” yang jarang diakui secara resmi: cinta pada sampah. Bukan cinta yang romantis, tentu saja, melainkan cinta yang aneh dipelihara, diproduksi, lalu dibiarkan hidup bebas di selokan, sungai, pantai, bahkan di halaman rumah sendiri.

Di banyak tempat, sampah bukan dianggap masalah, melainkan pemandangan. Ia menjadi bagian dari lanskap sosial, seperti baliho caleg dan spanduk diskon. Plastik mengambang di sungai sudah seperti ornamen, styrofoam di pinggir jalan seperti karpet penyambut tamu, dan tumpukan botol bekas di sudut kampung seperti monumen kecil peradaban instan.

Kita rajin membeli, rajin membuang, tetapi malas mengurus akibatnya. Dari kopi saset hingga belanja online, dari jajanan pinggir jalan hingga acara hajatan, semua menghasilkan jejak plastik yang lebih panjang dari ingatan kita tentang ke mana ia akan berakhir. Setelah dilempar, urusan dianggap selesai, seolah-olah bumi punya petugas kebersihan pribadi yang tak pernah lelah.

Ironisnya, kebiasaan ini sering dibungkus dengan kalimat suci: “nanti juga ada yang bersihin.” Kalimat pendek, tetapi penuh makna ideologis. Ia menegaskan satu hal: tanggung jawab adalah barang yang bisa dipindahkan. Kalau bisa dialihkan ke petugas kebersihan, ke sungai, atau ke laut, mengapa harus repot menyimpannya di saku?

Di kota besar, sampah dipindahkan ke TPA. Di desa, ia sering “dipulangkan” ke alam dibakar atau dibuang ke sungai. Asapnya dihirup bersama, airnya diminum bersama, lalu kita heran mengapa penyakit datang seperti tamu tak diundang. Kita mencintai sampah, tetapi membenci konsekuensinya.

Yang lebih menarik, kita sering menyalahkan pemerintah. Tempat sampah kurang, pengangkutan lambat, TPA penuh. Semua benar. Tapi jarang kita mengakui bahwa produksi sampah dimulai dari tangan sendiri. Negara boleh salah, sistem boleh bocor, tapi bungkus mi instan tidak akan terbang sendiri ke selokan.

Budaya instan telah mengubah cara kita memandang barang. Dulu, barang dirawat. Sekarang, barang dinikmati sebentar, lalu dibuang dengan ringan. Gelas plastik hanya hidup 10 menit, tapi akan menjadi warga bumi selama ratusan tahun. Kita memperlakukan plastik seperti mantan: setelah dipakai, dilupakan, meski ia tetap menghantui masa depan.

Di sekolah, anak-anak diajari mencintai lingkungan lewat poster dua dimensi. Di luar kelas, mereka melihat guru dan orang dewasa melempar bungkus permen ke halaman. Pendidikan lingkungan sering berhenti di slogan, tidak turun ke teladan. Kita rajin kampanye, tapi malas konsisten.

Ironi terbesar adalah ketika bencana datang. Banjir merendam rumah, lalu kita menunjuk sungai yang penuh sampah. Seolah-olah sampah itu imigran gelap, bukan hasil produksi warga sekitar. Kita menangis di depan kamera, tetapi esok hari tetap membuang plastik ke tempat yang sama.

Cinta kita pada sampah juga terlihat dalam cara kita mengelola acara. Pernikahan, pengajian, rapat RT semuanya berpesta dengan piring sekali pakai. Makan lima belas menit, sampahnya hidup lima abad. Tradisi silaturahmi berubah menjadi festival plastik.

Padahal, solusi tidak selalu rumit. Mengurangi, menggunakan ulang, dan memilah sampah adalah konsep sederhana. Tetapi kesederhanaan sering kalah oleh kemalasan. Kita ingin kota bersih, tetapi tidak ingin sedikit repot. Kita ingin laut biru, tetapi tetap setia pada sedotan plastik.

Mungkin masalah utamanya bukan kurangnya tempat sampah, melainkan kurangnya rasa malu. Di beberapa negara, membuang sampah sembarangan adalah aib sosial. Di sini, sering dianggap remeh. Kita malu kalau dompet jatuh, tapi tidak malu kalau bungkus makanan kita jatuh ke jalan.

Jika kebiasaan ini terus dipelihara, generasi mendatang tidak hanya mewarisi cerita perjuangan, tetapi juga warisan berupa gunung sampah. Mereka akan membaca sejarah bangsa sambil menghirup aroma TPA, berenang di laut bercampur plastik, dan menanam padi di tanah yang bercampur mikroplastik.

Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita cinta lingkungan, tetapi apakah kita siap putus dari hubungan toksik dengan sampah. Karena selama kita terus memproduksi tanpa tanggung jawab, membuang tanpa rasa bersalah, dan mengeluh tanpa berubah, sampah akan tetap menjadi “pasangan setia” bangsa ini.

Indonesia tidak kekurangan slogan kebersihan. Yang langka adalah konsistensi. Kita butuh lebih sedikit pidato, lebih banyak contoh. Lebih sedikit menyalahkan, lebih banyak memungut dimulai dari sampah kita sendiri. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang menghormati pahlawannya, tetapi juga bangsa yang tidak meninggalkan kotorannya untuk diwariskan. (*)

***

*) Oleh : Agam Rea Muslivani, S.H., Praktisi Hukum Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.