TIMES JATIM, PACITAN – Musim hujan yang mengguyur Kabupaten Pacitan dalam beberapa pekan terakhir membawa berkah tersendiri bagi sebagian warga. Salah satunya dirasakan Giyanto (54), tukang reparasi payung asal Desa Bangunsari, Kecamatan Bandar yang banjir cuan.
Dengan berbekal sepeda ontel tua dan peralatan sederhana, Giyanto setiap hari berkeliling wilayah kota Pacitan untuk memperbaiki payung milik warga.
Usaha yang telah ia geluti selama tiga dekade itu kini kembali ramai seiring meningkatnya intensitas hujan.
“Sudah tiga puluh tahun. Awalnya dulu merantau ke Sumatera,” ujar Giyanto saat ditemui, Rabu (28/1/2026).
Ia menuturkan, sebelum menetap di Pacitan, dirinya sempat merantau untuk mencari penghidupan.
Namun, keterbatasan pendidikan membuatnya kembali ke kampung halaman dan menekuni jasa reparasi payung.
“Prinsipnya selagi mau gerak, rezeki pasti ada,” katanya.
Pelanggan Meningkat saat Hujan
Menurut Giyanto, musim hujan menjadi periode paling sibuk bagi jasanya. Permintaan perbaikan payung meningkat signifikan dibandingkan musim kemarau.
“Sehari tidak tentu, bisa 5-6 kali reparasi, untung masih ada pelanggan tetap,” ujarnya.
Sebagian besar pelanggan berasal dari wilayah kota Pacitan. Mereka biasanya memanggil Giyanto ketika payung mengalami kerusakan ringan hingga berat.
“Sekali service payung kalau ada yang ganti part tarifnya kisaran Rp15 ribu, tergantung kerusakan,” jelasnya.
Namun, tidak semua payung mudah diperbaiki. Payung lipat menjadi tantangan tersendiri.
“Kadang juga sol sepatu. Paling sulit payung lipat, bahannya paling rawan patah cepat rusak,” tambahnya.
Selain memperbaiki payung, Giyanto juga menerima jasa tambal sol sepatu untuk menambah pemasukan.
Berkeliling dengan Sepeda Ontel
Dengan sepeda ontel tua, Giyanto berkeliling wilayah kota Pacitan setiap hari untuk mencari pelanggan jasa reparasi payung, pekerjaan yang telah digelutinya selama 30 tahun. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Setiap hari, Giyanto memulai aktivitas sejak pagi. Dengan sepeda ontel tua, ia menyusuri gang-gang permukiman, pasar, dan kawasan pertokoan di kota Pacitan.
“Setiap hari naik sepeda ontel tua ini,” katanya sambil tersenyum.
Meski telah berusia lebih dari setengah abad, semangatnya tak surut. Ia mengaku tetap berkeliling selama kondisi fisik masih memungkinkan.
Wilayah kerjanya pun tidak hanya terbatas di kota.
“Hanya wilayah kota. Pernah sampai Tulakan, Punung, naik bus,” ungkapnya.
Untuk wilayah yang jauh, ia biasanya menggunakan transportasi umum agar tidak kelelahan.
Penghasilan Cukup untuk Kebutuhan Keluarga
Dari jasa reparasi payung dan sol sepatu, Giyanto mampu mengantongi penghasilan yang relatif stabil, terutama saat musim hujan.
“Penghasilan per hari Rp100-125 ribu,” ujarnya.
Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat ini, Giyanto tinggal di rumah kontrakan di kawasan Bengkal, Nanggungan.
“Ngontrak rumah di Bengkal, Nanggungan,” katanya.
Meski sederhana, ia mengaku bersyukur masih bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Malam Hari Jadi Tukang Pijat
Tak hanya bekerja di siang hari, Giyanto juga memiliki pekerjaan sampingan pada malam hari. Ia menjadi tukang pijat panggilan rumahan.
“Kalau malam jadi tukang pijat panggilan rumahan,” tuturnya.
Pekerjaan tambahan ini dilakukannya untuk menambah pemasukan, terutama saat jumlah pelanggan payung menurun.
Menurutnya, bekerja keras sejak muda membuat tubuhnya terbiasa dengan aktivitas fisik. Meski demikian, ia tetap menjaga kesehatan agar bisa terus bekerja.
Perjuangan di Tengah Keterbatasan Pendidikan
Giyanto mengakui bahwa keterbatasan pendidikan menjadi salah satu tantangan hidupnya. Ia hanya mengenyam pendidikan hingga SMP dan tidak menamatkannya.
“Butuh ketelatenan. Saya SMP saja tidak tamat,” ungkapnya.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru belajar secara otodidak melalui pengalaman bertahun-tahun.
Keahlian memperbaiki payung, menurutnya, diperoleh dari proses panjang mencoba, gagal, lalu belajar kembali.
“Kalau tidak telaten, payung malah tambah rusak,” ujarnya.
Harapan untuk Anak-anak
Di tengah kesibukan mencari nafkah, Giyanto tetap memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Ia memiliki dua anak.
“Anak saya dua. Satunya sudah menikah punya anak. Satunya lagi semester enam di UIN Ponorogo,” katanya dengan nada bangga.
Ia berharap anak bungsunya bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Menurutnya, pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki nasib generasi berikutnya.
“Saya tidak ingin anak saya seperti saya, pendidikannya terputus,” ujarnya.
Bertahan di Tengah Perubahan Zaman
Di era modern, ketika jasa daring dan produk baru semakin mudah diakses, profesi tukang reparasi payung mulai jarang ditemui. Namun, Giyanto tetap bertahan.
Ia menilai, selama masih ada payung rusak dan masyarakat membutuhkan jasa perbaikan, profesinya akan tetap hidup.
“Selagi ada yang butuh, saya jalan,” katanya singkat.
Bagi Giyanto, pekerjaan ini bukan sekadar mencari uang, tetapi juga bentuk pengabdian dan kebanggaan atas keterampilan yang ia miliki.
Potret Ekonomi Rakyat Kecil
Kisah Giyanto mencerminkan potret ketahanan ekonomi rakyat kecil di tengah keterbatasan. Dengan modal minim dan kerja keras, ia mampu bertahan selama puluhan tahun.
Musim hujan menjadi momentum penting bagi penghasilannya. Namun, di luar itu, ia tetap berjuang dengan berbagai pekerjaan tambahan.
“Prinsipnya selagi mau gerak, rezeki pasti ada,” ucapnya kembali.
Kalimat sederhana itu menjadi pegangan hidupnya selama puluhan tahun mengayuh sepeda, memperbaiki payung, dan menghidupi keluarga. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |