TIMES JATIM, PACITAN – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten {acitan (DLH Pacitan) mengeluhkan masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam mengelola sampah.
Tempat sampah yang disediakan di fasilitas umum, yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengunjung kawasan perkotaan, justru kerap dimanfaatkan untuk membuang limbah rumah tangga.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Pacitan, Muhamad Muslih, mengatakan persoalan tersebut terjadi di sejumlah titik fasilitas umum di wilayah kota. Padahal, menurut dia, keberadaan tempat sampah itu dimaksudkan untuk memudahkan pejalan kaki menjaga kebersihan lingkungan perkotaan.
“Di wilayah kota itu kami sudah siapkan tempat sampah di fasilitas umum. Itu kan untuk pejalan kaki. Tapi kenyataannya, tidak jarang dimanfaatkan oleh rumah tangga untuk membuang sampah limbah rumah tangga,” kata Muslih, Jumat (23/1/2026).
Ia menuturkan, praktik tersebut menyebabkan tempat sampah cepat penuh. Kondisi ini berbeda dengan fungsi awalnya. Sampah dari pejalan kaki, kata dia, relatif sedikit dan tidak mungkin menumpuk secara berlebihan dalam waktu singkat.
“Beberapa kasus yang ada di Pacitan, rumah tangga membuang sampah di tempat sampah yang kami siapkan hanya untuk pejalan kaki. Akibatnya, tempat sampah itu cepat penuh,” ujarnya.
Imbauan Dipasang, Warga Tetap Abai
DLH Pacitan, lanjut Muslih, setiap pagi rutin melakukan pengambilan sampah di fasilitas umum. Namun, volume sampah yang berasal dari rumah tangga kerap melebihi kapasitas yang seharusnya ditampung oleh tempat sampah tersebut.
“Kalau di tempat fasilitas umum itu setiap pagi kami ambil. Tapi kalau sudah diisi limbah rumah tangga, volumenya jelas berbeda. Pejalan kaki kan tidak mungkin membuang sampah sampai berlebihan,” katanya.
Untuk mengantisipasi pelanggaran tersebut, DLH Pacitan telah memasang papan imbauan di sejumlah titik. Namun upaya itu belum sepenuhnya efektif. Menurut Muslih, masih ada masyarakat yang mengabaikan aturan yang telah dipasang.
“Kami sudah memberikan papan tulisan di beberapa titik, tapi tetap saja bandel. Terkadang tulisan itu hanya bagi mereka tidak menakutkan,” ujar dia.
Meski demikian, DLH Pacitan memastikan tetap melakukan berbagai upaya persuasif. Edukasi dan imbauan kepada masyarakat terus dilakukan agar kesadaran terhadap pengelolaan sampah bisa meningkat.
Muslih menegaskan, persoalan sampah tidak bisa ditangani oleh pemerintah daerah semata. Diperlukan keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.
“Penanganan sampah ini tidak bisa kami kerjakan sendiri. Artinya, semua pihak harus bersama-sama, dan terutama masyarakat,” kata Muslih. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: DLH Pacitan Keluhkan Limbah Rumahan Dibuang ke Tempat Sampah Khusus Pejalan Kaki
| Pewarta | : Rojihan |
| Editor | : Ronny Wicaksono |