https://jatim.times.co.id/
Opini

Kurikulum Pendidikan Kita

Senin, 26 Januari 2026 - 23:32
Kurikulum Pendidikan Kita Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

TIMES JATIM, BOJONEGORO – Pendidikan di Indonesia sering diperlakukan seperti proyek renovasi rumah: ganti cat setiap ganti menteri, bongkar pasang kurikulum seperti menukar gorden, ramai di awal, sunyi dalam hasil. 

Setiap periode selalu lahir istilah baru merdeka belajar, sekolah penggerak, profil pelajar Pancasila tetapi ruang kelas di banyak daerah masih berkutat pada persoalan lama: guru kelelahan, murid kebingungan, dan sistem yang lebih sibuk mengatur angka daripada membentuk manusia.

Sekolah akhirnya menjadi pabrik nilai, bukan bengkel kehidupan. Murid diperas otaknya untuk menghafal, bukan dilatih berpikir. Mereka diajari menjawab soal, bukan memahami persoalan. Di atas kertas mereka terlihat pintar, tetapi di dunia nyata gagap mengambil keputusan sederhana. Lulus ujian nasional, gagap menghadapi ujian hidup.

Ironisnya, pendidikan kita sangat rajin mengukur, tetapi malas mendengarkan. Setiap anak diperlakukan seperti produk seragam yang harus lolos dari cetakan yang sama. Yang cepat dibilang pintar, yang lambat dicap tertinggal. Padahal manusia bukan roti tawar yang bisa dipanggang dengan suhu sama dan matang bersamaan.

Di ruang kelas, kreativitas sering diperlakukan seperti tamu gelap. Terlalu banyak bertanya dianggap mengganggu. Terlalu kritis dicurigai melawan. Terlalu berbeda dicap aneh. Sekolah yang seharusnya menjadi taman tumbuh, berubah menjadi barak disiplin intelektual.

Guru pun tidak selalu berada dalam posisi terhormat. Di satu sisi mereka dituntut menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, di sisi lain dipaksa menari mengikuti irama administrasi yang tak ada habisnya. Waktu mereka habis mengisi laporan, mengunggah data, menyesuaikan format, mengejar indikator, sementara ruang untuk mendampingi murid justru menyempit.

Lebih tragis lagi, pendidikan kita sering terlalu dekat dengan logika pasar. Sekolah unggulan dijual seperti properti elite. Biaya mahal dianggap wajar demi “masa depan cerah”. Anak-anak dari keluarga miskin belajar menerima nasib sejak dini: bahwa cita-cita kadang kalah oleh saldo rekening.

Padahal pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan mesin seleksi sosial. Ia seharusnya memutus rantai kemiskinan, bukan memperindahnya dengan ijazah.

Di era digital, persoalan ini makin rumit. Teknologi datang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi membuka akses pengetahuan tanpa batas, di sisi lain mempercepat ketimpangan. Anak kota berselancar di platform pembelajaran, anak desa masih berburu sinyal di bukit atau di bawah pohon.

Kita merayakan kecanggihan aplikasi, tetapi lupa bahwa listrik belum menyala merata. Kita bicara kecerdasan buatan, sementara banyak sekolah masih berjuang mendapatkan papan tulis layak. Pendidikan kita seperti ingin berlari maraton dengan satu sepatu.

Lebih dari itu, pendidikan kita sering terlalu sibuk mencetak tenaga kerja, lupa membentuk warga negara. Sekolah rajin menyiapkan murid agar “siap kerja”, tetapi kurang serius menyiapkan mereka agar “siap berpikir”. Akibatnya, lahirlah generasi yang lihai mengisi CV, tetapi kikuk membaca realitas sosial.

Mereka bisa mengoperasikan mesin, tetapi gagap memahami ketidakadilan. Mereka tahu cara mencari uang, tetapi asing dengan makna kejujuran. Mereka fasih berbicara soal sukses, tetapi gagap menjelaskan tentang empati.

Pendidikan karakter sering disebut, tetapi jarang dihidupkan. Ia dipajang di spanduk, bukan dipraktikkan dalam kebijakan. Murid diajari kejujuran, tetapi melihat sistem menormalisasi kecurangan kecil. Murid diajari disiplin, tetapi menyaksikan aturan bisa lentur jika punya koneksi. Di sinilah pendidikan kehilangan wajah moralnya.

Jika pendidikan hanya menjadi tangga ekonomi, maka kita akan melahirkan generasi yang pandai memanjat, tetapi lupa menoleh ke bawah. Jika pendidikan hanya menjadi pabrik tenaga kerja, maka kita akan menghasilkan manusia yang produktif tetapi rapuh secara nurani. Padahal bangsa tidak dibangun hanya oleh orang pintar, tetapi oleh orang yang tahu ke mana kepintarannya harus dibawa.

Sudah saatnya pendidikan kita berhenti sekadar mengejar ranking dan mulai memulihkan makna. Sekolah bukan sekadar tempat mengumpulkan nilai, tetapi ruang untuk belajar menjadi manusia. 

Guru bukan sekadar pengisi silabus, tetapi penunjuk arah kehidupan. Murid bukan wadah kosong, tetapi benih dengan bentuk masa depan yang berbeda-beda.

Kita membutuhkan pendidikan yang lebih jujur: jujur melihat ketimpangan, jujur mengakui kelemahan sistem, dan jujur menempatkan manusia sebagai tujuan, bukan angka dalam laporan.

Sebab jika pendidikan terus diperlakukan seperti proyek statistik, maka yang akan kita panen bukan generasi merdeka, melainkan generasi yang pandai menghafal tetapi miskin keberanian untuk berpikir. Dan bangsa yang takut berpikir, pelan-pelan sedang menyiapkan masa depannya sendiri untuk tertinggal.

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.