Forum Mahasiswa

Budaya Religius sebagai Dasar Pembentukan Perilaku Beragama

Selasa, 19 Juli 2022 - 15:39
Budaya Religius sebagai Dasar Pembentukan Perilaku Beragama Zulhijra, Mahasiswa prodi S3 Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Keberhasilan sebuah bangsa dapat dilihat dari bagaimana pembentukan dari budayanya. Bangsa-bangsa yang berhasil maju, justru menjunjung tinggi nilai-nilai budaya seperti kerja keras, kejujuran, disiplin, menghormati perbedaan dan lain sebagainya. Dari berbagai bangsa di dunia, Jepang dipandang telah sukses dalam memberikan perubahan menjadi masyarakat yang sejahtera dan modern. Masyarakat Jepang sudah menjalankan perubahan di seluruh aspeknya secara bertahap. Dohi Masataka, salah satu tokoh Jepang, dikenal dengan slogannya “heaven helps those who help themselves” (Tuhan akan menolong orang-orang yang mau berusaha).

Pada buku Taro Sakamato, Mochtar Lubis menjelaskan bahwasanya yang menjadi kekuatan utamanya Jepang ialah kesatuan bangsa, kebudayaan dan nilai-nilainya. Hal tersebut yang menyebabkan Jepang menjadi negara dengan masyarakat yang disiplin, hemat, bertanggung jawab, jujur serta mandiri dalam menjalankan setiap halnya. Sikap model tersebut bisa memberikan perubahan besar kepada Jepang. Terlihat jelas peran budaya sangat penting untuk melakukan pembentukan maupun perubahan terhadap perilaku suatu negara, hal ini dapat dilakukan ketika budaya berubah menjadi lebih baik secara konsisten.

Era saat ini mempunyai kemampuan untuk mengganti nyaris seluruh kehidupan masyarakat, sebagai konsekuensi dari arus globalisasi yakni melalui bermacam media dan teknologi mutahir sehingga terjadilah perang pemikiran maupun hegemoni kebudayaan terhadap kebudayaan yang satu dan lainnya dengan membawa nilai baru yang menggerus nilai yang telah ada sehingga moral bangsa menyebabkan kemerosotan.

Persoalan dekadensi moral memang terus mengalami pertambahan, para orang tua terus merasakan ketakutan terhadap dampak negatifnya globalisasi, semakin mudahnya anak-anak dipengaruhi oleh nilai-nilai moral yang negatif baik dari media cetak dan elektronik, termasuk media online, apalagi bisa disaksikan langsung pada kehidupan nyata, semacam: tawuran antargeng, tawuran antarsekolah, pemerkosaan, free seks, pencabulan, pencurian, serta lain sebagainya.

Sebagai basis dari penanaman nilai dan pembudayaan tingkah laku, maka pendidikan hendaknya bisa memberikan gambaran yang menyeluruh terkait dampak positif maupun negatifnya dari adanya arus globalisasi. Karenanya, dibutuhkan rumusan sistem pendidikan yang bisa memberikan penguatan maupun pengembangan terhadap kebudayaan tersebut dalam penanaman nilai moral spiritual sebagai cara untuk menghadapi perubahan zaman 

Religious culture pada konteks ini bermakna membudayakan nilai keagamaan dalam kehidupannya di sekolah maupun masyarakat yang bertujuan untuk penanaman nilai keagamaan yang didapatkan siswa melalui proses pembelajaran di sekolah sehingga bisa menyatu pada perilaku siswa tersebut sehari-harinya baik di lingkungan sekolah ataupun masyarakat. Adapun sasaran dari pengalaman budaya agama Islam (religious culture) ialah siswa serta semua komunitas sekolah. Sementara usaha untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut ke dalam diri siswa harus dilaksanakan secara menerus dan serius melalui program yang sudah direncanakan.

Dengan demikian, suatu keharusan budaya religius diwujudkan di sekolah. Melalui budaya religius ini maka prestasi belajar peserta didik bisa meningkat baik akademik ataupun non akademiknya, dan juga pembentukan akhlak yang mulia karena siswa sudah terbiasa melakukan hal tersebut yang telah diterapkan secara berulang-ulang. Sehingga sikap dan perilaku beragama yang baik di diri siswa diharapkan bisa tercipta dengan diterapkannya pembudayaan yang dilandasi nilai-nilai religius tersebut.

Di Malang Jawa Timur, berdiri SMA Ar-Rohmah Putra dengan misi spirit integrasi keilmuan. Hal tersebut tergambar pada desain asrama yang mengajarkan pendidikan agama dan pendidikan modern. Menariknya, sekolah ini ada di bawah naungan ormas Hidayatullah yang pemikiran serta semangat dakwah ormas tersebut merupakan landasan dari asas pengembangannya.

SMA Ar-Rohmah Putra merupakan SMA unggul (Akreditasi A dari BAN-SM), bahkan raihan prestasi akademik maupun non-akademik di tingkat provinsi hingga nasional yakni: juara umum OSK se-kabupaten Malang tahun 2020, Juara Umum OSK MKKS tahun 2018 dan 2019, juara I OSN Matematika tingkat kabupaten, merebut medali emas cabang lomba taekwondo tingkat nasional, juara II Olimpiade MKKS ekonomi SMA se-Malang, dan prestasi lainnya.

Tidak hanya sebatas itu, alumni SMA Ar-Rohmah Putra berhasil mengharumkan nama sekolah. Lulusan SMA Ar-Rohmah Putra terbukti dapat bersaing menduduki perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bahkan luar negeri. Salah seorang alumni SMA Ar Rohmah Putra Tahun 2018, Afandi Ali, dipilih untuk menjadi Qori’ dalam acara Damai Indonesia TV One pada akhir tahun 2018. Ali merupakan angkatan 2018 yang berhasil menghafalkan al Qur’an 30 juz. Tiket masuk IPB pun ia raih dari jalur prestasi. Kemudian, Dharma Refa merupakan alumni SMP dan SMA Ar Rohmah Putra yang saat ini sedang menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi, Technical University of Berlin (TU Berlin) Jerman (Dokumentasi SMA Ar-Rohmah Putra). 

Melihat prestasi yang dicapai SMA Ar-Rohmah Putra Malang, mengundang animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut mengalami peningkatan yang signifikan. Keberhasilan SMA Ar-Rohmah Putra Malang mendidik siswanya, tentu tidak terlepas dari komitmen lembaga untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan secara utuh (kaffah) pada diri peserta didik, di antaranya melalui kegiatan-kegiatan yang dapat mendukung penanaman budaya religus, tidak hanya aspek kognitif di internalisasikan, tetapi juga jauh lebih penting aspek afektif dan psikomotorik para peserta didik sehingga lulusan SMA Ar-Rohmah Putra Malang mampu bersaing di dunia luar dengan mengedepankan nilai-nilai religius pada diri mereka masing-masing.

Melalui fenomena serta permasalahan yang tersebut, penulis yang merupakan salah mahasiswa prodi S3 Pendidikan Agama Islam melakukan sebuah penelitian dengan asumsi bahwa permasalahan ini menarik untuk dilakukan, mengkaji budaya religius yang dikembangkan di SMA Ar-Rohmah Putra Malang dengan judul penelitian “Budaya Religius Sebagai Dasar Pembentukan Perilaku Beragama di SMA Ar-Rohmah Putra Malang”. Sehingga dengan kajian ini, dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai budaya religius yang dijalankan di sekolah.

Penulis mendapati bahwa keyakinan tauhid sebagai core belief dan TCM (taqwa, cerdas, mandiri) sebagai core value. Penciptaan budaya religius dirumuskan dengan istilah PKP (pencanangan visi misi, kegiatan rutin, program sekolah). Dari pencanangan visi misi sekolah, kemudian divisualisasikan ke dalam kegiatan rutin serta program sekolah: one day one juz, halaqoh al-Qur’an, gerakan Jum’at bersih, PDP. Sedangkan untuk pengembangan budaya religius diwujudkan melalui tradisi akhlak mulia. Beberapa temuan budaya religius membentuk perilaku beragama warga sekolah dirumuskan dengan 3M: menciptakan lingkungan kondusif, mengaplikasikan keteladanan, melaksanakan program ekstrakurikuler.

Temuan lain dalam bentuk proposisi yang dijelaskan dalam disertasinya adalah jika budaya religius yang bersentuhan dengan pembiasaan dan pengalaman langsung peserta didik, maka akan lebih mudah membentuk perilaku beragama peserta didik.

Berdasarkan proses, dan temuan penelitian, Zulhijra mengajukan beberapa masukan yang bisa digunakan oleh berbagai pihak seperti budaya religius yang sudah dijalankan hendaknya dapat ditingkatkan baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi hingga sistem penilaian. Budaya religius yang sudah dijalankan hendaknya mampu terus dipertahanakan dan ditingkatkan kembali. Perlu dibentuknya Lembaga Integritas Budaya Religius (LIBUR) yang tugas utamanya adalah mengelola secara terus menerus budaya religius di sekolah yang pada akhirnya mengeluarkan produk tentang norma/aturan baku tentang budaya religius sehingga dapat mengontrol seluruh warga sekolah dalam penerapannya, karena adanya regulasi yang mengikat. Penelitian ini harus terus berkembang mengingat proses budaya religius pada tiap jenjang, lembaga dan corak pendidikan tentu berbeda. Maka, akan lebih elok lagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan dan memperluas kajian dalam bidang budaya religius.

***

*) Oleh: Zulhijra, Mahasiswa prodi S3 Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.