TIMES JATIM, PACITAN – Laju ekonomi warga Pacitan kembali melambat. Pada pekan ketiga Januari 2026 mengalami deflasi sebesar -5,37 persen. Penyebab utamanya bukan karena stok barang langka, melainkan daya beli masyarakat yang terus melemah.
Kepala Disdagnaker Pacitan Acep Suherman menyebut, kondisi pasar saat ini relatif aman dari sisi pasokan. Namun, aktivitas belanja warga belum pulih.
“Stok komoditas sebenarnya tercukupi. Tapi daya beli masyarakat memang menurun,” ujar Acep, Senin (26/1/2026).
Penurunan itu, lanjut dia, sudah terasa sejak beberapa pekan terakhir. Harga sejumlah kebutuhan pokok terpantau stabil. Namun, transaksi di pasar masih sepi.
“Kalau stok ada, harga stabil, tapi perputaran uang kecil, berarti daya beli memang lagi turun,” jelasnya.
Pemkab berharap kondisi tersebut segera membaik. Salah satunya dengan mendorong percepatan pencairan APBD agar uang beredar di masyarakat meningkat.
“APBD belum cair sepenuhnya. Kalau bisa dipercepat, perputaran ekonomi juga ikut jalan,” katanya.
Selain faktor anggaran, Acep menilai produktivitas warga juga perlu terus ditingkatkan agar pendapatan masyarakat kembali menguat.
“Daya beli harus didorong. Produktivitas masyarakat juga harus naik,” tegasnya.
Cabai dan Bawang Tekan Harga
Berdasarkan data Indeks Perkembangan Harga (IPH), deflasi Pacitan pada pekan ketiga Januari mencapai -5,37 persen. Komoditas yang paling berpengaruh adalah cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah.
Secara nasional, IPH Pacitan berada di peringkat ke-350. Di tingkat Pulau Jawa menempati posisi ke-75, dan peringkat ke-25 se-Jawa Timur.
Tren penurunan harga juga terlihat dalam beberapa pekan terakhir:
Desember: 4,66
Januari Minggu 1: -4,33
Januari Minggu 2: -4,98
Januari Minggu 3: -5,37
Harga Bahan Pokok Berfluktuasi
Pantauan harga per 20 Januari 2026, sejumlah komoditas mengalami penurunan. Bawang merah turun menjadi Rp30 ribu per kilogram. Cabai rawit merah juga merosot ke Rp30 ribu per kilogram.
Minyak goreng curah dan telur ayam ras ikut melemah. Sementara itu, beberapa komoditas lain justru naik, seperti gula pasir, daging ayam ras, serta minyak goreng kemasan.
Meski sebagian harga turun, lemahnya daya beli membuat geliat pasar belum kembali normal.
Stabilnya pasokan dan percepatan realisasi anggaran diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi Pacitan. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Deflasi -5,37 Persen, Ekonomi Warga Pacitan Tersendat
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Deasy Mayasari |