TIMES JATIM, MALANG – Komunitas Lansia Tangguh dan Hapy (KLTH) menggelar kegiatan bedah buku berjudul Tangan Tuhan Menopangku pada Kamis (29/1/2026). Acara berlangsung di Warung Lesehan Yogyakarta, kawasan Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Buku tersebut merupakan kumpulan kisah para anggota KLTH yang mengikuti pelatihan menulis pada Oktober 2025 di bawah bimbingan Dr. Tengsoe Tjahjono.
Buku Tangan Tuhan Menopangku merekam pengalaman hidup para lansia yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang kepenulisan. Melalui proses pendampingan, para peserta menuangkan pergulatan hidup, refleksi iman, hingga pengalaman spiritual yang mereka alami di usia senja.
Dr. Tengsoe Tjahjono menjelaskan, aktivitas menulis memiliki dampak signifikan bagi kesehatan mental lansia. Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas kreatif, tetapi juga sarana menjaga kejernihan berpikir dan meringankan tekanan hidup.
“Menulis bisa meng-update pikiran sehingga menjauhkan dari kepikunan. Selain itu, menulis membantu seseorang melepaskan beban hidup dan menguatkan dirinya sendiri,” ujar Tengsoe.
Ia menambahkan, tulisan berbasis pengalaman hidup juga memberi manfaat bagi pembaca lain. Kisah nyata yang dituliskan dengan jujur dapat menjadi penguat iman serta sumber refleksi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Buku tersebut dibedah oleh Dr. Agustinus Indradi, M.Pd, dosen Universitas Katolik Widya Karya Malang. Dalam ulasannya, ia menilai KLTH sebagai komunitas yang “diberkati dan memberkati”, tercermin dari narasi iman dan ketekunan doa yang mengalir dalam setiap tulisan.
“Iman dan doa memang tidak langsung menyelesaikan masalah, tetapi menjadi pembuka jalan bagi hadirnya berkat dan kuasa Tuhan,” tutur Agustinus.
Ia mengungkapkan, hampir seluruh penulis dalam buku tersebut sebelumnya belum pernah mempublikasikan karya tulis. Banyak di antara mereka sempat merasa ragu dan hampir menyerah. Namun, dengan pendampingan yang intens, para lansia akhirnya mampu menuliskan pengalaman hidup secara runtut dan bermakna.
Bahkan, latar belakang peserta yang beragam—mulai dari pensiunan tentara hingga profesi non-akademik—menjadi kekuatan tersendiri dalam buku ini. Kisah tentang kemiskinan, kehilangan orang terkasih, hingga kesepian karena anak-anak telah hidup mandiri, disajikan apa adanya dan menjadi cermin bagi pembacanya.
Koordinator KLTH, Caecilia Lilik Muharwati, menjelaskan bahwa kegiatan komunitas tidak hanya bertujuan mengisi waktu luang, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan iman para anggotanya.
“Semakin tua, iman justru diharapkan semakin berbuah. Kami ingin saling menguatkan dan tetap bersukacita,” katanya.
Saat ini, anggota KLTH berusia antara 50 hingga 80 tahun ke atas. Mereka rutin berkegiatan bersama, mulai dari line dance, rekreasi berkala, hingga pertemuan dua bulanan. Kebersamaan tersebut membuat para lansia tidak lagi merasa kesepian dan tetap aktif secara sosial maupun spiritual.
“Kami saling membantu, saling menghormati, dan tidak ada jarak satu sama lain. Semua merasa senang menjadi bagian dari komunitas ini,” pungkas Caecilia.(*)
| Pewarta | : Slamet Mulyono |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |