TIMES JATIM, MALANG – Lebih dari 100 karya seni mahasiswa Institut Asia dipamerkan dalam ajang “De Omnibus Dubidantum” di Malang Creative Center (MCC). Pameran yang digelar pada 26–31 Januari mengangkat tema keraguan sebagai titik awal proses kreatif.
Karya yang dipamerkan merupakan hasil eksplorasi kreatif sekitar 70 mahasiswa dari berbagai jenjang semester, mulai semester satu hingga tujuh. Setiap peserta memamerkan dua hingga tiga karya terbaik mereka, merepresentasikan proses belajar sekaligus perkembangan artistik selama menempuh pendidikan.
Ruang pamer dipenuhi beragam medium dan pendekatan visual. Mulai dari karya nirmana, gambar bentuk, visual identity, hingga art & craft tersaji berdampingan.

Galeri foto menghadirkan potret kehidupan dari sudut pandang personal, sementara ragam hias Nusantara diolah dengan sentuhan kontemporer. Pameran poster lomba, ilustrasi terapan, art gaming, musik digital berupa remix lagu, hingga karya sinematografi turut memperkaya pengalaman visual dan audio pengunjung.
Setiap pengunjung yang memasuki area pameran juga akan didampingi mahasiswa yang bertugas sebagai pemandu. Mereka menjelaskan latar belakang karya, proses kreatif, serta gagasan yang ingin disampaikan para perupa muda. Pendampingan ini membuka ruang dialog langsung antara publik dan pencipta karya, menjadikan pameran terasa lebih interaktif.
Tak hanya menyuguhkan seni visual, area pamer juga dilengkapi sejumlah stand UMKM yang menawarkan produk kreatif, mulai dari buket bunga, kerudung berbasis multimedia interaktif, hingga merchandise eksklusif hasil rancangan mahasiswa.

Salah satu panitia, Bunga, menyebut kegiatan ini sebagai agenda tahunan kampus. “Event ini digelar setiap semester ganjil setelah UAS untuk menunjukkan karya-karya mahasiswa Asia kepada publik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pameran ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, memperluas jejaring, serta membangun kepercayaan diri.
Dengan akses terbuka bagi masyarakat luas, “De Omnibus Dubidantum” tak sekadar menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga ajakan untuk menyelami proses penciptaan karya yang berangkat dari keraguan dan berujung pada keberanian untuk berkarya. (*)
Pewarta: Sinta Nuriyah (MG)
| Pewarta | : TIMES Magang 2025 |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |