TIMES JATIM, SUMENEP – Sore itu, laut di sekitar Pelabuhan Sendhi tampak jinak. Ombak tak sampai setengah meter, angin bergerak pelan, seolah memberi isyarat aman bagi perahu-perahu kecil untuk keluar sebentar dari daratan. Di atas air yang tenang itulah Sahori, seorang nelayan kecil Pulau Raas, Kabupaten Sumenep menggantungkan harapannya.
Dengan perahu kayu sepanjang sekitar enam meter dan lebar tak lebih dari satu setengah meter, Sahori berlayar perlahan meninggalkan Desa Karang Nangka, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep. Jarak satu mil dari pelabuhan sudah cukup baginya. Lebih jauh dari itu, laut tak lagi ramah bagi perahu kecil tanpa teknologi.
Sekitar pukul 14.30 WIB, mata kailnya mulai dilempar. Hingga menjelang senja, pukul 16.45 WIB, Sahori memancing seorang diri, ditemani bunyi air dan perhitungan yang selalu sama: apakah sore ini cukup untuk besok.
“Kalau cuaca bagus, bisa melaut dua kali. Pagi dan sore,” kata Sahori, Jumat (30/1/2026).
“Tapi kalau angin kencang, ya tidak berani.”
Kalimat itu sederhana, tapi menjadi hukum tak tertulis bagi nelayan kecil di Pulau Raas. Tidak ada jadwal pasti, tidak ada target produksi. Yang ada hanyalah kompromi harian dengan alam.
11 Ekor Ikan dan Sebuah Sistem

Dari hampir dua jam memancing, Sahori membawa pulang 11 ekor ikan: tiga palding, tujuh bokko, dan satu momoten. Jumlah yang tergolong wajar bagi nelayan kecil dengan alat pancing manual dan tanpa bantuan mesin pencari ikan.
Hasil tangkapan itu langsung dibawa ke daratan. Tidak ada Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pulau Raas. Tidak ada mekanisme lelang. Tidak ada harga acuan.
Ikan dijual langsung ke warga sekitar.
Dalam musim ikan melimpah, harga ikan di Raas berkisar Rp10.000 per kilogram. Di luar musim, harga bisa melonjak hingga Rp20.000. Namun fluktuasi harga itu sepenuhnya ditentukan oleh kondisi lokal—bukan pasar nasional, apalagi internasional.
Jika hasil tangkapan cukup banyak dan kapal pengangkut tersedia, nelayan baru bisa menjual ke pengepul untuk dikirim ke Pulau Jawa atau Bali. Tetapi keterbatasan transportasi membuat peluang itu tidak selalu hadir.
“Kalau sedikit, dijual ke warga. Kalau banyak dan ada kapal, baru ke pengepul,” ujar Sahori.
Di titik inilah kerentanan nelayan kecil terlihat jelas: mereka tidak hanya bergantung pada laut, tetapi juga pada keberuntungan logistik.
Seratus Perahu Kecil, Enam Puluh Kapal Besar

Pelabuhan Sendhi menjadi rumah bagi sekitar 100 nelayan dengan perahu kecil seperti milik Sahori. Di sisi lain, terdapat sekitar 60 kapal besar yang melaut lebih jauh, menembus perairan luar hingga ke Pagerungan.
Tidak semua nelayan kecil memiliki akses ke kapal besar. Sebagian harus tetap bertahan di perairan sekitar pulau, dengan risiko hasil tangkapan yang terbatas.
Musim paling menguntungkan biasanya datang antara Januari hingga Maret. Di luar itu, banyak nelayan kecil memilih ikut sebagai awak kapal besar—jika ada kesempatan. Jika tidak, mereka menunggu, atau beralih profesi sementara.
Melaut, Bertani, Mengangkut Pasir
Bagi Sahori, laut bukan satu-satunya sandaran hidup. Ketika cuaca tak bersahabat atau hasil tangkapan menipis, ia menjadi petani. Di waktu lain, ia mengoperasikan mobil pikap untuk mengangkut pasir, batu, dan material bangunan.
Pola kerja ganda ini lazim di Pulau Raas. Nelayan kecil tak punya kemewahan untuk hanya bergantung pada satu sumber penghasilan.
Pendapatan Sahori rata-rata sekitar Rp150.000 per hari. Dalam kondisi tertentu, jika bisa melaut dua kali, angka itu bisa melonjak hingga Rp600.000. Namun tidak ada jaminan kesinambungan. Semua kembali pada cuaca, musim, dan keberuntungan.
Anak Nelayan dan Pendidikan Tinggi
Di tengah segala keterbatasan itu, Sahori menyimpan kebanggaan yang jarang dibicarakan dalam statistik kemiskinan pesisir. Dari hasil melaut dan kerja sambilan, ia berhasil menyekolahkan satu anak hingga jenjang S2. Anak lainnya kini menempuh pendidikan di pondok pesantren.
“Kerja di laut memang tidak pasti,” katanya pelan.
“Tapi saya bersyukur bisa menyekolahkan anak-anak.”
Pernyataan itu menjadi kontras tajam dengan minimnya dukungan struktural yang diterima nelayan kecil. Bantuan dari pemerintah desa berupa tali dan alat pancing memang pernah ada, tetapi belum rutin dan belum menjawab persoalan utama: akses pasar, infrastruktur, dan perlindungan ekonomi.
Potret Pesisir yang Bertahan
Kisah Sahori bukan cerita tunggal. Ia adalah representasi keseharian nelayan kecil di Pulau Raas—melaut dengan perahu kecil, menjual ikan tanpa TPI, bertaruh pada cuaca, dan menambal hidup dengan pekerjaan lain.
Di laut yang tampak tenang, ada ketidakpastian yang terus berulang. Dan di balik 11 ekor ikan sore itu, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: sampai kapan nelayan kecil hanya diminta bertahan, tanpa pernah benar-benar diberdayakan?
Pulau Raas terus hidup dari laut. Tetapi tanpa kehadiran negara yang lebih nyata, laut hanya akan menjadi ruang bertahan—bukan ruang sejahtera.(*)
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Imadudin Muhammad |