https://jatim.times.co.id/
Berita

Ketika NU Dibaca dari Kursi Penonton

Sabtu, 07 Februari 2026 - 18:48
Ketika NU Dibaca dari Kursi Penonton Ilustrasi.

TIMES JATIM, MALANG – Jelang Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad NU di Stadion Gajayana Malang, 7-8 Februari 2026 hari ini, ada tulisan sensasi dari Dahlan Iskan di medianya. Judulnya sederhana. Jakarta Malang.

Tulisan itu menarik. Gaya dan bahasanya. Namun juga terasa seperti makan kulit durian saja. Tanpa daleman. Apalagi itu dalemannya Nahdlatul Ulama (NU).

Itu karena fakta tentang NU sebagai itu sangat dalam. Apalagi jika serius mendalaminya. Dengan jadi pengurus. Misalnya.

Benar-benar pengurus lho ya. Bukan cari-cari pijakan dengan jadi pengurus. Atau pernah terbuang dari pengurus. 

Walau itu hanya pengurus ranting. Tingkat desa. 

Begini kira-kira. Ada orang-orang yang terlalu lama berdiri di tepi sungai. Lalu merasa sudah paham arusnya. 

Mereka action. Melihat permukaan yang beriak. Mencatat arah aliran. Menghitung perahu yang lewat. 

Selesai. Lalu menulis kesimpulan tentang gunung di hulunya. Padahal mereka tak pernah benar-benar turun ke air.

NU itu aliran airnya. Maka membaca NU dengan cara seperti itu selalu berisiko. Walhasil, opini yang menjadikan NU seolah drama dua panggung memperlihatkan satu hal yang lebih dalam dari sekadar analisis keliru. Cara pandang yang terlalu percaya pada pengalaman personal sendiri. 

Seolah pengalaman menjabat. Menulis. Bergaul dengan elite. Itu sudah cukup untuk mengerti sebuah jam’iyah yang hidup dari dapur-dapur pesantren.

NU bukan lahir dari meja redaksi. NU lahir dari tikar-tikar ngaji.

Maka cukup terasa ada nada dalam tulisan itu yang terasa familier. Nada orang yang merasa telah “cukup lama tahu”. Ada yang tak tampak kalau ada wilayah-wilayah yang memang tidak tunduk pada logika pengamat. 

NU bukan hanya objek liputan. NU itu subjek sejarah yang sering memilih diam ketika disimpulkan terlalu cepat.

Contoh. Ketika dua perayaan Harlah Satu Abad NU Kalender Masehi dijadikan bukti tak terjembataninya NU, itu yang tampak adalah kebiasaan lama dunia opini. Mengubah peristiwa menjadi simbol tunggal. Lalu memaksanya menanggung makna yang terlalu besar.

Ini bukan kesalahan data. Ini kesalahan kedalaman.

Menarik NU ke dalam tafsir kehadiran presiden adalah refleks khas orang yang lama hidup di orbit kekuasaan. Di sana, siapa datang dan siapa absen selalu bermakna politik. Masalahnya, NU tidak selalu bergerak dengan kamus itu.

NU tidak cemas jika tidak didatangi. NU sudah terlalu tua dan dalam untuk merasa perlu disahkan oleh kehadiran siapa pun.

Ada kesan kuat bahwa NU dalam opini itu diperlakukan seperti institusi modern yang harus “tampak rukun” di satu panggung. Padahal NU tidak pernah berjanji untuk selalu tampak rapi. 

NU hanya berjanji untuk tetap utuh. Dan itu sering dikerjakan dengan cara yang tidak enak dilihat dari luar.

Di sinilah batas pengalaman personal mulai terasa. Pengalaman panjang memang melatih insting. Tapi insting yang terlalu sering benar bisa berubah menjadi jebakan. Merasa tahu bahkan ketika yang dihadapi bukan lagi medan lama. 

Sementara, NU bukan dunia lama yang bisa dibaca dengan kacamata lama. NU terus berubah dengan caranya sendiri. Bukan dengan cara yang selalu ramah bagi penonton.

Menyitir satu-dua tokoh untuk menyimpulkan keadaan NU juga menunjukkan satu bias klasik. Kecenderungan menganggap suara keras sebagai suara utama. 

Padahal di NU, suara paling menentukan sering justru yang paling pelan. Yang tidak dikutip. Yang tidak diwawancarai. Yang tidak punya kepentingan tampil. Yang tidak pernah ikut rapat, tapi ngopi melekan setelah rapat usai.

NU tidak dikendalikan oleh mereka yang paling sering berbicara tentang NU. 

Ada ironi ketika NU justru dinilai gagal bersatu karena perbedaan itu sendiri. Seolah-olah perbedaan adalah penyakit. Bukan mekanisme hidup.

Di NU, konflik bukan selalu tanda pecah. Kadang justru tanda sehat. Dan itu tidak bahaya.

Yang berbahaya di NU bukan perbedaan. Justru keinginan memaksakan keseragaman tafsir dari luar.

Karenanya, opini yang terlalu cepat memberi vonis “tak bisa dirukunkan” memperlihatkan ketidaksabaran yang khas dunia media. Segala sesuatu harus segera selesai. Segera jelas. Segera diberi judul. 

Padahal NU tidak bekerja untuk kepuasan headline. NU bekerja untuk waktu panjang. Untuk warisan.

Dan di titik ini, pengalaman sebagai penulis berpengaruh justru menjadi pisau bermata dua. Semakin lama seseorang terbiasa menafsirkan, semakin besar godaan untuk mengira tafsirnya adalah kenyataan itu sendiri.

Sementara, NU tidak pernah tunduk sepenuhnya pada tafsir siapa pun.

NU adalah jaringan silat. Bergerak tanpa perlu menjelaskan. NU punya jaringan silo. Mampu berbeda tanpa harus pecah. 

NU juga punya jalur silem. Diam tanpa kalah. 

NU juga punya area sambat. Mengeluh tanpa membubarkan diri. Dan ya, ada NU ada sampyoh. Yang ingin merusak, tapi tak pernah benar-benar menentukan arah.

Mereka yang mencoba membaca NU hanya dari acara besar. Angka kehadiran. Atau gestur kekuasaan. Mereka sesungguhnya sedang membaca bayangan NU. Bukan tubuhnya.

NU tidak menolak dikritik. Tapi NU selalu menuntut satu hal dari para pengamatnya: kerendahan hati epistemik. Sebuah kesadaran bahwa ada dunia yang tidak sepenuhnya bisa dikuasai oleh pengalaman personal. Seberapa panjang pun pengalaman itu.

NU tidak hidup di kalender Masehi atau Hijriah saja. NU hidup di waktu yang lebih panjang. Waktu pesantren. Waktu kiai.Dan, waktu jamaah. 

Di sana, persatuan tidak selalu tampil dalam satu foto. Kadang NU bekerja diam-diam, seperti akar bambu. Tidak terlihat. Tapi saling menguatkan.

NU tidak sedang kehilangan persatuan. Yang kadang hilang justru kesabaran orang luar untuk membiarkan NU menyelesaikan urusannya dengan bahasanya sendiri.

Dan sejarah membuktikan: NU selalu selesai. Tanpa harus meyakinkan semua penonton.

Meski, ada yang mampu mengenang memori dua tahun lalu. Saat ada yang terjebak di tol. Tidak bisa masuk ke lokasi Harlah 1 Abad NU di Stadion Sidoarjo. Yang ketua panitianya Erick Tohir itu. Lalu, pilih ngevlog di tol. Juga kenangan politik dan ekonomi: tidak lagi bisa mendekat ke wilayah BUMN lagi. (*)

Pewarta : Theofany Aulia (DJ-999)
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.