TIMES JATIM, SURABAYA – Keberadaan penyandang disabilitas masih jarang tersentuh oleh program-program bernilai produktif. Padahal, mereka masih memiliki potensi besar untuk berdaya, mengasah skill maupun knowledge dalam dunia entrepreneurship. Oleh karena itu, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Sahabat Mustahiq mengambil peran penting dengan menggandeng penyandang disabilitas agar menekuni dunia kreatif digital melalui program DigitaBilitas (Digital Training untuk Disabilitas).
Program khusus dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif dan adil itu, bahkan telah meraih penghargaan Zakat Award Platinum.
Dalam paparan public expose bersama mitra, Sahabat Mustahiq kembali mengenalkan program digital training tersebut secara mendalam serta gambaran dampak berkelanjutan.
Menurut Chief Program dan Marcom Officer LAZ Sahabat Mustahiq, Riski Karyanto, porsi lembaga zakat membantu disabilitas di Indonesia masih sangat minim sehingga memerlukan sentuhan kepedulian berupa pemberdayaan.
"Bahkan, angkanya di bawah 1 persen kalau menurut kami. Jadi, program disabilitas diapresiasi penuh untuk lebih bisa kita fokuskan juga di Indonesia khususnya," kata Risky saat agenda "Silaturahmi dan Konsolidasi Akbar 2026" di Auditorium Sahabat Mustahiq Surabaya, Sabtu (7/2/2026).

Ia berharap Sahabat Mustahiq bisa menjadi inspirator pendistribusi zakat bagi disabilitas khususnya yang berada dalam kondisi latar belakang ekonomi rentan atau dhuafa. Keterbatasan fisik bukanlah penghalang menumbuhkan kekuatan, kreativitas, dan semangat juang mereka.
"Tujuannya, agar hidupnya mandiri, lebih berdaya dan sejahtera," ujarnya.
Riski menjelaskan, Sahabat Mustahiq memahami bahwa disabilitas kerap kesulitan mencari pekerjaan, mengalami penolakan, dan ironisnya masih sangat jarang lembaga zakat menyalurkan bantuan kepada mereka.
"Padahal, ketika mereka menjalani hidup, disabilitas ini rentan untuk depresi bahkan hingga bunuh diri, jadi harus pendampingan penuh," ucapnya.
Lembaga Zakat Sahabat Mustahiq memastikan program digital training dan pemberdayaan untuk disabilitas akan terus berjalan.
Sejak dua tahun terakhir, pelatihan tersebut sudah menyasar disabilitas di wilayah Jawa Timur bekerjasama dengan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Komunitas PPDI, dan lainnya. Keterbatasan penyandang disabilitas menjalani mobilitas menjadi alasan utama mengapa Sahabat Mustahiq menelurkan digital training.
Sementara pada kesempatan public expose dan pertemuan strategis LAZ Sahabat Mustahiq ini, turut dihadiri oleh jajaran mitra kerja serta Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk memperkuat sinergi kolektif lembaga.

Agenda utama konsolidasi difokuskan pada sinkronisasi koordinasi kerja tahunan guna memastikan seluruh program berjalan selaras dengan prinsip tata kelola zakat yang akuntabel.
Selain itu, pertemuan ini menjadi momentum krusial dalam melakukan koordinasi pra-Ramadhan dan Qurban 2026.
Pembahasan mendalam dilakukan terkait kesiapan teknis, pemetaan sebaran manfaat, hingga memastikan seluruh rangkaian ibadah sosial mendatang memenuhi standar kepatuhan syariah yang ditetapkan oleh Dewan Pengawas.
"Melalui konsolidasi ini, LAZ Sahabat Mustahiq berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan bagi muzakki dan memperluas jangkauan manfaat bagi para mustahiq," terang Riski Karyanto.
Sinergi antara mitra dan pengawas juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem pengelolaan filantropi Islam yang lebih profesional, transparan, dan berdampak luas bagi kemaslahatan umat di tahun 2026. (*)
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |