TIMES JATIM, SURABAYA – Ratusan pejuang dua garis memadati acara talkshow edukasi Hamil Bisa, Bertahan Tidak yang digelar oleh komunitas ‘Menuju Dua Garis’ di Surabaya, Sabtu (7/2/2026). Acara ini menyoroti fenomena keguguran berulang yang kerap menjadi momok bagi pasangan suami istri, namun sering kali minim diagnosa yang tepat.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. Uma Mariappen, seorang Consultant Obstetrician & Gynaecologist serta Fertility Specialist dari Malaysia.
Dalam sesi ini, Dr. Uma menekankan bahwa kehadirannya murni untuk berbagi ilmu dan inspirasi medis, mematuhi regulasi untuk tidak melakukan praktik konsultasi klinis secara langsung.
Dr. Uma membedah kompleksitas medis di balik keguguran. Ia menjelaskan bahwa keguguran bukan sekadar nasib, melainkan indikasi adanya gangguan sistemik seperti Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), endometriosis, masalah autoimun, hingga kelainan genetik.
Secara khusus, ia menyoroti PCOS—gangguan metabolisme yang dialami satu dari empat Wanita sebagai salah satu penyebab utama yang sebenarnya bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup tanpa ketergantungan obat berlebih.
"Bila berat badan turun 5 persen saja, resistensi insulin berkurang, ovulasi akan terjadi, dan pasien bisa mengandung secara alami," ungkap Dr. Uma.
Dr. Uma Mariappen menekankan perubahan gaya hidup dan penurunan berat badan sebagai kunci memicu kehamilan alami. (Foto: Shinta/TIMES Indonesia)
Selain solusi medis, Dr. Uma juga memberikan panduan waktu yang tegas bagi pasangan yang sedang berikhtiar, agar tidak membuang waktu dalam ketidakpastian.
"Jika umur di bawah 35 tahun, kami beri masa setahun mencoba alami. Tapi jika di atas 35 tahun, enam bulan saja. Jika tidak berhasil, segera jumpa pakar," tegasnya.
Di sisi lain, pendiri komunitas Menuju Dua Garis, Mizz Rosie, menyoroti aspek sosial yang tak kalah pelik. Ia mengkritisi stigma yang masih melekat kuat di masyarakat Indonesia, di mana beban infertilitas sering kali ditimpakan sepenuhnya kepada pihak istri. Padahal, data medis membuktikan bahwa kontribusi ketidaksuburan terbagi rata antara pria dan wanita.
"Kasus infertilitas karena sperma itu 30 sampai 40 persen, wanita 30 sampai 40 persen, sisanya kombinasi. Jadi tidak adil jika wanita terus yang disalahkan," ujar Rosie.
Rosie menyayangkan fenomena di mana banyak suami enggan memeriksakan diri karena alasan ego atau malu. Ia menekankan bahwa menjadi pasien cerdas berarti kedua belah pihak harus proaktif mencari tahu kondisi medis masing-masing, bukan hanya pihak istri yang menjalani prosedur invasif.
"Analisa sperma adalah cek kesuburan yang paling mudah dan murah. Sangat miris jika istri sudah diperiksa macam-macam, tapi suami menolak hanya karena gengsi," pungkas Rosie.
Melalui kolaborasi edukasi ini, komunitas Menuju Dua Garis berharap dapat memutus rantai ketidaktahuan dan stigma, sekaligus mendorong pasangan suami istri untuk lebih kritis dan terbuka dalam perjalanan menjemput buah hati. (*)
| Pewarta | : Zisti Shinta Maharani |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |