TIMES JATIM, BLITAR – Kawasan RBK Kawedanan Wling, Blitar, kembali semarak dengan pelaksanaan Kebun Seni #11, Jumat (30/1/2026). Sejak pagi, pengunjung tampak memadati area festival budaya tahunan tersebut.
Berbeda dengan hari pertama, agenda hari kedua menitikberatkan pada edukasi budaya dengan melibatkan pelajar dari berbagai sekolah di Blitar. Sejumlah pertunjukan dirancang sebagai ruang pembelajaran sekaligus ekspresi seni bagi generasi muda.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan sesi olahraga bersama warga sekitar. Suasana pagi kemudian berlanjut dengan kompetisi mewarnai tingkat SD/MI sederajat serta lomba baca puisi. Kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan minat seni mereka.
Panitia pelaksana, Dinar Herindo Harya, mengapresiasi tingginya antusiasme peserta. Menurutnya, partisipasi aktif warga dan pelajar menjadi faktor penting keberhasilan setiap sesi acara.
Bupati Blitar, Drs. H. Rijanto, M.M., berfoto bersama di sela acara Kebun Seni #11. (Dok Panitia/Dhiya Ul Haqqi Yafi' Setiawan)
“Partisipasi warga dan pelajar Blitar sangat luar biasa dalam mendukung setiap sesi acara,” ujarnya.
Selepas jeda siang, panggung utama mulai dipersiapkan untuk pertunjukan wayang kulit yang dikemas dengan pendekatan edukatif dan interaktif, khususnya bagi generasi muda.
Regenerasi Budaya di Panggung Kebun Seni #11
Daya tarik utama hari kedua terletak pada penampilan para dalang muda. Melalui Kebun Seni #11, panitia secara khusus membuka ruang regenerasi bagi seniman tradisi di Blitar.
Sesi siang dibuka oleh Aio Phobos Edar Cahyau, siswa SMPN 3 Ngantang, yang membawakan lakon Wiratha Parwa dengan gaya penceritaan khas. Penampilan dilanjutkan Arkenji Guntur Putra dari SMPN 7 Blitar melalui lakon Gathutkaca Jedi yang mendapat respons positif dari penonton.
Sie Acara Kebun Seni #11, Kholam Shiharta, menegaskan bahwa panggung ini menjadi sarana pembentukan mental dan kepercayaan diri bagi para pelajar.
“Kami melihat potensi besar pada anak-anak muda ini dalam melestarikan wayang,” kata Kholam.
Selain pertunjukan, panitia juga menyisipkan sesi Edukasi Game Wayang sebagai upaya mengenalkan budaya tradisi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Sore hari, suasana kian cair dengan penampilan musik serta pantomim Yu-Mime yang menghibur pengunjung.
Sinergi Produksi dan Penampilan Malam
Duet musisi senior, Didik Teja dan Tatit Sulis, tampil enerjik menghibur pengunjung Kebun Seni #11. (Dok Panitia/Dhiya Ul Haqqi Yafi' Setiawan)
Memasuki malam hari, tata cahaya panggung tampil lebih dramatis. Tim produksi bekerja ekstra untuk memastikan kualitas visual dan audio mendukung jalannya pertunjukan wayang.
Achmad Rafi Mubaroq dari tim produksi menjelaskan bahwa tantangan teknis menjadi perhatian utama, terutama dalam pengaturan suara dan pencahayaan.
“Kami berusaha menyajikan visual dan audio terbaik untuk mendukung performa dalang cilik,” ujarnya.
Kualitas produksi yang optimal membuat penonton bertahan hingga malam. Slot malam diisi oleh Ahmad Javiero Bikha dari SMPN 2 Blitar yang membawakan lakon Gathutkaca Jedi, disusul Ahmad Nauval Muslimin dengan lakon Sesaji Rajasoya.
Rangkaian pertunjukan wayang ditutup oleh Arya Satya Sujoko dari SD Binangun 3 melalui lakon Bima Bungkus yang sarat nilai moral. Seluruh agenda hari kedua berjalan lancar dan tertib hingga selesai pada pukul 22.00 WIB.
Kebun Seni #11 masih akan berlanjut hingga Sabtu (31/1/2026). Panitia menjanjikan penutupan yang lebih meriah sebagai penanda akhir perhelatan budaya tahunan tersebut. (*)
Pewarta: Ardana Pramayoga
| Pewarta | : TIMES Magang 2025 |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |