https://jatim.times.co.id/
Berita

Berburu Vinyl di Pasar Nostalgia Bratang: Surga Audio Lawas dan Piringan Hitam Langka

Rabu, 21 Januari 2026 - 20:11
Merawat Memori Lama Lewat Koleksi Audio Tua dan Vinyl Langka di Pasar Nostalgia Surabaya Andit Kandiawan menunjukkan koleksi vinyl musisi Toto kepada Rafi Setyo Pancolo, salah satu pelanggan setia, Rabu (21/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, SURABAYA – Makin langka barang making tinggi harganya. Hukum ekonomi itu juga berlaku bagi piranti penghasil nada. Salah satunya piringan hitam atau vinyl records dan perangkat audio lawas.

Koleksi tersebut mempunyai basis penggemar tersendiri. Makin sulit dicari, semakin menambah kebanggaan bagi pemiliknya. Mereka berjejaring dalam sebuah komunitas yang kebanyakan merupakan pemain lama untuk saling bertukar informasi menemukan piringan hitam dengan klasifikasi tertentu.

Andit Kandiawan yang menyewa satu bidang kios di Pasar Nostalgia di Jalan Bratang Binangun Kota Surabaya, menawarkan pilihan berbelanja vinyl, kaset, CD, hingga perangkat audio vintage.

Koleksi-Audio-Tua-dan-Vinyl-b.jpgAndit Kandiawan menunjukkan koleksi turntable langka produksi awal tahun 1970 keluaran Switzerland, Rabu (21/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Meskipun dari luar tampak sepi, masih ada beberapa toko yang membuka usaha di pasar berjargon Antique Market ini.

Bagi pemburu audio lawas dan vinyl, kios milik Andit Kandiawan sudah sangat dikenal karena koleksinya berkualitas bagus. Kebanyakan pembelinya adalah kolektor yang penghobi.

“Semua harus berawal dari hobi,” kata Andit, Rabu (21/1/2026).

Pembeli di tokonya adalah orang-orang dengan catatan memori masa kecil keluarga. Tentang piringan hitam yang berputar mengeluarkan suara indah tak terlupakan begitu saja.

“Mereka merindukan masa itu, menyimpan dalam ruang khusus dan menikmatinya saat senggang sambil duduk santai,” ujarnya.

Koleksi terlangka yang ia miliki saat ini adalah turntable atau pemutar piringan hitam keluaran 1970-an dari Switzerland dengan fasad kayu tebal polished yang cemerlang, menandai tangan pemiliknya sangat telaten merawat guna terhindar dari korosi maupun debu.

Turntable tersebut memiliki nilai historis sebagai benda musik berharga milik para bangsawan pada zamannya. Masuk ke Indonesia pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an. Harga barunya pada saat itu sudah sangat mahal dan kini menjadi barang langka.

Pemilik pertama tak terlacak, Andit memperkirakan barang tersebut dibawa langsung karena pada masa itu belum ada jaringan importir turntable Switzerland. Kondisinya masih bagus dan original.

"Barangnya nggak beredar banyak hanya dimiliki kaum-kaum khusus," jelasnya.

Sementara total koleksi turntable yang ia miliki mencapai 20 unit dalam berbagai tahun produksi 1969-1970 awal. Sebagian ia jual mulai harga Rp4 jutaan dan sebagian ia koleksi sendiri.

Selain itu, juga ada amplifier dan backdeck. Hingga koleksi paling baru sekitar tahun 1990-an. Untuk koleksi vinyl ia menawarkan 500 lebih pilihan. 

Andit Kandiawan mengaku baru membuka kios di Pasar Nostalgia Surabaya sejak 2024 lalu. Sebelumnya ia menyimpan koleksinya di rumah.

Meskipun pasar mati suri dengan sedikit penghuni, Andit mengaku nyaman karena masih ada kawan komunitas dan beberapa toko barang antik lainnya di sana. Tokonya buka mulai pukul sebelas siang hingga sembilan malam.

"Komunitasnya di sini lebih pas, kalau di pasar lain mungkin saya nggak ada temannya. Di sini masih ada penjual barang-barang tua," ucapnya.

Sementara dalam pemasaran, Andit masih mengandalkan penjualan online yang ia posting di akun media sosial. Pengiriman barang diproses secara teliti menggunakan packing sterofoam dan kayu demi memastikan pesanan sampai dalam kondisi sempurna.

"Pemasaran nomor satu kita tetap mengandalkan online. Jadi, kalau ada orang beli retail bisa saya kirim dari sini," ungkap Andit yang mencatat jumlah pembeli terbanyak berasal dari dalam negeri, seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor.

Koleksinya dijual dengan harga beragam. Untuk vinyl mulai harga Rp200.000 hingga Rp1.500.000. Contoh album vinyl termahal adalah album Teressa Teng, seorang penyanyi legendaris asal Taiwan yang menguasai multibahasa. Mandarin, Inggris, Jepang, Vietnam, Kanton, Hokkien, bahkan Indonesia.

"Kriteria albumnya semakin baik, semakin langka, harga semakin mahal," ungkapnya.

Sedangkan harga perangkat audio seperti tape recorder mulai dari Rp1 juta. Sekitar 90 persen masih berfungsi dengan baik. 

Koleksi-Audio-Tua-dan-Vinyl-c.jpgAndit Kandiawan membuka kios audio dan vinyl langka di Pasar Nostalgia Jalan Bratang Binangun Surabaya, Rabu (21/1/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Kolektor yang rata-rata berusia 50 tahun ke atas adalah orang-orang tertentu yang tidak sekadar berburu, tetapi juga bersenang-senang mengenang waktu muda mereka ketika alat-alat itu adalah teknologi terdepan di masanya.

Kebanyakan kolektor akan memainkan piringan hitam di atas turntable sambil mengenang memori lama. 

"Penggemarnya audio vintage ini masih banyak, jadi mereka suka sama produk lama karena kuat, bandel, kualitasnya bagus," ucapnya.

Sedangkan bagi kolektor muda, mereka ingin merasakan sesuatu yang belum pernah mereka lihat di masa ini. Kepemilikan barang antik memang bukan cuma berbicara prestis, tetapi semua berawal dari hobi. 

"Semua berawal dari hobi, mungkin nanti paling tinggi tingkatannya prestis. Mereka akan bangga kalau punya barang yang bagus dan sulit ditemukan," terang pria kelahiran 1976 yang juga memiliki hobi audio sejak SMA ini. Dari hobi, jadi kolektor, dan kini membuka toko sendiri.

"Saya bukan musisi, saya hanya penikmat audio," sambungnya seraya tersenyum.

Merawat Sepenuh Hati

Andit selalu menyempatkan waktu melakukan pengecekan ulang berkala terhadap seluruh koleksinya. Misal memeriksa kondisi komponen amplifier jika diperlukan, kemudian mengganti atau replace komponen agar tetap berfungsi dengan baik. 

"Agar performanya jadi bagus lagi, body tetap," kata dia.

Proses replace komponen tak akan mengurangi harga dan nilai kelangkaan karena tujuan fungsional yang dibutuhkan oleh kolektor.

"Memang sudah waktunya ganti karena misal sudah berumur lima puluh tahun," terang pria asli Solo yang sejak kecil tumbuh besar di Surabaya.

Dalam pandangan lain, Andit Kandiawan melihat bahwa bisnis barang antik seperti yang ia lakoni sekarang memang menawarkan kepuasan tersendiri bagi penghobi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa terjun dalam bisnis barang langka juga harus tahan banting.

"Karena nggak selalu tiap hari lalu, kadang sebulan laku sekitar delapan sampai sepuluh item. Pernah juga tidak laku sama sekali," demikian ia mengisahkan.

Ia berpesan bagi siapa saja yang ingin terjun dalam bisnis barang antik, harus mengawalinya dari hobi. Sebab penghobi pasti akan mempelajari yang ia sukai.

"Harus hobi dulu, kalau nggak hobi pasti susah. Kalau tidak karena hobi, sense di dalam diri kita ini nggak akan paham dalam menganalisis pasar," tandasnya.

Di tengah kemajuan teknologi yang mulai bermetamorfosis ke arah musik digital, Andit justru menatap masa depan market audio dan vinyl tua dengan penuh harapan.

"Saya kira penggemarnya masih akan ada regenerasi. Anak-anak muda sekarang saya amati lumayan juga mulai menggemari, banyak sekali. Alasan mereka membeli karena saat mereka lahir, barang-barang ini sudah nggak musim, mereka ingin tahu. Terutama tape kaset, anak muda semua yang nyari karena harganya murah, gampang didapat," ucapnya seraya menunjukkan koleksi Walkman atau pemutar kaset portable berdaya baterai yang populer pada era 1990-an. 

Mengoleksi Demi Menebus Memori Lalu 

Salah satu kolektor pelanggan Andit Kandiawan adalah Rafi Setyo Pancolo. Ia mengakui mengoleksi berbagai audio vintage dan vinyl seperti amplifier, speaker, tape recorder, hingga equalizer mulai tahun 1970-an. Semua benda yang ia koleksi adalah bagian dari 'penebusan masa lalu'. 

"Saya mengoleksi karena kenangan masa lalu. Dulu bapak saya punya audio-audio lama seperti ini. Terus waktu itu ada keperluan mungkin dijual sama orang tua saya, akhirnya di memori saya mengatakan suatu saat saya pasti akan beli lagi," ucapnya.

Salah satunya, ia beruntung bisa mendapatkan koleksi berkategori rare alias langka yaitu seri Sansui. Ini merupakan merek elektronik asal Jepang yang didirikan pada tahun 1947. Pabrikan tersebut dikenal sebagai produsen audio berkualitas tinggi seperti amplifier dan receiver.

"Kondisinya masih bagus, original, dan berfungsi dengan baik. Saya punya koleksi tahun 1970-an," ungkap Prasetyo yang bercerita bagaimana ia menghabiskan waktu luang dengan menikmati alunan musik.

Bersama Andit Kandiawan, Prasetyo juga mendapat pelajaran penting literasi gratis tentang dunia audio. Sampai ia menguasai kategori audio low end, medium, hingga high end dan mana di antaranya yang benar-benar layak dikoleksi.

"Tapi sesuai kebutuhan, karena kadang telinga orang beda-beda. Rasa atau feel terhadap alat juga berbeda. Ini disarankan sama Om Andit bahwasanya turuti saja apa yang kamu rasakan, feel kamu di mana. Kalau meskipun murah feel mu dapat juga nggak apa-apa, jangan hanya mengejar gengsi terus beli yang mahal, tapi kamu sebenarnya nggak menikmati itu," katanya menirukan nasihat Andit.

Prasetyo pun menyimpan koleksinya dalam kamar khusus. Tempatnya menikmati audio seorang diri. Seringkali saat malam tiba, piringan hitam berputar tanpa perlu meninggikan volume.

"Saya rasa dengan volume secukupnya kalau kita sudah merasa nyaman, ya cukup bagi saya. Kayak kembali ke masa lalu. Itu yang saya rasakan," ungkapnya.

Bicara soal hobi yang menguras isi dompet, Prasetyo mencoba terbuka dengan sang istri. Alhasil, mendapat izin dan masih berlanjut sampai sekarang. Sebagaimana era piringan hitam yang belum berakhir hingga hari ini. 

"Sebenarnya hobi kayak begini bisa mengundang kecanduan, tetapi memang nyaman. Kalau kita lagi sumpek, lalu mendengarkan audio lama dengan vinyl-vinyl yang lama, kita merasa tenang," kata penyuka band rock Deep Purple dan REM ini.

Jika Anda tertarik mengoleksi audio dan vinyl langka seperti Prasetyo, bisa menghubungi Andit Kandiawan di akun Facebook dan TikTok Om Andit Custom atau nomor WhatsApp 085608390298. Bisa juga datang langsung ke Pasar Nostalgia Surabaya. (*)

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.