TIMES JATIM, JAKARTA – Tetsuya Yamagami, 45, pria yang membunuh mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, Rabu (22/1/2026) siang tadi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di Pengadilan Distrik Nara di kota Nara.
Bulan Juli 2022 lalu, Tetsuya Yamagami menembak Shinzo Abe dengan senjata rakitan, saat mantan Perdana Menteri itu melakukan kampanye di kota Nara di siang bolong.
Penembakan itu mengejutkan dunia, dan vonis yang dijatuhkan terhadap Tetsuya Yamagami sesuai dengan tuntutan jaksa.
Putusan tersebut mengakhiri persidangan Yamagami atas pembunuhan mantan perdana menteri selama rapat umum kampanye politisi berpengaruh itu di Nara.
Sejak awal persidangan, yang dimulai pada akhir Oktober, Yamagami mengaku bersalah atas pembunuhan dan tuduhan lainnya , termasuk pembuatan bubuk mesiu dan perusakan properti.
Dalam persidangan, Yamagami mengaku bahwa kepercayaan buta ibunya pada Gereja Unifikasi dan sumbangan tanpa henti yang diberikannya telah menghancurkan keluarganya dan membuatnya ingin menargetkan mantan perdana menteri, yang dianggapnya sebagai sekutu kelompok tersebut.
Saat Hakim Ketua, Shinichi Tanaka membacakan vonis, Yamagami duduk diam, menunjukkan sedikit emosi dan menunduk.
Tanaka mengatakan, meskipun terdakwa mengalami serangkaian peristiwa tragis dalam hidupnya, hal itu bukanlah alasan untuk diberikan keringanan hukuman.
"Penembakan itu sangat tercela dan sangat jahat," katanya.
"Pada saat dia mulai melakukan serangkaian tindakan kriminal (termasuk membuat senjata), dia sudah berusia 40-an dan menjalani kehidupan mandiri sebagai orang dewasa. Dia sangat memahami sifat antisosial dari merenggut nyawa orang lain, karena dia sendiri telah mengalami kematian kakak laki-lakinya dan merasakan guncangan yang hebat," katanya lagi.
Sementara itu salah satu dari empat pengacara dalam tim pembela, Kohei Matsumoto mengatakan, sangat disayangkan bahwa pengadilan mempertimbangkan latar belakang Yamagami ada hubungannya pada penembakan tersebut, meskipun pihak pembela berpendapat bahwa hal itu memotivasi serangan tersebut.
Para pengacara pembela mengatakan mereka akan berdiskusi dengan Yamagami, apakah akan mengajukan banding.
"Dampak Gereja Unifikasi terhadap keluarganya-lah yang berhubungan langsung dengan motifnya, bukan hanya faktor latar belakang," tambah pengacara pembela yang lain, Takashi Fujimoto.
Tiga hakim awam yang mengadakan konferensi pers setelah putusan tersebut mengatakan bahwa mereka tidak kesulitan memahami fakta-fakta seputar kasus tersebut, meskipun tekanan untuk mengadili kasus yang sangat terkenal seperti itu sangat besar.
"Ini adalah persidangan kasus pembunuhan, dan memutuskan (nasib) seseorang adalah proses yang menegangkan,” kata seorang hakim awam berusia 50-an.
Jaksa penuntut mengatakan mereka puas dengan putusan tersebut.
"Kami yakin pengadilan menerima argumen jaksa penuntut umum baik mengenai fakta maupun hukuman," ujar wakil kepala jaksa penuntut umum di Kantor Kejaksaan Distrik Nara,
Hiroyuki Omae.
Pembunuhan terhadap mantan perdana menteri Jepang yang menjabat paling lama di negara itu dimana kejahatan bersenjata sangat jarang terjadi, tidak hanya mengejutkan dunia tetapi juga memicu kritik keras terhadap eksploitasi finansial dan psikologis para pengikut oleh kelompok-kelompok agama dan hubungan para anggota parlemen dengan kelompok-kelompok tersebut .
Yamagami mengatakan kepada pengadilan selama persidangannya bahwa ia merasa "putus asa dan berada dalam krisis" karena hubungan Abe dengan gereja, yang secara resmi disebut Federasi Keluarga untuk Perdamaian dan Unifikasi Dunia, setelah melihat Abe mengirimkan pesan video ucapan selamat kepada kelompok yang berafiliasi dengan gereja pada tahun 2021.
Setelah dua kali gagal menyerang anggota senior gereja dengan pisau dan bom molotov pada tahun 2018 dan 2019, Tetsuya Yamagami mulai membuat senjata sendiri pada tahun 2020. Pada saat itu, targetnya adalah para pemimpin gereja terkemuka, bukan mantan perdana menteri.
Yamagami mengatakan bahwa ia mengubah targetnya menjadi Abe hanya beberapa hari sebelum penembakan, karena menyadari bahwa anggota senior gereja tidak datang ke Jepang ditengah pembatasan perjalanan akibat COVID-19.
Krisis keuangan pribadinya, setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya dan utang yang menumpuk, juga mendorong Tetsuya Yamagami menyerang Shinzo Abe.(*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Imadudin Muhammad |