https://jatim.times.co.id/
Opini

Rest Area, Harapan Pemberdayaan UMKM atau Hanya Fasilitas Kosong?

Minggu, 25 Januari 2026 - 08:02
Rest Area, Harapan Pemberdayaan UMKM atau Hanya Fasilitas Kosong? Kendaraan melaju kencang di JLS yang masuk Kecamatan Wonotirto. Jalan sudah mulus. (FOTO: Istimewa)

TIMES JATIM, BLITAR – Rest Area seluas 3 hektar yang akan berdiri di perbatasan Kecamatan Bakung (Blitar) dan Kecamatan Sine (Tulungagung) bukan sekadar fasilitas pendukung jalan raya. Letaknya yang strategis di persimpangan trase JLS yang menghubungkan berbagai wilayah membuatnya menjadi titik temu potensial bagi pergerakan orang dan barang. Direncanakan tidak hanya memiliki fasilitas dasar seperti tempat parkir, kamar mandi, dan ruang istirahat, tetapi juga difungsikan sebagai gerbang promosi produk lokal dengan lebih dari 50 kios yang akan diberikan kepada UMKM terpilih. Produk khas yang akan menjadi fokus antara lain keripik tempe khas Blitar yang sudah dikenal luas, dodol dengan cita rasa khas daerah, serta makanan laut olahan dari wilayah pesisir yang selama ini kesulitan menjangkau pasar luar daerah.

Dukungan Pemprov dari Pelatihan sampai Infrastruktur Penunjang

Kontribusi Gubernur Khofifah dalam mendukung UMKM tidak hanya sebatas ucapan apresiasi. Tahun 2025 saja, lebih dari 1.200 pelaku UMKM di wilayah Jawa Timur bagian selatan mendapatkan pelatihan komprehensif yang mencakup standarisasi produk, manajemen usaha, hingga prosedur pengurusan izin. 

Hasilnya sangat memuaskan – sebanyak 30 produk berhasil mendapatkan izin PIRT (Pendirian Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal, yang menjadi modal penting untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain itu, rencana pembangunan pusat pembelanjaan produk UMKM yang terletak di dekat rest area menjadi langkah cerdas. Fasilitas ini akan berfungsi sebagai "ekstensi" dari Rest Area, yang tidak hanya menjual produk secara langsung tetapi juga dapat menjadi tempat untuk pengemasan, penyimpanan sementara, dan bahkan pemesanan secara daring. 

Namun, Gubernur juga mengangkat kekhawatiran yang krusial: munculnya potensi warung liar di sepanjang trase JLS yang bisa mengganggu ketertiban dan menjadi kompetisi tidak sehat bagi UMKM yang sudah terdaftar. 

Untuk mengatasi ini, telah dilakukan serangkaian sosialisasi kepada para pedagang liar, memberikan pemahaman tentang manfaat berjualan di rest area seperti akses fasilitas yang lebih baik, keamanan yang terjamin, dan peluang untuk mendapatkan pelatihan serta bantuan dari pemerintah.

Memastikan Keadilan dan Kepemilikan Lokal

Salah satu kekhawatiran utama masyarakat terhadap proyek infrastruktur besar adalah kemungkinan keuntungan dirampok oleh pihak luar. Namun, Administratur Perum Perhutani KPH Blitar Muklis In memberikan jaminan tegas bahwa rest area akan benar-benar menjadi milik dan untuk kemajuan UMKM lokal. 

Ia menegaskan bahwa proses seleksi pemilik kios akan dilakukan secara transparan melalui mekanisme yang jelas dan terbuka, dengan kriteria yang objektif seperti kualitas produk, kelengkapan izin, dan komitmen untuk menggunakan bahan baku lokal.

Perum Perhutani sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam pengelolaan juga akan mengawasi agar tidak ada pedagang besar dari luar daerah yang mengambil alih kios dengan cara tidak jujur.Langkah ini penting untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari rest area benar-benar merata dan dirasakan oleh masyarakat setempat yang selama ini telah mendukung pembangunan JLS.

Potensi Besar yang Perlu Ditunjang Komitmen Koheren

Potensi Rest Area JLS Blitar-Tulungagung untuk mengubah nasib ekonomi UMKM lokal tidak diragukan lagi. Dengan akses yang lebih baik ke pasar, dukungan dari pemerintah, dan pengelolaan yang tepat, rest area bisa menjadi contoh sukses bagaimana infrastruktur nasional dapat memberikan manfaat langsung kepada rakyat kecil. .

Namun, keberhasilannya tidak akan datang dengan sendirinya – ia tergantung pada komitmen bersama dari semua pihak: pemerintah yang harus konsisten dalam memberikan dukungan, pengelola yang menjalankan tugasnya dengan adil dan transparan, serta para pelaku UMKM yang harus terus meningkatkan kualitas produk dan kemampuan usaha mereka.

Jika semua ini dapat diwujudkan, rest area tidak akan menjadi fasilitas kosong yang hanya digunakan untuk istirahat, melainkan sebagai mesin ekonomi yang hidup dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga di Blitar dan sekitarnya. (Bersambung ke laporan 3). (*)

***

* Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Aktif di PW ISNU

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.