TIMES JATIM, SITUBONDO – Langkah tanggap darurat terus dipacu oleh Pemkab Situbondo demi memulihkan kondisi pasca-bencana. Selain memastikan kebutuhan pokok warga terpenuhi lewat penyaluran sembako, pemerintah juga tengah menyusun anggaran untuk memulihkan infrastruktur untuk masyarakat yang terisolasi.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyatakan kondisi warga di wilayah terisolasi akibat rusaknya infrastruktur pascabencana sudah sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan cepat. Sedikitnya 1.500 jiwa terjebak tanpa akses keluar-masuk karena seluruh jembatan dan jalan penghubung terputus.
“Di sana ada sekitar 1.500 jiwa yang tidak bisa pergi ke mana-mana karena benar-benar terisolasi. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan harus segera ditangani,” kata pria yang akrab disapa Mas Rio saat meninjau ke lokasi terdampak bencana di Desa Wringin Anom, Kecamatan Jatibanteng, Situbondo, Sabtu (24/1/2026).
Pantauan di lapangan, Mas Rio meninjau langsung lokasi dengan menyusuri alur sungai karena tidak ada lagi jalur darat yang bisa dilalui. Seluruh jembatan tampak putus, sementara badan jalan hancur dan tidak dapat dilewati kendaraan maupun pejalan kaki.
Warga angkat motor karena akses putus pasca bencana.(FOTO : Pemkab Situbondo For TIMES Indonesia)
Menurut Mas Rio, keterisolasian wilayah tersebut membuat distribusi bantuan dan layanan dasar menjadi sangat terbatas. Kendati demikian, ia memastikan pemerintah daerah tetap menyalurkan bantuan.
"Kita tetap berupaya melakukan penanganan darurat meskipun dengan berbagai keterbatasan," jelasnya.
Untuk tahap awal, pemerintah menyalurkan bantuan logistik berupa sembako guna memenuhi kebutuhan dasar warga. Bantuan tersebut diprioritaskan sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga ketahanan warga yang terjebak di lokasi terdampak.
Sementara itu, untuk penanganan jangka panjang, pemerintah daerah berencana menganggarkan perbaikan infrastruktur, terutama pembangunan kembali jembatan dan jalan penghubung. Namun, keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama.
“Kita mohonkan bantuan ke pemerintah provinsi maupun pusat agar penanganan ini bisa segera dilakukan. Karena tanpa jembatan dan jalan, wilayah itu sama sekali tidak memiliki akses,” terang mas Rio.
"Pemulihan akses menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas warga kembali berjalan normal dan risiko sosial kemanusiaan tidak semakin memburuk," imbuhnya.
Sementara itu salah satu warga terdampak, Beby Syaifullah, menyebut terdapat dua jembatan yang putus di daerahnya, masing-masing berada di Dusun Wringin dan Dusun Krajan. Kedua lokasi tersebut sama-sama dikunjungi aparat pemerintah daerah.
“Dampaknya, warga tidak bisa menyeberang dan tidak bisa lewat sama sekali. Akses keluar-masuk terputus, aktivitas warga, termasuk belanja kebutuhan pokok jadi terganggu,” ujar Beby.
Menurut Beby, di Dusun Krajan saja sedikitnya sekitar 150 kepala keluarga terdampak. Selama ini, warga biasa berbelanja ke wilayah Wringinanom atau Kecamatan Jatibanteng, sementara untuk kebutuhan skala besar menuju kawasan Besuki.
“Jalur ini satu-satunya akses. Tidak ada jalan pintas lain. Ini jembatan satu-satunya bagi warga Desa Patemon dan Dusun Krajan, Desa Wringinanom, untuk ke pasar,” paparnya.
Kondisi tersebut membuat pemulihan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas ekonomi dan sosial warga dapat kembali berjalan normal. (*)
| Pewarta | : Syamsul Arifin |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |