https://jatim.times.co.id/
Opini

Islam yang Bersaudara

Sabtu, 24 Januari 2026 - 20:33
Islam yang Bersaudara Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Di tengah dunia yang gemar membelah, Islam sejatinya datang untuk merajut. Ia bukan palu pemecah, melainkan benang penyambung. Bukan api yang membakar perbedaan, tetapi air yang menyejukkan luka. Namun di zaman ketika suara paling keras sering dianggap paling benar, makna persaudaraan dalam Islam kerap teredam oleh gaduh tafsir dan bising kepentingan.

Padahal, sejak awal Islam tidak dibangun di atas menara eksklusivitas, melainkan di halaman persaudaraan. Nabi Muhammad tidak memulai dakwah dengan membangun tembok, tetapi dengan membangun ikatan: antara Muhajirin dan Anshar, antara iman dan kemanusiaan, antara langit dan bumi.

Islam mengajarkan bahwa manusia bukan musuh bawaan, melainkan saudara dalam kemungkinan. Bahkan perbedaan pun tidak diletakkan sebagai alasan untuk saling mengunci pintu hati, melainkan sebagai jendela untuk saling mengenal. “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,” bukan agar saling mencurigai.

Namun hari ini, sebagian kita lebih sibuk menghitung perbedaan daripada merawat persamaan. Mazhab dijadikan pagar kawat berduri, pilihan politik diubah menjadi garis perang, dan mimbar kadang berubah menjadi menara pengawas yang menghakimi, bukan memeluk. Kata “kafir” lebih cepat keluar dari mulut, dibanding kata “saudara” keluar dari hati.

Ironisnya, semua itu dilakukan sambil mengaku membela agama. Seolah Tuhan membutuhkan pembela yang mudah marah, mudah mencaci, dan ringan memutus silaturahmi. Seolah surga hanya cukup untuk satu kelompok kecil yang paling pandai menunjuk salah orang lain. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi hakim di dunia, apalagi algojo atas nama iman.

Islam yang bersaudara adalah Islam yang memahami bahwa kebenaran tidak perlu diteriakkan dengan kebencian. Ia tumbuh dalam keteladanan, bukan dalam makian. Ia hidup dalam dialog, bukan dalam monolog penuh amarah.

Persaudaraan dalam Islam bukan slogan di spanduk Maulid, bukan pula hiasan pidato di bulan Ramadan. Ia adalah kerja sehari-hari: menahan lidah, melunakkan hati, menurunkan ego, dan mengangkat martabat sesama.

Ia terlihat ketika perbedaan pendapat tidak berubah menjadi perpecahan. Ketika masjid tidak dijadikan panggung politik murahan. Ketika mimbar lebih sibuk menyembuhkan luka umat, bukan menggaruknya agar berdarah lebih dalam.

Islam yang bersaudara tidak anti kritik, tetapi anti kebencian. Tidak alergi perbedaan, tetapi alergi pada kesombongan yang merasa paling suci.

Dalam sejarahnya, peradaban Islam justru besar ketika mampu merangkul. Ilmu berkembang bukan karena ulama menutup pintu, tetapi karena mereka membuka jendela. Baghdad, Cordoba, dan Kairo pernah menjadi taman dialog, bukan hutan kecurigaan.

Hari ini, tantangannya bukan lagi pedang dan panah, melainkan jempol dan narasi. Media sosial telah menjelma pasar bebas tafsir, tempat ayat bisa dipotong seperti video pendek, dan fatwa bisa dijual seperti dagangan diskon.

Di ruang digital, persaudaraan sering kalah cepat dibanding provokasi. Persatuan kalah viral dibanding perpecahan. Namun justru di situlah iman diuji: apakah kita memilih menjadi bagian dari api, atau menjadi air.

Islam yang bersaudara menuntut keberanian untuk tidak ikut-ikutan membenci. Menuntut keteguhan untuk tetap santun di tengah arus kasar. Menuntut kedewasaan untuk mengakui bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan. Menjadi muslim bukan hanya soal rajin beribadah, tetapi juga soal piawai menjaga persaudaraan.

Karena shalat bisa saja khusyuk, tetapi hati tetap keras. Puasa bisa penuh, tetapi empati kosong. Haji bisa berkali-kali, tetapi sikap masih merendahkan. Islam tidak hanya dibaca di mushaf, tetapi harus terlihat di wajah sosial umatnya.

Jika umat Islam terus terjebak dalam pertengkaran internal, maka agama akan kehilangan wajah ramahnya, dan masyarakat kehilangan teladannya. Kita akan sibuk menjaga surga versi sendiri, sambil membiarkan bumi dipenuhi curiga. Padahal, dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia hanya kekurangan orang yang mau bersaudara.

Islam yang bersaudara bukan Islam yang lemah. Ia justru kuat karena mampu menahan diri. Ia bukan Islam yang kehilangan prinsip, tetapi Islam yang tahu bahwa prinsip tertinggi adalah menjaga martabat manusia.

Jika Islam adalah cahaya, maka persaudaraan adalah sinarnya. Tanpanya, agama hanya akan tampak sebagai bayangan yang dingin, bukan kehangatan yang menenangkan.

Dan barangkali, tugas terbesar umat hari ini bukan menambah jumlah perdebatan, melainkan memperbanyak jabat tangan. Bukan meninggikan suara, tetapi merendahkan hati. Karena di hadapan Tuhan, kita semua bukanlah lawan debat, melainkan saudara dalam perjalanan pulang.

***

*) Oleh : Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Unisma Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.