TIMES JATIM, MALANG – Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. terus menggenjot peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Malang. Salah satu target utama yang ditekankan adalah mendorong siswa agar mampu mencapai nilai rata-rata kelulusan 9, sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan bersaing di dunia kerja.
Upaya tersebut dilakukan Sanusi dengan cara turun langsung ke sekolah-sekolah di berbagai kecamatan untuk meninjau proses pembelajaran, kesiapan guru, serta fasilitas pendidikan. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa hanya diukur dari kelulusan semata, tetapi harus tercermin dari capaian nilai akademik siswa.
“Sasarannya adalah kualitas pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan itu kita ukur dengan nilai kelulusan, karena nilai ini menjadi tolak ukur untuk melanjutkan pendidikan berikutnya dan seterusnya,” kata Sanusi.
Ia menjelaskan, nilai akhir pendidikan memiliki peran penting dalam menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masyarakat. Saat ini, standar kelulusan di perguruan tinggi juga semakin tinggi.
“Hari ini angka cumlaude di perguruan tinggi berapa di IPK 3,6. Itu artinya rata-rata nilainya sudah 9. Angka itu yang menjadi prioritas untuk bisa diterima bekerja. Kalau di bawah itu, perusahaan biasanya enggan menerima,” ujarnya.
Selain menjadi syarat masuk dunia kerja, nilai akademik juga menjadi kunci utama untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah unggulan. Sanusi mencontohkan seleksi masuk SMA Taruna Nusantara, salah satu sekolah unggulan yang menjadi tujuan banyak siswa berprestasi.
“Untuk masuk Taruna Nusantara, syarat nilai mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia itu rata-ratanya harus 9. Kalau di bawah itu, pendaftaran langsung tidak diterima,” tegasnya.
Sanusi mengungkapkan, tingkat persaingan masuk sekolah unggulan tersebut sangat ketat. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara, pada tahun 2024 tercatat sekitar 16 ribu siswa mendaftar, namun hanya 750 siswa yang diterima secara nasional. Dari jumlah tersebut, hanya tiga siswa berasal dari Kabupaten Malang.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan kuat Pemkab Malang menetapkan target nilai rata-rata 9 bagi siswa sejak dini. Sanusi mengakui, kebijakan tersebut sempat dianggap berlebihan.
“Sejak awal saya menargetkan nilai rata-rata 9, banyak yang menganggap mengada-ada. Tapi setelah melihat persyaratan sekolah unggulan seperti Taruna Nusantara, semua kepala sekolah akhirnya melek. Kalau anak-anak kita tidak berkualitas, mereka tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan unggulan,” pungkasnya.
Pemkab Malang berharap, dengan peningkatan mutu pembelajaran dan capaian akademik siswa, lulusan sekolah di Kabupaten Malang mampu bersaing secara nasional, baik di pendidikan lanjutan maupun di dunia kerja. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Imadudin Muhammad |