TIMES JATIM, SAMPANG – Tabir yang selama menutupi sederet permasalahan pelik yang ada di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Batoporo Timur 1, Dusun Pandian, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, perlahan mulai terkuak.
Berawal dari beredarnya video viral berdurasi 1 menit 25 detik yang membanjiri beberapa platform media sosial seperti TikTok dan WhatsApp menuai sorotan publik. Beragam isu dan asumsi beredar liar mengisi kolom komentar dan tanggapan publik.
Menanggapi hal ini, Plt Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sampang, Nor Alam, melakukan pemanggilan terhadap guru dan kepala sekolah SDN Batoporo Timur 1 guna meminta penjelasan dan klarifikasi demi meluruskan simpang siur informasi yang berkembang di masyarakat.
Bersama Inspektorat dan Asisten 1 Pemkab Sampang, pihaknya melakukan pertemuan dengan guru dan Plt. Kepala sekolah setempat di Aula mini kantor Disdik setempat, pada Rabu (21/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut terungkap, bahwa Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDN tersebut hanya berlangsung sekali dalam seminggu, yaitu hanya di hari Jumat saja. Sedangkan di hari lainnya, siswa tidak masuk sekolah.
"Berdasarkan penjelasan Kepala Sekolah tadi, setiap hari Jumat kegiatan belajar mengajar berlangsung normal. Seluruh siswa dan 7 orang guru itu masuk semua. Tapi di luar itu, meskipun guru hadir di sekolah, proses pembelajaran tidak berjalan karena tidak ada siswa yang datang," terang Nor Alam, pada Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, adanya fenomena sekolah tanpa siswa ini ditengarai karena dampak paska pandemi Covid-19 lalu. Sebab, selama masa transisi itu mayoritas orang tua siswa di wilayah tersebut lebih memilih memindahkan anak-anaknya ke sekolah swasta, yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI) setempat, daripada tetap bertahan di Sekolah Dasar Negeri.
Minimnya jumlah siswa di sekolah tersebut, murni karena pilihan subyektif para wali murid dan bukan karena faktor eksternal yang lain. "Pilihan tempat satuan pendidikan yang dituju, itu sepenuhnya berada ditangan orang tua murid. Kami tidak bisa memaksa," ujarnya.
Pihaknya berencana melakukan langkah sanding data dengan Kementerian Agama sebagai langkah konkret penyelesaian masalah yang terjadi. Serta akan meminta ketegasan dari pihak orang tua siswa untuk menentukan pilihan satuan pendidikan yang dituju, ingin sekolah swasta atau negeri.
Hal itu dilakukan, agar tidak terjadi tumpang tindih data siswa atau data ganda antara sekolah negeri dan swasta. "Jika hasil koordinasi menunjukkan mayoritas orang tua siswa tetap memilih madrasah, maka SDN Batoporo Timur 1 akan ditutup secara resmi melalui proses regrouping," tegasnya.
Sedangkan untuk 7 orang tenaga pendidik yang ada, akan disalurkan ke sekolah lain yang kekurangan guru. Evaluasi terhadap penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) juga tak luput dari bidikannya. Termasuk, pemanfaatan fasilitas smart panel dan beban konsumsi listrik. Langkah ini sebagai upaya memastikan penggunaan uang negara yang dikelola pihak sekolah bisa dipertanggungjawabkan sesuai dengan regulasi yang berlaku. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: SDN Batoporo Timur 1 Terancam Ditutup, Disdik Sampang Tunggu Hasil Sanding Data Siswa dengan Kemenag
| Pewarta | : Moh. Mansur |
| Editor | : Faizal R Arief |