TIMES JATIM, PACITAN – Wayang Beber, seni tradisi yang nyaris terlupakan, kembali hidup lewat tangan siswa SMPN 4 Pacitan.
Melalui mural, gerabah, hingga animasi berbasis Artificial Intelligence (AI), para pelajar ini mengemas warisan budaya tua dengan pendekatan visual dan teknologi yang dekat dengan dunia mereka.
Inisiatif tersebut lahir dari kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler seni rupa. Tujuannya sederhana namun strategis: membuat Wayang Beber tetap relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan ruh tradisinya.
Upaya pelestarian dilakukan lewat tiga jalur. Pertama, cerita Wayang Beber dipindahkan dari gulungan ke dinding sekolah dalam bentuk mural dan lukisan kanvas. Dinding sekolah pun berubah menjadi galeri terbuka yang bisa dinikmati siapa saja.

Kedua, motif tokoh Wayang Beber diaplikasikan pada media gerabah seperti pot, guci, dan vas bunga. Selain bernilai artistik, karya ini juga memiliki fungsi praktis dan potensi ekonomi.
Pendekatan ketiga menjadi yang paling menarik perhatian. Siswa mengolah gambar Wayang Beber menjadi animasi menggunakan koding dan algoritma AI.
Adegan yang semula statis kini bisa bergerak dan bercerita, membantu siswa memahami nilai filosofis kisah Panji dengan cara yang lebih kontekstual.
Kepala SMPN 4 Pacitan, Any Suprapno, menyebut proyek ini sebagai praktik nyata penerapan 8 Dimensi Profil Lulusan.

“Di sini siswa belajar beriman dan bertakwa, gotong royong, berpikir kritis, hingga berkebinekaan global. Mereka membaca tradisi, lalu menafsirkannya dengan teknologi,” ujarnya, Jumat (2/1/2026).
Sementara, Guru Seni Rupa SMPN 4 Pacitan, Ami Wisna Rihadhian, menilai tantangan utama pelestarian budaya adalah menjembatani tradisi dengan selera generasi masa kini.
“Kami tidak ingin siswa hanya mengenal sejarah. Mereka harus menjadi pelaku. AI dan koding justru membuat Wayang Beber terasa dekat dan menyenangkan,” katanya.
Antusiasme juga datang dari siswa. Alyvia Oktaviani, siswi kelas VIII yang terlibat dalam proyek mural dan animasi, mengaku pandangannya berubah.
“Dulu saya pikir Wayang Beber itu membosankan. Setelah bisa kami buat bergerak dan dilukis di mural, rasanya bangga. Kami ingin Wayang Beber Pacitan dikenal luas dan tidak hilang,” ujarnya.
Di tangan generasi muda, Wayang Beber tak lagi diam di gulungan cerita, tetapi bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan jati diri. Seperti upaya yang dilakukan SMPN 4 Pacitan tersebut. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Ronny Wicaksono |