https://jatim.times.co.id/
Pendidikan

Jalan Rusak dan Ekstrem, Guru SMPN 4 Tegalombo Pacitan Pertaruhkan Nyawa Demi Mengajar

Kamis, 22 Januari 2026 - 12:11
Jalan Rusak dan Ekstrem, Guru SMPN 4 Tegalombo Pacitan Pertaruhkan Nyawa Demi Mengajar Ari Winarno, guru SMPN 4 Tegalombo, Pacitan, menuntun sepeda motornya mencari tempat aman untuk melakukan perbaikan mandiri setelah mengalami gangguan mesin di jalur menuju sekolah. (FOTO: Wiwik Purwiyanti for TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, PACITAN – Guru SMPN 4 Tegalombo, Kabupaten Pacitan harus menghadapi risiko keselamatan serius setiap hari akibat akses jalan rusak dan tanjakan ekstrem menuju sekolah. 

Kondisi infrastruktur yang buruk di wilayah perbukitan itu memaksa para pendidik melintasi jalur sempit, berlubang, licin, dan berbatasan langsung dengan tebing demi menjalankan kewajiban mengajar.

Salah satu guru yang merasakan langsung beratnya medan tersebut adalah Ari Winarno, guru Bahasa Indonesia SMPN 4 Tegalombo. 

Ia setiap hari menempuh perjalanan lintas kabupaten dari Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, menuju lokasi sekolah di wilayah pelosok Pacitan.

Jarak pulang-pergi yang mencapai sekitar 60 kilometer bukan menjadi tantangan utama. Medan berat berupa tanjakan panjang dan tajam justru menjadi risiko paling besar. 

Ari-Winarno-a.jpgAri Winarno, guru asal Ponorogo, memeriksa kondisi sepeda motornya yang mengalami gangguan teknis saat melintasi tanjakan menuju SMPN 4 Tegalombo Pacitan. (FOTO: Wiwik Purwiyanti for TIMES Indonesia)

Kendaraan roda dua yang digunakannya harus bekerja ekstra saat menanjak, dengan kondisi jalan yang sebagian besar rusak dan tidak rata.

“Kondisi jalan memang cukup menantang. Selain tanjakan yang tinggi, permukaan jalan yang tidak rata membuat kendaraan cepat rusak. Jika mesin mati di tengah tanjakan, risikonya kendaraan bisa merosot ke belakang jika tidak segera diantisipasi,” ujar Ari, Kamis (22/1/2026).

Risiko tersebut bukan sekadar potensi. Baru-baru ini, sepeda motor yang dikendarai Ari mengalami kerusakan mesin saat melintasi salah satu tanjakan ekstrem menuju sekolah. 

Mesin kehilangan tenaga dan mati total di tengah jalur menanjak, jauh dari permukiman warga maupun bengkel.

Ia terpaksa berhenti dan melakukan upaya perbaikan secara mandiri agar kendaraan tidak meluncur mundur di jalur curam. 

Kerusakan kendaraan akibat medan berat, menurut Ari, bukan kali pertama terjadi. Komponen seperti kopling, rem, dan ban lebih cepat aus dibandingkan kendaraan yang digunakan di jalur datar.

Selain kerusakan jalan, ancaman keselamatan meningkat ketika para guru harus berpapasan dengan kendaraan besar, seperti truk pengangkut material atau hasil bumi. 

Di sejumlah titik, badan jalan sangat sempit dengan tikungan tajam dan jarak pandang terbatas.

Dalam kondisi blind spot, pengendara motor dituntut bereaksi cepat saat berhadapan mendadak dengan truk dari arah berlawanan. Ruang untuk menghindar sangat terbatas, sementara bahu jalan kerap tidak rata dan langsung berbatasan dengan tebing.

Situasi tersebut semakin berbahaya saat musim hujan. Air hujan sering menggenangi lubang jalan, membuat kedalaman lubang sulit terdeteksi. 

Kerikil dan pasir dari tebing terbawa aliran air dan menutupi permukaan aspal, menjadikan jalan licin terutama di tikungan dan tanjakan.

Bagi guru yang berasal dari luar wilayah Tegalombo, hujan berarti tambahan waktu tempuh dan peningkatan risiko kecelakaan. 

Kecepatan kendaraan harus dikurangi drastis demi menjaga keseimbangan. Tidak jarang, para guru tiba di sekolah dengan pakaian terkena cipratan lumpur akibat kondisi jalan yang buruk.

Meski demikian, keterbatasan infrastruktur dan risiko keselamatan tidak menyurutkan komitmen para guru SMPN 4 Tegalombo. 

Mereka tetap menjaga konsistensi kehadiran dan menjalankan proses belajar mengajar secara penuh demi memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi.

Para guru berharap pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap kondisi akses jalan menuju sekolah-sekolah di wilayah pinggiran. 

Perbaikan infrastruktur dinilai penting tidak hanya untuk kelancaran mobilitas guru, tetapi juga keselamatan siswa serta warga yang menggunakan jalur tersebut sebagai akses utama kegiatan ekonomi.

Hingga kini, para guru SMPN 4 Tegalombo masih mengandalkan perawatan kendaraan secara mandiri untuk meminimalkan risiko kerusakan di tengah perjalanan. 

Di balik jalan rusak dan tanjakan ekstrem, mereka tetap menjalankan tanggung jawab besar sebagai pendidik di wilayah perbukitan Pacitan. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.