https://jatim.times.co.id/
Opini

Negara Terhormat

Sabtu, 31 Januari 2026 - 09:32
Negara Terhormat Mashudi Hamzah, Pengurus IKatan Mahasiswa Raas (IMR) Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Negara sering berdiri gagah di depan kamera dengan seragam loreng dan barisan senjata. Parade militer, latihan tempur, dan pidato tentang pertahanan selalu mendapat sorotan utama. Seolah-olah negara hanya hidup dari kekuatan otot dan moncong senapan. Padahal, ada aparatur lain yang jauh lebih sunyi, lebih sabar, dan lebih menentukan arah bangsa: guru.

Jika militer disebut Aparatur Represif Negara penjaga batas fisik dan keamanan teritorial maka guru sejatinya adalah Aparatur Ideologis Negara. Mereka menjaga sesuatu yang lebih abstrak tetapi lebih fundamental: cara berpikir warga, nilai yang dipercaya, dan mimpi kolektif bangsa.

Tanpa militer, negara bisa runtuh oleh agresi. Tanpa guru, negara bisa runtuh dari dalam oleh kebodohan, apatisme, dan hilangnya nalar kritis. Ironisnya, negara sering memperlakukan keduanya dengan standar yang timpang.

Dalam teori Louis Althusser, negara tidak hanya bekerja lewat aparat represif seperti tentara dan polisi, tetapi juga melalui aparatur ideologis seperti sekolah, keluarga, media, dan agama. Aparatur represif menjaga kepatuhan melalui paksaan. Aparatur ideologis menjaga kepatuhan melalui keyakinan.

Guru berada di jantung aparatur ideologis itu. Di ruang kelas, mereka tidak hanya mengajarkan rumus dan tanggal sejarah. Mereka menanamkan imajinasi tentang apa itu bangsa, apa itu keadilan, apa itu cita-cita hidup. Di papan tulis, negara sedang ditulis ulang setiap hari.

Namun dalam praktik, negara lebih rajin menaikkan anggaran senjata daripada anggaran pendidikan. Gaji prajurit ditata rapi, tunjangan disusun sistematis. Sementara guru honorer masih bertanya-tanya apakah bulan depan bisa membeli beras.

Negara seperti membangun tembok tinggi, tetapi lupa mengisi rumah di dalamnya dengan akal sehat.

Militer menjaga perbatasan geografis, guru menjaga perbatasan intelektual.

Militer menghalau musuh dari luar, guru menghalau kebodohan dari dalam.

Di tangan guru, anak petani bisa menjadi ilmuwan. Anak nelayan bisa menjadi pemimpin. Anak buruh bisa menjadi pemikir kritis. Guru adalah mesin sosial yang mengubah latar belakang menjadi masa depan.

Namun kerja guru adalah kerja sunyi. Tidak ada parade untuk keberhasilan mereka. Tidak ada medali untuk setiap anak yang mereka selamatkan dari putus sekolah. 

Mereka bekerja seperti akar pohon: tidak terlihat, tetapi menopang seluruh batang. Ketika negara lupa pada guru, yang tumbuh bukan pohon pengetahuan, melainkan hutan ilusi.

Perlakuan timpang antara aparat keamanan dan aparat ideologis bukan sekadar soal anggaran. Ia mencerminkan cara negara memahami kekuasaan.

Negara sering percaya bahwa stabilitas datang dari senjata, bukan dari pikiran.

Padahal sejarah menunjukkan, revolusi paling dahsyat lahir dari gagasan, bukan dari peluru.

Ketika guru diremehkan, yang tumbuh adalah generasi yang mudah dikendalikan oleh hoaks, propaganda, dan populisme kosong. Ketika guru dimuliakan, yang lahir adalah warga yang kritis, rasional, dan demokratis.

Guru bukan sekadar pekerja pendidikan. Mereka adalah produsen kesadaran nasional.

Ada ironi tragis di negeri ini: aparatur yang membentuk ideologi bangsa justru hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Guru honorer mengajar dengan semangat, tetapi pulang dengan kantong kosong. 

Mereka mendidik anak bangsa tentang cita-cita, tetapi masa depan mereka sendiri buram. Ini seperti meminta penjaga mercusuar tetap menyalakan lampu, tetapi tidak memberi minyak.

Negara yang abai pada guru sebenarnya sedang menciptakan paradoks: ingin rakyat cerdas, tetapi malas membayar para pencerdas. Ingin demokrasi matang, tetapi membiarkan tukang kebunnya kelaparan.

Bangsa tanpa militer rapuh secara fisik.

Bangsa tanpa guru rapuh secara mental. Militer adalah perisai, guru adalah kompas.

Perisai melindungi tubuh bangsa, kompas menuntun arah bangsa.

Negara yang hanya menguatkan perisai tanpa kompas akan berjalan dalam gelap. Negara yang hanya menguatkan kompas tanpa perisai akan mudah dijajah. Tetapi negara yang timpang memuja perisai, melupakan kompas akan kehilangan arah dan akhirnya bertabrakan dengan dirinya sendiri.

Setiap kali guru mengajarkan Pancasila, mereka sedang menjaga republik.

Setiap kali guru mengajarkan literasi, mereka sedang menjaga demokrasi.

Setiap kali guru mengajarkan sains, mereka sedang menjaga masa depan.

Guru adalah pasukan sipil paling strategis dalam perang ideologi global. Di era disrupsi digital, perang bukan lagi soal tank dan rudal, tetapi soal algoritma, informasi, dan narasi. 

Di medan perang baru ini, guru adalah jenderal pengetahuan. Sayangnya, negara belum sepenuhnya sadar bahwa medan tempur abad ke-21 ada di ruang kelas, bukan hanya di barak.

Menghormati guru bukan sekadar menaikkan gaji. Ia adalah soal mengubah cara pandang. Guru harus diposisikan sebagai elite moral bangsa, bukan sekadar tenaga teknis pendidikan. Mereka harus dilibatkan dalam perumusan kebijakan, bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum.

Negara yang dewasa memahami bahwa ideologi tidak tumbuh di rapat elite, tetapi di kelas-kelas kecil di pelosok desa. Negara yang visioner tahu bahwa masa depan bukan ditentukan oleh jumlah jet tempur, tetapi oleh kualitas guru matematika di sekolah negeri.

Jika hari ini tentara dihormati sebagai penjaga kedaulatan, maka guru harus dihormati sebagai penjaga akal sehat nasional. Jika prajurit dianggap pahlawan perbatasan, guru harus dianggap pahlawan peradaban.

Negara harus berani menata ulang hirarki kehormatan: dari kultus kekuatan fisik menuju pemuliaan kekuatan intelektual. Karena peradaban tidak runtuh ketika benteng jebol, tetapi ketika pikiran runtuh.

Setiap hari, negara ditulis ulang di papan tulis. Dalam rumus, dalam cerita sejarah, dalam diskusi kelas, dalam teguran guru kepada murid yang berbohong.

Jika negara ingin masa depan yang adil, ia harus memastikan papan tulis itu ditulis oleh tangan yang sejahtera, pikiran yang merdeka, dan hati yang dihormati.

Guru bukan hanya pekerja negara. Mereka adalah negara itu sendiri dalam bentuk yang paling halus, paling manusiawi, dan paling menentukan.

Dan jika negara terus melupakan aparatur ideologisnya, maka suatu hari kita akan memiliki tentara yang kuat, tetapi bangsa yang bingung.

***

*) Oleh : Mashudi Hamzah, Pengurus IKatan Mahasiswa Raas (IMR) Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.