https://jatim.times.co.id/
Opini

NU yang Khas

Sabtu, 31 Januari 2026 - 11:32
NU yang Khas Imam Syafi’i, Ketua LPIK UNISMA Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Indonesia tidak pernah dibangun dari satu warna. Ia lahir dari percampuran nilai, tradisi, dan ikhtiar kolektif yang saling menyilang. Dalam kanvas besar kebangsaan itulah Nahdlatul Ulama (NU) hadir sebagai warna yang khas tidak mencolok sendiri, tetapi justru memberi kedalaman, keseimbangan, dan keteduhan pada keseluruhan lukisan bangsa.

Sejak awal kemunculannya, NU tidak lahir di ruang hampa sejarah. Ia tumbuh dari rahim pesantren, dari desa-desa sunyi yang denyut hidupnya menyatu dengan doa, ilmu, dan kerja. 

Di saat gagasan kebangsaan masih mencari bentuk, para kiai NU telah menanamkan fondasi penting: Islam yang membumi, berakar pada tradisi, tetapi tidak memusuhi perubahan.

NU sebelum kemerdekaan adalah denyut sunyi yang bekerja dalam diam. Pesantren bukan sekadar tempat mengaji, melainkan pusat pembentukan kesadaran sosial. Dari surau dan langgar, lahir generasi yang memahami bahwa iman tidak boleh tercerabut dari realitas. Islam tidak berdiri di menara gading, tetapi berjalan bersama rakyat kecil petani, nelayan, pedagang yang menjadi tulang punggung negeri.

Puncak kekhasan NU pada fase awal itu menemukan momentumnya dalam Resolusi Jihad 1945. Di saat kemerdekaan terancam, NU tidak ragu mengambil posisi tegas. Fatwa jihad bukan sekadar seruan teologis, melainkan keputusan kebangsaan. 

Di tangan para kiai, agama dan nasionalisme bukan dua kutub yang saling meniadakan, tetapi dua energi yang saling menguatkan. Dari sinilah Indonesia belajar bahwa cinta tanah air dapat tumbuh subur dari keyakinan religius.

Kekhasan NU terletak pada kemampuannya menjahit nilai-nilai besar dengan realitas lokal. Tradisi tahlilan, yasinan, selametan, hingga maulidan bukan sekadar ritual, melainkan strategi kultural. 

NU memahami bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan pidato dan regulasi; ia memerlukan pendekatan budaya yang menyentuh rasa dan ingatan kolektif.

Di sinilah NU berbeda. Ketika sebagian kelompok sibuk memurnikan simbol, NU justru merawat substansi. Agama diposisikan sebagai sumber etika dan keteduhan, bukan alat eksklusivitas. Inilah yang membuat NU mampu bertahan melintasi rezim dan zaman karena ia lentur tanpa kehilangan prinsip.

Pasca-kemerdekaan, NU terus memainkan peran strategis. Dalam dinamika politik, sosial, dan kebudayaan, NU kerap mengambil posisi moderat. Bukan karena ragu, tetapi karena sadar bahwa bangsa sebesar Indonesia tidak bisa dikelola dengan logika hitam-putih. 

Tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) bukan jargon, melainkan kompas etik yang menuntun langkah NU di tengah gelombang perubahan.

Kekhasan NU juga terlihat dari caranya memandang negara. Bagi NU, Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah entitas yang harus dicurigai, melainkan wadah bersama yang wajib dijaga. 

Pancasila diterima bukan sebagai kompromi terpaksa, tetapi sebagai titik temu nilai-nilai kebangsaan. Dalam konteks ini, NU menjadi penyangga penting stabilitas sosial dan ideologis Indonesia.

Memasuki era reformasi hingga hari ini, NU kembali diuji. Arus globalisasi, politik identitas, dan disrupsi digital menghadirkan tantangan baru. Namun, di tengah kebisingan itu, NU tetap tampil dengan wajah khasnya: menenangkan, tidak reaktif, dan berupaya merawat akal sehat publik. Ketika agama kerap dijadikan alat mobilisasi politik, NU memilih jalur kebijaksanaan.

Hari ini, NU bukan hanya soal pesantren dan tradisi, tetapi juga gerakan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Warga NU tersebar di berbagai sektor strategis bangsa. Namun, kekuatan utama NU tetap sama seperti dulu: kedekatannya dengan rakyat. NU tidak besar karena struktur, melainkan karena kepercayaan.

Kekhasan NU adalah kemampuannya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara agama dan negara, antara elit dan akar rumput. Ia tidak berdiri di satu sisi ekstrem, tetapi di tengah, menjaga keseimbangan. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, posisi ini justru menjadi sangat berharga.

NU hari ini adalah cermin perjalanan Indonesia itu sendiri: penuh dinamika, kadang berisik, tetapi selalu mencari jalan tengah. Dari zaman sebelum kemerdekaan hingga hari ini, NU telah membuktikan bahwa kekuatan bangsa tidak selalu lahir dari gegap gempita, melainkan dari kesabaran merawat nilai.

NU yang khas adalah NU yang setia pada tradisi, tetapi terbuka pada perubahan; NU yang berakar kuat di bumi, namun pandangannya menjulang jauh ke depan. 

Selama NU mampu menjaga kekhasan itu, selama itu pula ia akan tetap menjadi warna penting dalam mozaik kebangsaan Indonesia warna yang mungkin tidak paling terang, tetapi tanpanya, lukisan bangsa akan kehilangan makna.

***

*) Oleh : Imam Syafi’i, Ketua LPIK UNISMA Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.