https://jatim.times.co.id/
Opini

Pendidikan yang Membumi

Rabu, 14 Januari 2026 - 02:38
Pendidikan yang Membumi Fatkhurrozi, Ketua MKKS SMA Swasta Kabupaten Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Pendidikan sering dibicarakan dengan bahasa langit: visi besar, indikator global, standar internasional, dan jargon yang terdengar meyakinkan. Tetapi di banyak tempat, sekolah masih bergulat dengan soal yang sangat sederhana: ruang kelas bocor, guru honorer yang menunggu gaji berbulan-bulan, murid yang datang tanpa sarapan, dan buku pelajaran yang berpindah tangan dari angkatan ke angkatan. Di titik inilah kita perlu bertanya: untuk siapa sebenarnya pendidikan dirancang?

Pendidikan yang membumi bukan pendidikan yang menolak kemajuan. Ia justru pendidikan yang sadar tempat berpijak. Ia tahu bahwa anak petani, anak nelayan, anak buruh, dan anak kota tidak hidup dalam ruang yang sama. Kurikulum boleh satu, tetapi realitas sosial tidak pernah seragam.

Selama ini, kebijakan pendidikan sering lahir dari ruang rapat berpendingin udara, lalu turun ke sekolah-sekolah yang atapnya menahan panas matahari. Di atas kertas, semua tampak rapi. Di lapangan, guru dipaksa menyesuaikan diri dengan administrasi yang menumpuk, sementara waktu untuk memahami murid semakin tipis.

Sekolah kemudian berubah menjadi ruang mengejar target, bukan ruang bertumbuh. Anak dinilai dari angka, bukan dari proses. Guru diukur dari kelengkapan laporan, bukan dari ketulusan mendampingi. Pendidikan terasa semakin teknis, semakin jauh dari sisi manusiawinya.

Padahal pendidikan yang membumi justru dimulai dari hal paling dasar: memahami kehidupan murid. Anak yang tertidur di kelas belum tentu malas. Bisa jadi semalam membantu orang tuanya bekerja. 

Murid yang lambat membaca belum tentu bodoh. Bisa jadi ia tumbuh di rumah tanpa satu pun buku. Namun sistem sering tidak menyediakan ruang untuk empati. Yang ada hanya standar, peringkat, dan grafik capaian.

Kita terlalu sibuk menyiapkan generasi untuk “masa depan”, tetapi lupa memastikan mereka mampu bertahan di masa kini. Kita berbicara tentang kecerdasan buatan, sementara banyak sekolah masih berjuang mendapatkan akses internet stabil. Kita mendorong literasi digital, tetapi perpustakaan desa sepi dan buku-bukunya usang.

Pendidikan yang membumi tidak anti-teknologi. Tetapi ia menempatkan teknologi sebagai alat, bukan tujuan. Ia memahami bahwa sebelum anak mengenal dunia global, ia harus terlebih dahulu mengenal lingkungannya sendiri: tanah tempat ia tumbuh, budaya yang membentuknya, dan masalah sosial yang ia hadapi setiap hari.

Di desa, pendidikan yang membumi berarti mengaitkan pelajaran dengan pertanian, air, dan musim. Di pesisir, ia bisa berbicara tentang laut, cuaca, dan keberlanjutan. Di kota, ia bisa mengajarkan tentang ruang publik, polusi, dan solidaritas sosial. Ilmu pengetahuan menjadi hidup karena dekat dengan pengalaman.

Sayangnya, kita masih gemar meniru model luar tanpa menyesuaikan dengan konteks dalam. Sekolah dipaksa seragam, seolah Indonesia adalah satu ruang homogen. Padahal kekuatan kita justru terletak pada keragaman.

Guru yang mencoba kreatif sering terjebak dalam tumpukan aturan. Inovasi harus menunggu izin. Eksperimen harus sesuai format. Pendidikan akhirnya berjalan aman, tetapi miskin makna.

Pendidikan yang membumi juga berarti berani jujur pada kondisi tenaga pendidik. Sulit berharap guru mengajar dengan sepenuh hati jika kesejahteraannya masih diperdebatkan setiap tahun. Sulit menuntut dedikasi penuh jika status kerja tidak menentu. Di banyak daerah, guru honorer tetap menjadi tulang punggung sekolah, tetapi posisinya rapuh.

Di sisi lain, masyarakat pun kadang menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah. Anak dianggap urusan guru, nilai dianggap tanggung jawab institusi. Padahal pendidikan adalah kerja bersama. Sekolah hanya salah satu ruang, bukan satu-satunya.

Rumah adalah kelas pertama. Lingkungan adalah laboratorium sosial. Media adalah buku pelajaran yang diam-diam paling berpengaruh. Pendidikan yang membumi mengakui kenyataan itu. Ia tidak membangun tembok tinggi antara sekolah dan masyarakat. Ia membuka ruang dialog, kerja sama, dan saling memahami.

Jika pendidikan terus diperlakukan sebagai proyek, bukan proses, maka ia akan kehilangan akarnya. Sekolah mungkin tampak maju secara statistik, tetapi rapuh secara sosial. Lulusannya mungkin pintar menjawab soal, tetapi bingung membaca realitas. Kita tidak kekurangan kurikulum. Kita kekurangan keberanian untuk jujur pada keadaan.

Pendidikan yang membumi tidak menjanjikan keajaiban cepat. Ia bekerja pelan, sering tidak terlihat, dan jarang masuk laporan tahunan yang mengkilap. Tetapi dari situlah lahir manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peka; tidak hanya kompetitif, tetapi juga peduli.

Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan membentuk warga yang mengerti hidupnya sendiri dan tidak asing di tanahnya sendiri.

Dan mungkin, justru dari ruang kelas sederhana itulah masa depan yang lebih waras bisa tumbuh bukan dari jargon, tetapi dari kesadaran bahwa belajar adalah bagian dari kehidupan, bukan pelarian darinya.

***

*) Oleh : Fatkhurrozi, Ketua MKKS SMA Swasta Kabupaten Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.