TIMES JATIM, MALANG – Generasi muda hari ini hidup di tengah zaman yang berlari tanpa menoleh ke belakang. Harga kebutuhan pokok melambung seperti balon yang dilepas dari genggaman, sementara gaji sering tertatih seperti pejalan kaki di tengah jalan tol.
Dalam situasi semacam ini, melek finansial bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan sabuk pengaman agar hidup tidak terlempar ketika realitas mengerem mendadak.
Saya menyapa Gen Z, generasi yang tumbuh bersama layar sentuh dan notifikasi saldo rekening. Saya pun bagian darinya, generasi peralihan yang masih sempat menyimpan uang di celengan ayam, sebelum dunia mengajarkan bahwa uang bisa menguap seperti embun pagi jika tidak dijaga dengan kesadaran.
Kini, anak muda mulai mengerti bahwa cinta saja tidak cukup untuk menghidupi rumah tangga, dan keberanian menikah tidak selalu sebanding dengan kesiapan bertahan dari tagihan demi tagihan yang datang seperti tamu tak diundang.
Data statistik menunjukkan bahwa banyak pemuda menunda pernikahan dan memilih menata pendidikan serta karier lebih dulu. Ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk kewarasan baru.
Mereka belajar dari reruntuhan rumah tangga yang goyah oleh utang, dari anak-anak yang tumbuh tanpa sandaran ekonomi, dari cinta yang dikalahkan oleh kebutuhan dapur. Doktrin lama tentang rezeki yang datang setelah menikah perlahan ditinggalkan, seperti jimat yang kehilangan tuahnya.
Ironisnya, meski bekerja semakin keras, banyak anak muda justru hidup dalam kecemasan. Mereka berlari di treadmill bernama produktivitas, berkeringat tanpa benar-benar berpindah tempat.
Harga rumah menjauh seperti fatamorgana, biaya hidup naik seperti ombak pasang, sementara tabungan sering hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk bermimpi. Dalam kondisi ini, penghasilan besar pun bisa berubah menjadi air di keranjang bocor jika tidak disertai kecakapan mengelola.
Kita pun akrab dengan generasi sandwich, anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka memanggul orang tua di punggung, menenteng adik di tangan kiri, dan menyeret mimpi sendiri dengan tangan kanan. Niatnya mulia, tetapi bebannya kerap menyesakkan.
Banyak di antara mereka belum sempat membangun fondasi hidup, tetapi sudah harus menambal atap keluarga yang bocor sejak lama. Di titik ini, kegagalan literasi finansial lintas generasi berubah menjadi warisan yang pahit.
Sejak kecil, kita diajari menabung seperti menimbun air di tempayan: kumpulkan, simpan, lalu habiskan. Tidak pernah diajarkan bahwa uang juga menua, bahwa nilainya bisa keriput digerogoti inflasi.
Di bangku sekolah, kita dilatih menjadi pekerja yang rajin, tetapi jarang diajari menjadi pengelola hasil kerja sendiri. Kita pandai mencari uang, tetapi gagap ketika harus menjaganya.
Padahal, persoalan finansial bukan semata tentang besar kecilnya penghasilan, melainkan tentang kecerdasan mengatur arusnya. Tentang memahami perbedaan antara lapar dan rakus, antara kebutuhan dan keinginan, antara ingin terlihat mampu dan benar-benar aman. Melek finansial adalah kemampuan membaca peta sebelum berjalan, agar tidak tersesat meski langkah terasa cepat.
Melek finansial bukan tentang hidup mewah, melainkan hidup merdeka. Ia bukan soal saldo yang tebal, tetapi tentang tidur tanpa dikejar kecemasan. Tentang bisa berkata “tidak” pada gaya hidup yang memaksa, dan berani berkata “cukup” pada ambisi yang berlebihan. Ia adalah bentuk tanggung jawab sunyi kepada diri sendiri, juga kepada anak-anak yang kelak lahir dari rahim masa depan.
Di era digital, ilmu keuangan tidak lagi bersembunyi di menara gading. Ia bertebaran seperti daun di musim gugur: di buku, podcast, video singkat, hingga obrolan daring.
Namun banyak anak muda tetap menjauh, seolah investasi adalah bahasa asing yang hanya boleh dituturkan kaum berdasi. Padahal, uang yang hanya diam di tabungan tak ubahnya es batu di bawah matahari: perlahan mencair, tak bersuara, lalu habis.
Belajar tentang reksa dana, saham, emas, atau instrumen keuangan lainnya bukan berarti mengundang bahaya, melainkan menyiapkan payung sebelum hujan. Risiko memang ada, tetapi kebodohan sering kali lebih mematikan. Investasi bukan jalan pintas menuju kaya, melainkan jembatan agar jerih payah hari ini tidak runtuh di masa depan.
Sering terdengar kalimat bahwa hidup hanya sekali dan harus dinikmati. Benar. Tetapi menikmati hidup bukan berarti membakarnya seperti kertas di tengah malam.
Menikmati hidup adalah memiliki ketenangan ketika rambut memutih, ketika tenaga menurun, ketika penghasilan tak lagi setangguh dulu. Bahkan menyiapkan biaya pemakaman agar tidak merepotkan keluarga adalah bentuk cinta terakhir yang paling sederhana dan paling jujur.
Apa yang kita abaikan hari ini akan mengetuk pintu esok hari, entah sebagai tagihan, entah sebagai penyesalan. Melek finansial mungkin tidak menjadikan hidup sempurna, tetapi ia memberi sesuatu yang langka di zaman gaduh ini: rasa aman. Dan di tengah dunia yang gemar menjual mimpi, rasa aman adalah kekayaan yang paling nyata.
***
*) Oleh : Azizah Zamzam, Bendahara Umum DPD KNPI Kabupaten Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |