TIMES JATIM, BANYUWANGI – Jumlah penderita Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Banyuwangi menembus angka 3.057 kasus. Data tersebut menunjukkan bahwa TBC masih menjadi persoalan kesehatan serius yang perlu ditangani secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan bahwa tingginya angka kasus TBC tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia menekankan pentingnya peran bersama, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat, untuk memutus rantai penularan penyakit menular tersebut.
“Penanganan TBC tidak cukup hanya dengan pengobatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat, lingkungan yang layak, serta kepatuhan menjalani pengobatan sampai tuntas,” kata Ipuk, Kamis (29/1/2026).
Berdasarkan data sebaran per kecamatan, kasus TBC ditemukan di seluruh 25 kecamatan di Banyuwangi. Kecamatan Banyuwangi tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penderita tertinggi, yakni 304 orang, disusul Muncar sebanyak 242 orang, Kalipuro 237 orang, dan Wongsorejo 181 orang.
Sementara itu, sejumlah kecamatan mencatat angka yang relatif lebih rendah, seperti Licin dengan 49 kasus, Tegalsari 50 kasus, serta Pesanggaran 67 kasus. Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan bahwa tidak ada wilayah yang boleh lengah, karena potensi penularan bisa terjadi di mana saja.
Orang nomor satu di lingkungan Pemkab Banyuwangi itu, menyebut bahwa tingginya kasus penyakit yang memiliki ciri khas batuk berdahak terus menerus selama 2 hingga 3 minggu lebih di Banyuwangi ini tidak lepas dari kepadatan penduduk serta kondisi hunian yang kurang sehat.
“Di daerah yang padat penduduk, masih banyak rumah dengan sirkulasi udara yang kurang baik, minim ventilasi, dan cahaya matahari tidak masuk secara optimal, sehingga udara menjadi pengap. Kondisi seperti ini sangat berisiko memicu penularan TBC,” jelasnya.
Selain faktor lingkungan, Ipuk juga menyoroti kebiasaan merokok sebagai salah satu faktor yang memperparah risiko TBC di masyarakat.
Untuk itu, bupati perempuan itu menegaskan pentingnya penguatan layanan kesehatan secara menyeluruh. Mulai dari puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, hingga jejaring kader kesehatan di tingkat desa.
“Fokus kita bukan hanya mengobati, tetapi juga kita harus bisa mencegah agar masyarakat kita harus tetap sehat,” tegasnya.
Berdasarkan angka kasus yang masih tinggi, Pemkab Banyuwangi berharap kesadaran kolektif masyarakat dapat terus ditingkatkan agar TBC tidak lagi menjadi penyakit yang “betah” di tengah kehidupan warga. (*)
| Pewarta | : Muhamad Ikromil Aufa |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |