TIMES JATIM, PACITAN – Upaya mengatasi krisis baca tulis Al-Qur'an dan penguatan akhlak peserta didik di Kabupaten Pacitan memasuki babak baru. Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Pacitan resmi menjadikan Al-Tajribat sebagai modul pembelajaran dalam program integrasi Madrasah Diniyah (Madin) dengan sekolah formal tingkat SMP.
Modul Al-Tajribat ini dirancang khusus sebagai materi dasar baca tulis bahasa Arab sebelum peserta didik mempelajari Alquran secara lebih mendalam. Penerapannya akan dimulai dari kelas VII SMP, dengan peluang diperluas hingga kelas VIII dan IX, bahkan ke jenjang pendidikan dasar.
Ketua FKDT Kabupaten Pacitan, Ulumudin, menjelaskan bahwa integrasi Madin dan sekolah formal dilandasi dua persoalan mendasar yang selama ini dihadapi dunia pendidikan, khususnya di tingkat SMP.
“Latar belakang urgensi integrasi Madin dan sekolah ini, pertama terkait krisis baca tulis Alquran di SMP yang harus kita selesaikan. Kedua persoalan akhlak karimah,” ujar Ulumudin.

Menurutnya, dua persoalan tersebut mendorong FKDT untuk terus membangun sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pendidikan hingga Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pacitan.
“Sehingga kedua hal itu menjadi motivasi kami untuk selalu bermitra kerja, baik dengan Dindik maupun Kantor Kemenag Pacitan,” lanjutnya.
Proses penyusunan Al-Tajribat tidak berlangsung singkat. FKDT Pacitan melalui tahapan panjang, termasuk konsultasi intensif dengan Pembina FKDT Jawa Timur.

“Setelah melalui proses panjang, akhirnya kami konsultasi kepada pembina FKDT Jawa Timur. Akhirnya materi baca tulis Alquran Al-Tajribat yang sudah kami rumuskan ini sudah bisa diterapkan,” jelas Ulumudin.
Ia menegaskan bahwa Al-Tajribat merupakan hasil kolaborasi lintas institusi.
“Ini hasil kolaborasi FKDT, Dinas Pendidikan, Ma’had Aly At-Tarmasi, dan IAI Attarmasi,” tegasnya.
Selain materi baca tulis Alquran, FKDT Pacitan juga tengah menyiapkan pengembangan modul lain.
“Saat ini materi fikih dan akidah akhlak juga sedang digodok,” ungkap Ulumudin.
Ia menyebut Al-Tajribat sebagai kebanggaan bersama masyarakat Pacitan karena merupakan produk pendidikan lokal.
“Ini menjadi kebanggaan kita bahwa Al-Tajribat adalah produk asli Kabupaten Pacitan. Ini milik kita semua,” katanya.
Program integrasi ini sekaligus menandai babak baru kolaborasi antara pendidikan formal dan pendidikan keagamaan berbasis masyarakat.
“Yang biasanya tiga jam di sekolah, mulai sekarang kita sempurnakan menjadi delapan jam per minggu. Artinya pendidikan formal sudah berkolaborasi dengan kultur ngaji di kampung-kampung,” paparnya.
Menurut Ulumudin, kehadiran para lulusan pesantren dan kiai kampung dalam ekosistem sekolah formal menjadi kekuatan tersendiri.
“Para lulusan pesantren yang jadi kiai kampung kini digandeng oleh sekolah formal,” ujarnya.
FKDT Pacitan menegaskan komitmen jangka panjang program ini.
“Kami punya komitmen bersama, Pacitan yang kita cintai ini ke depan bebas dari buta Alquran dan memiliki akhlak mulia,” tandasnya.
Adapun konten utama Al-Tajribat difokuskan pada pengenalan huruf hijaiyah sebagai fondasi membaca Alquran, hadis, hingga kitab kuning.
“Kontennya mengenalkan huruf hijaiyah, karena akan dipakai dalam membaca Alquran, hadis, dan kitab kuning,” jelas Ulumudin.
Sementara itu, Pembina FKDT Jawa Timur KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi menegaskan bahwa program ini sejatinya merupakan bagian dari misi kenabian dalam dunia pendidikan.
“Tujuan kita sebagai guru atau al-mu’allim adalah menyampaikan risalah nubuwah. Nilai-nilai kenabian itu termasuk iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq, belajar, mengaji, membaca, menulis, dan akhlak,” tutur KH Luqman.
Ia menekankan bahwa akhlak terpuji menjadi fondasi paling utama.
“Akhlak terpuji itu paling penting. Kalau anak muda kita tidak bisa membaca Alquran, yang dosa ya kita sendiri,” tegasnya.
KH Luqman juga mengingatkan agar para pendidik tidak saling menyalahkan.
“Jangan menyalahkan Kemenag, FKDT, atau Dinas Pendidikan. Tapi salahkan kita sebagai guru yang bertanggung jawab atas semua itu,” katanya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, ia berpesan agar guru Madin mengedepankan pendekatan yang penuh kesabaran dan kasih sayang.
“Para guru Madin nantinya harus memperlakukan para siswa dengan telaten dan sabar. Kedepankan kasih sayang,” pesannya.
Ia mengakui adanya pergeseran pola pendidikan dibanding masa lalu.
“Berbeda dengan era dulu. Guru Alquran harus disiplin dan tegas. Saat ini kita harus tetap disiplin, tapi mendahulukan kasih sayang,” ujar KH Luqman.
Ia pun menyampaikan kebanggaannya terhadap program integrasi tersebut.
“Saya sangat bangga terhadap program integrasi sekolah sak ngajine ini. Saya puas. Saya lillahi ta’ala,” ucapnya.
Menurutnya, kurikulum Al-Tajribat telah disesuaikan dengan kondisi peserta didik sekolah umum.
“Soal materi dan kurikulum tidak berat, karena disesuaikan dengan kemampuan para siswa sekolah umum,” jelasnya.
KH Luqman juga mengingatkan pentingnya adaptasi lintas generasi.
“‘Allimû aulâdakum bi zamânin ghaira zamânikum. Apalagi sekarang ini generasi Z, sementara banyak gurunya baby boomers. Ini harus disesuaikan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan kekerasan dalam pendidikan Alquran tidak lagi relevan.
“Bukan zamannya mengajar ngaji dengan pola kekerasan. Ini harus diantisipasi betul,” tegasnya.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan Khemal Pandu Pratikna melalui Kepala Bidang Pembinaan SMP Fandi Normansyah menyatakan bahwa Perguruan Islam Pondok Tremas menjadi pusat kegiatan integrasi Madin dan sekolah formal.
“Perguruan Islam Pondok Tremas kini menjadi markas integrasi Madin dan sekolah formal,” kata Fandi.
Ia mengapresiasi fasilitasi dari pengasuh Pondok Tremas.
“Alhamdulillah, kita semua difasilitasi oleh Pengasuh PIP Tremas sekaligus Pembina FKDT Jawa Timur KH Luqman Al Hakim Harits Dimyathi,” ujarnya.
Fandi menyebut program ini sebagai prioritas Pemkab Pacitan.
“Seperti beberapa tahapan sebelumnya, program integrasi ini menjadi salah satu program prioritas Pemkab Pacitan yang harus kita sukseskan bersama,” tegasnya.
Ia menjelaskan pentingnya penyamaan persepsi antarpemangku kepentingan.
“Kita menginginkan persamaan persepsi, karena kompetensi keagamaan anak-anak kita sangat beragam. Ada yang sudah bisa baca Alquran, tapi ada juga yang belum mengenal huruf hijaiyah,” jelasnya.
Melalui modul Al-Tajribat, disparitas tersebut diharapkan dapat diatasi.
“Forum ini akan menyamakan persepsi para kepala Madin dan guru Madin melalui materi yang disusun FKDT Kabupaten Pacitan,” pungkas Fandi.
Finalisasi program integrasi Madin dan sekolah formal ini digelar di Mushala Dua Abad Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, Rabu (21/1/2026).
Dihadiri, Dindik, Kemenag, FKDT, kepala Madin, MGMP dan guru Madin se Kabupaten Pacitan.
Sementara itu, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kemenag Pacitan, Sumino, menyatakan optimisme terhadap program tersebut.
“Slogannya sekolah sak ngajine. Insyaallah, berdasarkan keyakinan ini program bisa dilaksanakan dan berhasil,” ujarnya. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |