TIMES JATIM, MALANG – Menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga menjadi ruang berdamai dengan masa lalu. Hal itulah yang disampaikan penulis Rinda Puspasari yang baru saja meluncurkan dua buku terbarunya.
Menariknya, Rinda mencatatkan diri sebagai perempuan pertama di Indonesia yang meluncurkan dua buku dari dua genre berbeda dalam satu acara. Dua buku tersebut yakni Di Bawah Langit yang Bukan Milikku, sebuah memoar reflektif, serta Koi: Dari Kolam Kaisar ke Nusantara yang mengulas sejarah dan filosofi ikan koi.
Buku Di Bawah Langit yang Bukan Milikku lahir dari kegelisahan batin yang lama dipendam. Rinda menyebut karyanya sebagai memoar atau catatan peristiwa masa lalu yang ditulis bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk memahami kehidupan secara lebih utuh.
“Setiap peristiwa itu tidak berdiri sendiri. Selalu ada sejarah dan alasan di baliknya. Kenapa ibu saya seperti itu, kenapa saya menjadi seperti ini, semua ada faktor yang menyertai,” ujar Rinda, Minggu (8/2/2026).
Kejujuran menjadi napas utama dalam buku tersebut. Namun, ia mengakui bahwa menulis kisah personal, terutama yang bersinggungan dengan keluarga, bukanlah perkara mudah.
“Menulisnya berat, karena saya harus jujur. Pasti ada pihak yang tidak nyaman membaca. Tapi tujuan saya bukan menyalahkan, melainkan memahami faktornya,” ungkapnya.
Meski sarat emosi, Rinda berupaya menyampaikan kisah tanpa amarah. Ia justru mengajak pembaca untuk tidak reaktif dalam menyikapi kegagalan atau peristiwa pahit.
“Kalau kita gagal, jangan hanya berhenti di peristiwanya. Ada sejarah di balik itu. Ada banyak faktor. Itu yang ingin saya sampaikan,” katanya.
Menurut Rinda, kedewasaan tidak diukur dari usia, melainkan dari cara seseorang menyikapi persoalan hidup.
“Menjadi dewasa itu bukan soal usia, tapi soal bagaimana kita menyikapi masalah. Tidak reaktif, tidak cepat menyimpulkan, dan berani menentukan sikap terbaik untuk diri sendiri,” imbuhnya.
Pendekatan reflektif tersebut mendapat sambutan positif. Rinda mengungkapkan bahwa buku memoarnya dinobatkan sebagai best seller Januari oleh Stiletto Publisher. Meski demikian, ia mengaku tidak terlalu memikirkan angka penjualan.
“Saya bahkan tidak tahu sudah terjual berapa. Bagi saya, yang penting buku ini sampai ke orang yang membutuhkan,” ucapnya.
Selain memoar, Rinda juga meluncurkan buku Koi: Dari Kolam Kaisar ke Nusantara. Buku ini membahas perjalanan ikan koi dari simbol kekaisaran hingga berkembang di Indonesia, lengkap dengan nilai-nilai filosofis di baliknya.
Berangkat dari latar belakang akademiknya sebagai alumni Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya serta riset tentang penyakit koi, Rinda justru mengaku sempat merasa asing dengan ikan yang dikenal indah dan bernilai tinggi tersebut.
“Setelah lulus, saya malah bertanya, kenapa saya tidak benar-benar paham tentang koi. Dari situ saya mulai menulis buku ini,” tuturnya.
Berbeda dari buku akademik, Koi ditulis dengan pendekatan naratif dan reflektif. Rinda menegaskan, buku ini ditujukan untuk pembaca umum, bukan hanya kalangan perikanan.
“Saya ingin menunjukkan koinya yang berbicara. Koinya yang bercerita, kenapa dia berwarna seperti ini, kenapa dia lemah, dan kenapa dia ada di Indonesia,” pungkasnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Memoar dan Koi, Rinda Puspasari Menyatukan Refleksi Diri dan Ilmu dalam Dua Buku
| Pewarta | : Rizky Kurniawan Pratama |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |