TIMES JATIM, PACITAN – Pemerintah Kabupaten Pacitan (Pemkab Pacitan) segera merealisasikan program integrasi Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan Madrasah Diniyah (Madin).
Program penguatan pendidikan karakter berbasis keagamaan ini dijadwalkan diluncurkan secara serentak pada pertengahan Januari 2026, dengan melibatkan puluhan sekolah di seluruh wilayah Pacitan.
Hingga awal Januari ini, sebanyak 72 SMP negeri dan swasta di Pacitan telah menyatakan kesiapan mengikuti program integrasi tersebut.
Program ini digagas sebagai upaya memperkuat karakter, akhlak, dan nilai-nilai keagamaan peserta didik di tengah tantangan pergaulan dan perkembangan teknologi yang kian kompleks.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Pandu Surya Pratikna, menjelaskan bahwa seluruh persiapan dilakukan secara bertahap dan sistematis melalui mekanisme desk evaluasi.
Evaluasi tersebut melibatkan unsur sekolah, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), pimpinan Madrasah Diniyah, serta guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
“Setiap SMP kita undang ke dinas untuk kita evaluasi satu per satu. Kita tanyakan kesiapan sekolah, pembagian jadwal, jumlah ustadz-ustadzah, serta lembaga Madin yang akan bekerja sama,” ujar Pandu saat dikonfirmasi, Jumat (9/1/2026).
Menurut Pandu, desk evaluasi menjadi tahapan penting untuk memastikan program integrasi berjalan realistis dan sesuai dengan kondisi di masing-masing sekolah. Pemerintah daerah tidak ingin kebijakan ini bersifat seragam tanpa mempertimbangkan karakteristik sekolah dan lingkungan sekitar.
Ia menegaskan, pengaturan jam pembelajaran Madin nantinya bersifat fleksibel. Penyesuaian waktu diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar reguler.
“Jam pembelajaran akan ada penyesuaian dan kami serahkan kepada masing-masing sekolah untuk dikomunikasikan dengan baik,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, SMP akan bekerja sama dengan Madrasah Diniyah yang berada di sekitar lingkungan sekolah.
Dari Madin tersebut, akan ditunjuk ustadz dan ustadzah sebagai tenaga pengajar. Jika kebutuhan tenaga pendidik belum terpenuhi, FKDT akan berperan membantu mencarikan guru dari lingkungan sekitar.
“Bisa dari ustadz, ustadzah, bahkan kyai kampung yang ada di sekitar sekolah,” tambah Pandu.
Tak berhenti pada desk evaluasi, Dinas Pendidikan Pacitan juga merencanakan pertemuan lanjutan yang melibatkan berbagai pihak lintas sektor.
Pertemuan tersebut akan menghadirkan kepala sekolah, pimpinan Madin, Ketua FKDT, serta dinas terkait seperti Dinas Keluarga Berencana, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, hingga aparat kepolisian.
Langkah ini dilakukan untuk memberikan gambaran utuh mengenai kondisi pergaulan anak dan remaja saat ini, sekaligus menyamakan persepsi terkait tujuan program integrasi SMP–Madin.
“Ini bukan sekadar program pendidikan, tapi juga upaya perlindungan dan pembinaan karakter anak. Karena itu, kami libatkan lintas sektor,” ungkap Pandu.
Ia mengungkapkan, respons dari kalangan pesantren dan Madrasah Diniyah terhadap program ini sangat positif. Dukungan para pengasuh pondok pesantren dinilai menjadi modal sosial penting dalam menyukseskan integrasi pendidikan formal dan nonformal tersebut.
“Alhamdulillah, dukungan dari para pengasuh pondok pesantren luar biasa. Sampai sekarang 72 SMP sudah siap menjalankan integrasi Madin,” katanya.
Pandu menambahkan, peluncuran resmi program ini direncanakan berlangsung di Pendopo Kabupaten Pacitan. Waktu pelaksanaan ditargetkan pada pertengahan Januari 2026, sambil menunggu arahan langsung dari Bupati Pacitan.
“Untuk launching serentak kita rencanakan insyaallah di pertengahan bulan Januari ini di pendopo sambil menunggu arahan Pak Bupati,” imbuhnya.
Dukungan juga datang dari kalangan guru. Bambang Setyo Utomo, perwakilan dari SMPN 1 Tegalombo, menyatakan apresiasi terhadap inisiatif Dinas Pendidikan Pacitan tersebut.
Menurutnya, integrasi SMP dan Madin menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi muda yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan spiritual.
“Program yang digagas Pak Kepala Dinas ini sangat bagus dan kami mengapresiasi serta mendukung penuh,” ujarnya.
Ia berharap, keberadaan Madrasah Diniyah di lingkungan sekolah dapat memperkuat pendidikan karakter peserta didik secara nyata.
“Harapannya anak-anak tidak hanya pintar dari sisi keilmuan, tetapi juga kuat dalam agama dan berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Siti Khuruta, perwakilan Madin Darul Ulum Wustho Kasihan, Tegalombo.
Ia menilai program integrasi ini sebagai langkah progresif, meski diakui membawa tantangan baru, khususnya dalam aspek administrasi dan pengelolaan Madrasah Diniyah.
“Kami mengapresiasi program ini. Meskipun menjadi tantangan baru dalam pengelolaan administrasi Madrasah Diniyah, kami berharap program ini mampu mencetak generasi yang saleh dan berakhlak di tengah kemajuan teknologi,” tuturnya.
Dengan peluncuran yang kian dekat, Pemerintah Kabupaten Pacitan optimistis integrasi SMP–Madin dapat menjadi model pendidikan karakter yang berkelanjutan.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan agama, tetapi juga menjadi benteng moral bagi generasi muda Pacitan di era modern. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Ronny Wicaksono |