TIMES JATIM, MALANG – Di negeri yang katanya subur dan ramah, hutan-hutan tak lagi selalu hijau. Ada hutan lain yang tumbuh diam-diam, bukan dari benih dan hujan, melainkan dari plastik, sisa makanan, dan kemasan sekali pakai. Ia tidak berakar, tetapi menguasai ruang.
Tidak bernapas, namun mencekik. Inilah hutan limbah sebuah lanskap baru yang menjalar dari sudut kota hingga pinggir desa, dari selokan kecil hingga bantaran sungai, dari taman publik hingga halaman rumah sendiri.
Sampah bukan sekadar benda sisa. Ia adalah cermin. Dari caranya berserakan, kita bisa membaca watak masyarakatnya. Dari baunya, kita bisa mencium kelalaian yang diwariskan.
Indonesia, dengan segala kekayaan alam dan kearifan lokal yang sering dibanggakan, justru memperlihatkan paradoks menyakitkan: kita fasih berbicara tentang cinta lingkungan, tetapi gagap mempraktikkan kebersihan paling dasar.
Pemandangan sampah di negeri ini seperti latar permanen. Di sudut kota, plastik menggantung di pagar seperti bendera kekalahan. Di tepi jalan, botol dan bungkus makanan berserakan seolah menjadi ornamen yang tak pernah direncanakan.
Di sungai, sampah mengalir bersama air, menumpuk di tikungan, lalu membusuk menjadi aroma yang mematikan kesadaran. Bahkan di tempat-tempat yang diberi label “ruang publik”, tempat sampah sering kalah oleh tangan-tangan malas yang memilih jalan pintas: membuang sesuka hati, selama ada kesempatan.
Masalahnya bukan semata kurangnya fasilitas. Tempat sampah ada, imbauan terpampang, spanduk terbentang, bahkan sanksi tertulis. Namun semua itu sering berhenti sebagai dekorasi kebijakan. Yang absen adalah kesadaran.
Kita hidup dalam budaya “nanti ada yang membersihkan”. Sebuah keyakinan kolektif bahwa kebersihan adalah tugas petugas, bukan tanggung jawab pribadi. Maka, sampah dilempar begitu saja, seperti dosa kecil yang dianggap akan hilang sendiri.
Hutan limbah ini tumbuh subur karena kebiasaan. Kebiasaan kecil yang diremehkan, tetapi dilakukan berjuta kali setiap hari. Satu bungkus plastik dibuang ke selokan, satu puntung rokok dijatuhkan ke trotoar, satu kantong sampah dilempar ke sungai saat malam. Dari kebiasaan itulah, wajah kota berubah. Bukan lagi wajah ramah dan tertata, melainkan wajah kusam yang dipenuhi sisa-sisa ketidakpedulian.
Ironisnya, kita marah ketika banjir datang. Kita mengeluh ketika sungai meluap dan bau menyergap rumah. Kita menyalahkan hujan, menyalahkan pemerintah, menyalahkan segalanya kecuali kebiasaan sendiri. Padahal, banjir sering kali hanyalah cara alam mengembalikan apa yang kita buang sembarangan. Air tidak pernah lupa, ia hanya menunggu waktu untuk membalas.
Lebih menyedihkan lagi, hutan limbah ini diwariskan. Anak-anak tumbuh dengan pemandangan sampah sebagai hal biasa. Mereka belajar bukan dari buku pelajaran, melainkan dari contoh di sekelilingnya.
Ketika orang dewasa membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah, pesan yang sampai sederhana: kebersihan tidak penting. Maka, siklus itu berulang, dari generasi ke generasi, seperti kutukan yang tak pernah diputus.
Kita sering membanggakan kearifan lokal: gotong royong, hidup selaras dengan alam, menghormati ruang bersama. Namun nilai-nilai itu kerap tinggal slogan. Di lapangan, ruang bersama diperlakukan seperti ruang tak bertuan. Jalan, sungai, dan taman menjadi tempat pelarian sampah pribadi. Seolah-olah, selama bukan halaman rumah sendiri, maka tidak perlu dijaga.
Hutan limbah juga mencerminkan relasi kita dengan konsumsi. Kita gemar membeli, tetapi malas mengurus sisa. Plastik sekali pakai menjadi simbol gaya hidup instan: cepat, praktis, lalu dibuang. Kita menikmati manfaatnya, tetapi menolak menanggung akibatnya. Sampah menjadi bayangan gelap dari pola hidup yang tak mau bertanggung jawab.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kota-kota kita akan kehilangan wajahnya. Yang tersisa bukan identitas budaya atau keindahan ruang, melainkan lapisan-lapisan limbah yang menumpuk seperti arsip kelalaian. Ruang publik berubah menjadi museum sampah, dan kita semua menjadi kuratornya.
Mengatasi hutan limbah tidak cukup dengan kampanye sesaat atau kerja bakti seremonial. Ia membutuhkan perubahan cara pandang. Sampah harus dilihat sebagai tanggung jawab personal sebelum menjadi urusan kolektif. Kebersihan bukan soal estetika semata, tetapi soal martabat. Cara kita memperlakukan sampah menunjukkan seberapa besar kita menghargai ruang hidup sendiri.
Pendidikan kebersihan harus dimulai dari hal paling sederhana: membuang sampah pada tempatnya, memilah, dan mengurangi. Bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan teladan nyata. Sebab, kesadaran tidak tumbuh dari spanduk, tetapi dari kebiasaan yang diulang setiap hari.
Hutan sampah adalah peringatan sunyi. Ia tidak berteriak, tetapi terus bertambah. Ia tidak menuntut, tetapi pelan-pelan merampas kualitas hidup. Pertanyaannya bukan apakah kita punya aturan atau fasilitas, melainkan apakah kita cukup peduli untuk berhenti melempar sampah sembarangan. Sebab, di balik setiap tumpukan sampah, ada wajah kita sendiri yang tercermin. Dan wajah itu, hari ini, belum sepenuhnya bersih.
***
*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |