TIMES JATIM, MALANG – Menjamurnya banyak rumah baca dan komunitas lliterasi di Kota Malang menggeser kebiasaan masyarakat. Membaca yang kerap dijadikan aktivitas penggiran, perlahan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, khususnya di kalangan anak muda dan mahasiswa.
Menurut Hari, salah satu pegiat literasi di Kota Malang, perkembangan komunitas literasi di Malang mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hampir di setiap kampus bermunculan komunitas literasi dengan beragam fokus, mulai membaca buku, diskusi, hingga pendampingan anak-anak.
Dia menuturkan, literasi mulai berkembang pesat di Kota Malang pasca Covid-19. Banyak pula anak muda di luar kampus yang mulai aware terhadap literasi. Mereka menginisiasi beragam komunitas dan rumah baca yang menyediakan pengalaman membaca.
“Pasca pandemi, kesadaran terhadap literasi meningkat. Tidak hanya dari mahasiswa, tapi juga anak muda di luar kampus yang mulai aware, lalu membentuk komunitas dan rumah baca,” ujar Cak Pendek, sapaannya.
Berbagai rumah baca tersebut menyediakan akses membaca gratis dan terbuka bagi masyarakat umum. Kehadirannya, kata Cak Pendek, menjadi ruang alternatif bagi warga untuk menikmati aktivitas literasi tanpa sekat, sekaligus membangun interaksi sosial yang lebih sehat.
Kegiatan literasi dan diskusi setiap weekend yang diadakan oleh komunitas Sabtu Membaca. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Perkembangannya tak lepas dari kekuatan media sosial dalam berperan penting mengembangkan gaya hidup baru ini. Konten edukatif seputar literasi yang dibuat oleh komunitas dan pegiat literasi di Kota Malang makin masif beredar di platform digital. Mulai dari rekomendasi buku, dokumentasi kegiatan membaca bersama, hingga ajakan bergabung ke komunitas literasi.
“Kekuatan media sosial sangat membantu. Banyak orang akhirnya tertarik ikut komunitas atau sekadar datang membaca,” ucap pria yang tergabung dalam komunitas Sabtu Membaca itu.
Beberapa pengusaha pun melihat peluang tersebut. Mereka merespons dengan membangun kafe atau kedai kopi berkonsep pustaka. Konsep membaca santai ditemani secangkir kopi atau minuman menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus memperluas ruang literasi.
Kendati begitu, Cak Pendek menilai keberlangsungan literasi di Malang masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah minimnya inisiatif pribadi masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai kebutuhan sehari-hari. Sebagian masih bersifat ikut-ikutan, meski hal tersebut tetap dianggap sebagai awal yang positif.
Tantangan lainnya adalah ketergantungan pada peran mahasiswa. Saat ini, banyak komunitas literasi digerakkan oleh mahasiswa sebagai relawan. Ketika regenerasi tidak berjalan, sejumlah komunitas terpaksa berhenti beraktivitas.
Cak Pendek berkeinginan membuat warga Kota Malang dapat mencintai literasi secara merata supaya terus hidup. Literasi diharapkan bisa menjadi gaya hidup baru warga Malang, karena akses dan fasilitas yang relatif mudah dan beragam.
“Kalau warga Malang banyak yang cinta literasi, maka ada harapan untuk terus hidup,” ujar dia.
Ia juga mengajak para orang tua untuk menanamkan budaya literasi sejak dini kepada anak-anak. Pengurangan interaksi digital berlebihan dinilai penting agar anak dapat tumbuh dengan karakter kuat melalui kebiasaan membaca.
Literasi, menurutnya, bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi fondasi pembentukan karakter dan masa depan generasi Kota Malang. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |