https://jatim.times.co.id/
Opini

Tangis Guru dalam Seporsi MBG

Selasa, 20 Januari 2026 - 19:42
Tangis Guru dalam Seporsi MBG Agam Rea Muslivani, S.H., Praktisi Hukum Malang.

TIMES JATIM, MALANG – Di atas meja kelas yang catnya mulai pudar, seporsi Makan Bergizi Gratis (MBG) terhidang dengan lauk sederhana. Nasi putih mengepul, sayur bening, dan sepotong telur dadar. Bagi sebagian orang, ini mungkin menu biasa. Tapi bagi seorang guru honorer di pelosok negeri, seporsi itu bisa menjadi penanda betapa panjang dan sunyinya jalan pengabdian.

Guru itu menunduk. Bukan karena malu, tapi karena matanya basah. Air matanya jatuh bukan ke piring, melainkan ke kenyataan hidup yang selama ini dipikul sendirian: gaji tak seberapa, beban moral mendidik generasi, serta tuntutan hidup yang tak pernah menunggu kesiapan.

Program MBG hadir dengan niat baik: memastikan anak-anak Indonesia tidak belajar dalam keadaan lapar. Negara ingin memastikan otak yang kenyang agar cita-cita besar Indonesia Emas tidak tumbuh dari perut kosong. Namun di balik niat baik itu, terselip ironi yang pelan-pelan menyayat: guru yang mengajarkan tentang masa depan, justru kerap lupa bagaimana menjamin hari esoknya sendiri.

Banyak guru honorer hidup di antara angka dan doa. Angka di slip honor yang sering tak cukup, dan doa yang panjang agar bulan depan masih bisa bertahan. Mereka mengajarkan matematika, tapi tak bisa menghitung kapan hidupnya benar-benar sejahtera. Mereka mengajarkan PPKn tentang keadilan sosial, tapi setiap pulang sekolah harus bernegosiasi dengan warung tentang utang beras.

MBG, dalam konteks ini, menjadi semacam cermin. Ia memantulkan wajah negara yang perhatian pada murid, tetapi masih gamang memeluk gurunya. Seporsi makanan bergizi terasa seperti oase, namun juga seperti pengingat sunyi: “Beginikah nilai seorang pendidik di negeri sendiri?”

Guru bukan hanya pengantar materi pelajaran. Mereka adalah penjaga peradaban di ruang paling sunyi bernama kelas. Di sanalah karakter dibentuk, keberanian diasah, dan mimpi pertama kali dikenalkan. Tapi ironisnya, banyak dari mereka menjalani hidup seperti lilin: menerangi orang lain sambil melelehkan dirinya sendiri.

Tangisan guru di depan seporsi MBG bukanlah drama murahan. Itu adalah bahasa batin yang selama ini tak masuk dalam tabel kebijakan. Air mata itu adalah akumulasi dari lelah yang tak terdengar, dari harga diri yang sering harus dilipat agar cukup untuk membeli buku anaknya sendiri.

Kita sering membicarakan kualitas pendidikan dengan istilah besar: kurikulum merdeka, literasi digital, kecerdasan buatan, dan daya saing global. Tapi lupa bahwa fondasi semua itu berdiri di atas pundak manusia biasa bernama guru, yang juga punya perut, cicilan, dan kecemasan.

Jika negara sungguh ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, maka seporsi MBG seharusnya menjadi pintu masuk untuk bertanya lebih dalam: bagaimana dengan kesejahteraan guru? Bagaimana dengan status kerja yang tak pasti? Bagaimana dengan jaminan kesehatan, hari tua, dan martabat profesi?

Pendidikan tidak tumbuh dari poster motivasi atau pidato seremoni. Ia tumbuh dari ruang kelas yang hangat dan guru yang pulang tanpa rasa kalah oleh hidup. Anak-anak bisa kenyang hari ini, tapi siapa yang menjamin guru tidak lapar akan keadilan?

Tangisan itu mestinya tidak berhenti sebagai viral sesaat. Ia harus berubah menjadi gema kebijakan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang mampu memberi makan muridnya, tetapi yang juga memuliakan gurunya.

Seporsi MBG memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah memastikan bahwa guru tidak hanya diberi makan, melainkan juga diberi masa depan.

***

*) Oleh : Agam Rea Muslivani, S.H., Praktisi Hukum Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.