TIMES JATIM, BANYUWANGI – Fenomena Gen Z atau Generasi Z hari ini tumbuh dalam dunia serba cepat, terbuka, sekaligus penuh ketidakpastian. Di satu sisi, peluang terbentang luas.
Di sisi lain, tekanan hidup datang bertubi-tubi. Tidak mengherankan jika fenomena Quarter-Life Crisis (QLC) semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan usia 20–30 tahun.
Kecemasan akan masa depan, kebingungan menentukan arah hidup, tekanan sosial untuk “segera berhasil”, serta rasa tertinggal dibanding teman sebaya menjadi pengalaman yang nyata dan berulang.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB Banyuwangi), Dr. Emi Hidayati, M.Si, menyampaikan bahwa psikolog perkembangan, Jeffrey Arnett menyebut fase dewasa awal sebagai masa “usia eksplorasi”. Yakni ketika seseorang belum sepenuhnya mapan tetapi sudah dituntut bertanggung jawab atas hidupnya.
“Dalam fase ini, menurut Santrock, individu sering kali belum memiliki cukup pengalaman hidup untuk menghadapi tuntutan besar, sehingga mudah mengalami kegelisahan dan krisis identitas,” katanya, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, itulah yang oleh banyak peneliti disebut sebagai QLC—bukan gangguan mental, tetapi gejolak perkembangan yang bisa menjadi titik rapuh sekaligus titik tumbuh.
Hasil penelitian beberapa akademisi, lanjutnya, menunjukkan bahwa QLC berkaitan erat dengan kesejahteraan subjektif. Yaitu bagaimana seseorang menilai dan merasakan kualitas hidupnya. Emi, sapaan akrabnya juga menerangkan bahwa Ed Diener, tokoh utama studi Subjective Well-Being, menjelaskan bahwa kesejahteraan bukan hanya soal kondisi objektif, tetapi “bagaimana individu memaknai hidupnya, merasa puas, dan mengalami emosi positif”.
“Masalahnya, banyak anak muda hari ini merasa hidupnya “baik-baik saja” di atas kertas—lulus kuliah, punya gawai, akses informasi—namun tetap gelisah, tidak tenang, dan cemas menghadapi masa depan,” bebernya.
Salah satu pemicu utama kecemasan itu menurutnya adalah persoalan ekonomi dan keuangan pribadi. Tekanan untuk mandiri secara finansial datang lebih cepat, sementara literasi keuangan sering tertinggal. Banyak Gen Z terjebak pada gaya hidup konsumtif, utang digital, paylater, dan standar kesuksesan semu yang diproduksi media sosial.
Padahal, seperti dikatakan Amartya Sen, pembangunan sejati bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kemampuan manusia untuk memilih hidup yang ia nilai bermakna. Tanpa literasi keuangan, kemampuan itu rapuh.
Mulai banyak penelitian yang menunjukkan bahwa usia 20–24 tahun merupakan kelompok paling rentan mengalami QLC. Mereka berada di persimpangan, lulus sekolah atau kuliah, mencari kerja, memikirkan pernikahan, dan menghadapi ekspektasi keluarga.
“Perempuan, menurut temuan penelitian tersebut, cenderung mengalami tekanan ganda—tuntutan karier sekaligus tuntutan relasi dan peran domestik. Dalam situasi ini, ketidakpastian ekonomi sering memperbesar kecemasan emosional,” papar Emi.
Pengurus MUI Banyuwangi, Bidang Pemberdayaan Keluarga, Perempuan dan Anak ini juga melontarkan bahwa Albert Bandura pernah menegaskan bahwa self-efficacy—keyakinan seseorang atas kemampuannya mengelola hidup—menjadi faktor pelindung penting dalam menghadapi tekanan.
“Penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa individu dengan efikasi diri tinggi dan harapan hidup (hope) yang kuat cenderung lebih mampu meredam dampak QLC. Di sinilah literasi keuangan berperan strategis, bukan sekadar soal menghitung uang, tetapi membangun rasa kendali, perencanaan, dan harapan yang realistis,” ulas Emi.
Sayangnya, literasi keuangan sering diajarkan secara teknis dan kering, tanpa menyentuh dimensi nilai dan makna hidup. Padahal, dalam perspektif ekonomi Islam, pengelolaan keuangan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.
Mantan anggota DPRD Banyuwangi ini turut menuturkan bahwa M. Umer Chapra menegaskan bahwa tujuan ekonomi Islam bukan akumulasi kekayaan. Melainkan tercapainya kesejahteraan manusia secara menyeluruh—material dan spiritual. Prinsip keseimbangan (wasathiyah), perencanaan (tadbir), dan amanah menjadi fondasi penting agar harta tidak justru menjadi sumber kegelisahan.
Literasi keuangan berbasis nilai syariah mengajarkan bahwa hidup tidak harus serba instan. Bahwa rezeki perlu dikelola dengan sabar, bahwa hutang bukan solusi utama, dan bahwa masa depan perlu disiapkan dengan ikhtiar, bukan kecemasan. Nilai ini sangat relevan bagi Gen Z yang hidup dalam budaya serba cepat dan penuh perbandingan.
“Seperti diingatkan Erich Fromm, manusia modern sering terjebak pada orientasi “memiliki” alih-alih “menjadi”, sehingga kehilangan ketenangan batin,” cetusnya.
Pendekatan holistik terhadap QLC, melihat krisis bukan sebagai kegagalan. Tetapi sebagai proses. Robinson, masih Emi, menyebut fase ini sebagai perjalanan dari rasa terjebak, jeda reflektif, eksplorasi, hingga pembangunan ulang identitas.
Menurutnya, literasi keuangan yang sehat dapat menemani setiap fase itu—membantu anak muda berhenti sejenak, menata ulang prioritas, dan membangun masa depan secara lebih sadar.
“Kita perlu segera menyadari, fenomena QLC sedang melanda dan menggempur generasi muda. Menjawabnya tidak cukup dengan nasihat “harus kuat”, “sabar” atau “nanti juga lewat”,” ungkap Emi.
“Namun diperlukan tanggung jawab kolektif dari keluarga, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan negara untuk menghadirkan bekal hidup yang lebih nyata dan relevan bagi Generasi Z yang rata-rata jumlah sekitar 27,94 persen dari total populasi di suatu wilayah,” imbuhnya.
Dalam hal ini, Dosen Fakultas Dakwah UNIIB tersebut menekankan salah satu ikhtiar penting adalah memperkuat literasi keuangan yang tidak hanya teknis. Tetapi berakar pada nilai, etika, dan makna hidup, sehingga kecemasan masa depan tidak dihadapi dengan ketakutan. Namun dengan kesiapan dan harapan. (*)
| Pewarta | : Syamsul Arifin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |