TIMES JATIM, SURABAYA – Kepedulian terhadap lingkungan mendorong Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, berinovasi mengolah limbah kulit bawang putih menjadi berbagai produk ramah lingkungan bernilai ekonomi.
Proyek tersebut telah ia jalankan sejak Februari 2024, bermula dari keikutsertaannya dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, mewakili sekolahnya.
“Dari situ saya tertarik mengolah limbah kulit bawang putih yang selama ini dianggap tidak bernilai,” ujar Raihan, dikutip Selasa (20/1/2026).
Pada tahap awal, Raihan memfokuskan pengolahan limbah tersebut menjadi tinta spidol ramah lingkungan. Seiring waktu, jumlah kulit bawang putih yang berhasil ia kumpulkan terus bertambah hingga mencapai sekitar 3,12 ton. Kondisi itu mendorongnya mengembangkan inovasi lanjutan berupa eco enzyme dan sabun cair.
Ide tersebut, kata Raihan, tidak lepas dari bimbingan guru pembina yang melihat limbah pertanian sebagai potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Dari hasil riset, kulit bawang putih yang dibakar secara tertutup dapat menghasilkan black carbon. Senyawa ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif tinta spidol yang lebih ramah lingkungan dan aman digunakan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Proses pembuatan tinta spidol dari limbah bawang putih. (Foto: Pemkot Surabaya)
Proses pengolahan dimulai dengan menjemur kulit bawang putih hingga kering, lalu diperkecil ukurannya menggunakan blender. Selanjutnya, bahan dibakar secara tertutup hingga menghasilkan pigmen hitam, kemudian diayak dan dicampur dengan beberapa larutan hingga menjadi tinta spidol siap pakai.
Selain itu, Raihan juga memanfaatkan kulit bawang putih yang lembab atau berjamur akibat hujan untuk diolah menjadi eco enzyme agar tidak terbuang sia-sia. Dari eco enzyme tersebut, ia mengembangkan produk ketiga berupa sabun cair yang dirancang lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan pembusa berlebihan yang berpotensi mencemari perairan.
“Dukungan juga datang dari guru yang menyediakan fasilitas laboratorium IPA, mitra kerja sama, kampung binaan, serta orang tua yang membantu proses pengumpulan, pengolahan, hingga pemasaran produk,” ujarnya.
Produk-produk inovasi Raihan telah dipasarkan melalui pameran dan berbagai event lingkungan, salah satunya bersama Tunas Hijau Indonesia. Selain itu, produk juga dibeli oleh tetangga, teman, guru, mitra, serta dipasarkan melalui toko daring. Respons masyarakat pun dinilai sangat positif, terutama terhadap eco enzyme dan sabun cair.
“Ada tetangga yang sudah membeli sabun sampai tiga kali karena katanya wangi dan eco enzyme-nya bagus untuk tanaman,” tuturnya.
Meski ajang lomba telah usai, Raihan memastikan proyek pemanfaatan limbah kulit bawang putih tersebut masih terus berjalan hingga saat ini. “Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara sekolah dan proyek, serta ketersediaan bahan pendukung yang terkadang sulit didapat,” terangnya.
Hasil penjualan produknya, Raihan manfaatkan kembali untuk pengembangan proyek, mulai dari pembelian bahan baku, wadah, peralatan, hingga kebutuhan promosi.
Selain itu, ia juga memperoleh tambahan uang saku dari usahanya tersebut. Saat ini, tinta spidol berukuran 30 mililiter dijual seharga Rp15.000 per botol, sedangkan sabun cair ukuran 250 mililiter dipasarkan dengan harga Rp10.000 per botol.
Inovasi Raihan tersebut disambut positif oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati. Menurutnya, inovasi yang dilakukan Raihan sejalan dengan upaya Dispendik dalam membangun pola pikir kreatif dan inovatif peserta didik sejak usia dini.
“Ini merupakan bagian dari upaya kami mengedukasi anak-anak didik agar kepekaan dan daya pikir kreatifnya terus terasah. Dispendik secara periodik menyelenggarakan berbagai lomba, seperti karya ilmiah dan penelitian, untuk melatih kemampuan berpikir inovatif siswa,” ujar Febri sapaan akrabnya.
Ia mengapresiasi capaian Raihan yang dinilai mampu melampaui pola pemanfaatan limbah secara umum. Menurutnya, pengolahan sampah organik kerap berhenti pada pembuatan kompos, sementara Raihan mampu melihat potensi lanjutan dari limbah kulit bawang putih.
Febri menambahkan, Dispendik juga membuka ruang kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya untuk mendukung pengembangan inovasi pelajar agar berkelanjutan.
“Dengan hadirnya BRIDA, peluang kolaborasi semakin terbuka. Ini penting agar inovasi anak-anak memiliki jalur pengembangan yang jelas dan berkesinambungan,” imbuhnya.
Ke depan, Dispendik juga akan mengupayakan dukungan lanjutan agar inovasi Raihan terus berkembang melalui pembinaan riset dan inovasi, termasuk dengan melibatkan BRIDA dan jejaring riset lainnya.
“Kami akan mencarikan ruang dan jalur agar bakat seperti ini bisa terus tumbuh. Anak-anak berprestasi seperti Raihan perlu pendampingan yang tepat agar potensinya berkembang maksimal,” tandasnya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kulit Bawang Putih Bisa Jadi Tinta Spidol Hingga Sabun Cair, Seperti Apa Prosesnya?
| Pewarta | : Siti Nur Faizah |
| Editor | : Deasy Mayasari |