TIMES JATIM, BANYUWANGI – Semangat merawat tradisi dan menjaga harmoni lintas iman kembali digaungkan Komunitas Gusdurian Banyuwangi dalam memperingati Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke-16.
Melalui kegiatan Baritan Sungai (Tasyakuran di Tepi Sungai) yang dikolaborasikan dengan aksi tanam pohon itu, nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan Gus Dur dihidupkan di tengah masyarakat Bumi Blambangan.
Kegiatan yang digeber pada Minggu (4/1/2026), di DAM Sempol, Dusun Sumberasih, Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, itu Gusdurian Banyuwangi berkolaborasi dengan Perkumpulan Pemberdayaan Masyarakat Paradigma, dengan melibatkan komunitas pemuda setempat serta saudara lintas iman.
Koordinator Gusdurian Banyuwangi, Muhammad Sholeh Muria, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan upaya bersama untuk terus menyuarakan gerakan-gerakan positif yang berakar pada nilai tradisi dan kepedulian sosial.
Menurutnya, Baritan Sungai bukan sekadar ritual, tetapi simbol rasa syukur sekaligus bentuk melestarikan warisan leluhur.
Aksi tanam pohon lintas iman di Banyuwangi pada Haul Gus Dur ke-16. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
“Kita tahu, tradisi Baritan Sungai adalah bentuk syukur kita kepada Tuhan. Tradisi para pendahulu harus senantiasa kita hidupkan dan kita lestarikan agar generasi selanjutnya tahu dan diharapkan tidak tercerabut dari tradisi yang ada,” kata Bang Sholeh, sapaan kondang Muhammad Sholeh Muria, Senin (5/1/2026).
Bang Sholeh menegaskan, peringatan Haul Gus Dur menjadi momentum yang tepat untuk meneguhkan kembali pesan kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan, yang dapat bersama tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Setiap keyakinan, masih Bang Sholeh, memiliki prinsip untuk menjaga alam. Seperti dalam Islam, saat kiamat tiba pun, jika kita sedang memegang benih, maka kita harus menanamnya.
“Demikian juga pasti terdapat dalam agama-agama yang lain. Alam dan manusia punya hak dan perannya masing-masing. Dalam menjaganya, bukan hanya setiap pemeluk agama, tetapi setiap manusia, punya kewajiban akan hal ini,” tuturnya.
Salah satu pemuda setempat, Imam Baja, menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan yang digelar di DAM Sempol yang sarat dengan pesan pelestarian alam dan tradisi itu.
“Kami sangat berterima kasih, karena Haul Gus Dur ditempatkan di sini (DAM Sempol), utamanya kepada penyelenggara kegiatan ini, yakni Gusdurian dan Paradigma,” cetusnya.
“Kami berharap aksi tanam pohon maupun upaya melestarikan tradisi, seperti Baritan Sungai ini, menjadi komitmen yang terus kita giatkan bersama,” sambungnya.
Sekadar diketahui, rangkaian kegiatan Haul Gus Dur ke-16 ini diawali dengan tahlil bersama, dilanjutkan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, dan ditutup dengan aksi penanaman pohon bersama saudara lintas iman termasuk pengunjung wisata DAM Sempol yang tengah berlibur.
Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan penuh khidmat, sederhana, namun sarat makna persaudaraan, sebuah refleksi nyata dari ajaran Gus Dur tentang kemanusiaan, toleransi, dan cinta pada alam. (*)
| Pewarta | : Syamsul Arifin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |