https://jatim.times.co.id/
Wisata

Mengenal Situs Petirtaan Watugede, Cagar Budaya Peringkat Nasional yang Ada di Malang

Rabu, 07 Januari 2026 - 14:14
Mengenal Situs Petirtaan Watugede, Cagar Budaya Peringkat Nasional yang Ada di Malang Situs Petirtaan Watugede, Cagar Budaya Peringkat Nasional yang ada di wilayah Kabupaten Malang. (foto: Istimewa)

TIMES JATIM, MALANG – Situs Petirtaan Watugede menjadi salah satu warisan budaya penting di Kabupaten Malang yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Nomor PM.56.PW.007/MKP/2010, yang menegaskan nilai sejarah dan budaya situs ini bagi bangsa Indonesia.

Mengutip laman Malang Kabupaten Tourism Intelligence Center (Matic) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Situs Petirtaan Watugede terletak di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Situs ini dikenal sebagai petirtaan bersejarah yang hingga kini masih dianggap keramat oleh masyarakat pelestari budaya Jawa.

Secara historis, Petirtaan Watugede diyakini berasal dari masa Kerajaan Singhasari, sekitar tahun 1222 hingga 1292 Masehi. Kolam petirtaan ini pada masa lalu digunakan sebagai tempat pemandian permaisuri raja, yakni Ken Dedes, beserta para putri keraton. Hingga saat ini, sebagian masyarakat Jawa masih memanfaatkan kawasan petirtaan tersebut sebagai destinasi wisata spiritual.

Dalam catatan sejarah yang termuat dalam Kitab Nagarakrtagama, Petirtaan Watugede disebut sebagai Taman Boboji, tempat Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, melakukan pensucian diri. Kisah ini juga menjadi bagian penting dari legenda berdirinya Kerajaan Singhasari.

Dikisahkan, saat Ken Dedes melakukan ritual pensucian diri, tubuhnya memancarkan sinar berwarna biru yang tanpa sengaja terlihat oleh Ken Arok. Peristiwa tersebut kemudian disampaikan kepada gurunya, Empu Lohgawe, yang menafsirkan bahwa perempuan dengan ciri tersebut adalah Putri Anarendra Anariswari, sosok utama yang akan melahirkan raja-raja besar di Nusantara. Dari peristiwa inilah lahir tekad Ken Arok untuk merebut kekuasaan Tumapel.

Setelah menewaskan Tunggul Ametung, Ken Arok menikahi Ken Dedes dan kemudian diangkat sebagai Akuwuh Tumapel, serta mengganti nama kerajaannya menjadi Singosari (Singhasari) dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Petirtaan Watugede pun menjadi saksi bisu perjalanan sejarah penting tersebut.

Tak hanya memiliki nilai sejarah politik dan kerajaan, Petirtaan Watugede juga merekam tradisi leluhur Jawa. Pada masa lampau, tempat ini digunakan sebagai lokasi pensucian anak perempuan yang menginjak usia tujuh tahun. Tradisi tersebut bertujuan membentuk karakter, pengendalian diri, serta pemahaman tentang etika, perilaku, dan hubungan manusia dengan alam serta leluhur.

Di dalam kawasan petirtaan, terdapat pula sebuah sumur dan palinggih yang hingga kini kerap digunakan umat Hindu untuk meletakkan sesaji. Tak jauh dari sumur tersebut, terdapat tiga batu yang menurut cerita digunakan sebagai batu pengasah pedang. Senjata tersebut konon dipakai untuk melaksanakan hukuman pancung bagi lelaki yang melanggar larangan memasuki area pemandian, karena kawasan ini dulunya hanya diperuntukkan bagi putri raja dan dayang-dayangnya.

Selain itu, di sekitar sumur juga terdapat sebuah gua yang dahulu berfungsi sebagai tempat perlindungan para putri ketika menghadapi bahaya. Namun, saat ini gua tersebut dilaporkan telah berada dalam kondisi tertutup. (*)

Pewarta : Achmad Fikyansyah
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.