Jejak KH Munawwir Sholeh, Santri Hadratussyaikh yang Mengajar di Pedes Perak Jombang
Jejak KH Munawwir Sholeh, santri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang diutus mengajar di Pedes Perak, Jombang, menyisakan mata rantai penting dalam sejarah pesantren.
Jombang – Jejak KH Munawwir Sholeh, santri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang diutus mengajar di Pedes Perak, Jombang, menyisakan mata rantai penting dalam sejarah pesantren dan keluarga besar ulama Krapyak.
Foto repro yang beredar itu menampilkan sosok KH Munawwir Sholeh. Ia dikenal sebagai santri langsung Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang mendapat amanah untuk “mulang ngaji” di wilayah Pedes Perak, Jombang.
Dari sana, kiprahnya berkembang dan jejaknya terhubung dengan sejumlah tokoh pesantren di Jawa.
Dalam silsilah keluarga, KH Munawwir Sholeh merupakan kakak dari jalur ibu penulis, yakni KH Humam Sholeh Karangkajen.
KH Humam Sholeh tercatat satu angkatan dengan KH Ali Maksum saat sama-sama nyantri di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.
Sementara dari jalur ayah, ada sosok Mbah H Maksum yang tinggal di timur Masjid Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Rumah beliau memiliki peran penting pada masa awal perkembangan pendidikan pesantren di kawasan itu. Di tempat itulah KH Ali Maksum pernah memulai madrasah pertamanya.
Beberapa nama besar pernah menjadi murid di madrasah tersebut, antara lain KH Dalhar Munawwir, KH Zaenal, KH Warsun, hingga KH Zuhdi Dahlan ayah dari Prof Lutfi Zuhdi. Rantai keilmuan itu membentuk jejaring ulama yang pengaruhnya terasa hingga kini.
KH Munawwir Sholeh sendiri kemudian menurunkan tokoh-tokoh pesantren lain. Di antaranya KH Mutafid Munawwir dari Pesantren Babussalam Kriyan, Jawa Timur, serta KH Mustafa, pengasuh Pesantren Asah Roso Tahfidzul Quran di Parung, Bogor. KH Mustafa diketahui berasal dari Mojokerto.
Catatan ini sebelumnya ditulis oleh Henry Sutopo di Krapyak, Sabtu pagi, 14 Februari 2026.
Catatan tersebut mengingatkan kita bahwa sejarah pesantren bukan hanya tentang lembaga, tetapi juga tentang jejaring keluarga, sanad keilmuan, dan rumah-rumah sederhana yang pernah menjadi titik awal lahirnya para ulama besar. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




