TIMES JATIM, MALANG – Di sebuah dunia yang sejak lama gemar menempelkan label “lemah” pada bahu perempuan, kata berdikari terdengar seperti lonceng kecil yang menggema menantang angin. Ia bukan sekadar kata, melainkan sikap batin, cara berjalan, dan keberanian untuk berdiri di tanah sendiri tanpa terus-menerus menggenggam bayang-bayang orang lain.
Perempuan yang berdikari adalah mereka yang menolak menjadi catatan kaki dalam sejarah hidupnya sendiri. Ia memilih menjadi kalimat utama.
Kemandirian perempuan bukan lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari tanah yang sering kali keras, dari jalan yang berkerikil, dari pagi-pagi yang harus dimulai dengan menahan lelah dan malam-malam yang diakhiri dengan menelan resah. Namun justru di sanalah akarnya menguat.
Seperti pohon yang akarnya menjalar mencari air di tanah kering, perempuan belajar menemukan sumber dayanya sendiri: pada akal, pada keberanian, pada daya tahan yang tidak selalu tampak, tetapi selalu bekerja.
Di era ketika dunia bergerak seperti roda yang diputar mesin, perempuan tidak lagi sekadar penumpang. Mereka menjadi pengemudi, bahkan perancang jalur. Dari ruang kelas hingga ruang rapat, dari pasar tradisional hingga perusahaan rintisan berbasis teknologi, perempuan hadir bukan sebagai hiasan statistik, melainkan sebagai penggerak.
Mereka merancang aplikasi, membangun usaha kecil menjadi industri rumah tangga yang tangguh, memimpin komunitas, menembus sekat-sekat lama yang dulu dipatri dengan dalih “kodrat”.
Berdikari hari ini tidak selalu berarti menolak cinta atau menyingkirkan keluarga. Ia justru tentang tidak menggantungkan seluruh makna hidup pada satu peran tunggal. Seorang perempuan bisa menjadi ibu yang penuh kasih sekaligus pengambil keputusan yang rasional.
Ia dapat menjadi istri yang setia sekaligus pemimpin yang tegas. Kemandirian bukan pembangkangan terhadap relasi, melainkan kedewasaan dalam relasi: mencintai tanpa menghapus diri sendiri.
Namun jalan ini tidak pernah steril dari prasangka. Perempuan mandiri kerap disalahpahami sebagai dingin, keras, terlalu ambisius, atau “terlalu banyak mau”. Padahal, di balik punggung yang tegak itu sering tersimpan lelah yang tidak sempat diadukan.
Di balik senyum profesional, ada doa yang dipanjatkan dalam diam agar langkahnya tidak goyah. Mereka bukan baja tanpa retak, melainkan manusia yang memilih berdiri meski lututnya gemetar.
Yang menarik, banyak perempuan berdikari tidak membangun menara gading untuk dirinya sendiri. Mereka justru menyalakan lilin-lilin kecil bagi sekitar. Mereka membuka lapangan kerja, mengajarkan keterampilan, mendampingi perempuan lain agar berani keluar dari lingkar ketergantungan. Kemandirian mereka menjelma seperti mata air: tidak hanya menyegarkan diri sendiri, tetapi mengaliri ladang-ladang lain yang kehausan.
Di sinilah inovasi menemukan wajahnya yang paling manusiawi. Inovasi bukan hanya soal teknologi canggih atau algoritma rumit, tetapi keberanian untuk mengubah pola lama. Perempuan menciptakan model bisnis yang ramah komunitas, pendidikan alternatif bagi anak-anak pinggiran, sistem kerja fleksibel yang lebih beradab, hingga cara memimpin yang tidak selalu menindas dengan suara tinggi, melainkan menggerakkan dengan empati. Mereka membuktikan bahwa kecerdasan tidak harus bersuara keras, dan kekuatan tidak selalu datang dalam bentuk pukulan di meja.
Kita sering lupa bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau deretan gedung tinggi, tetapi dari seberapa banyak warganya terutama perempuannya diberi ruang untuk tumbuh tanpa takut dipatahkan.
Perempuan yang berdikari adalah indikator kesehatan sosial. Ketika mereka bisa berdiri tanpa dicurigai, melangkah tanpa dihakimi, dan bermimpi tanpa ditertawakan, di situlah sebuah masyarakat sedang belajar menjadi dewasa.
Tentu, tidak semua perempuan harus menjadi CEO, menteri, atau pengusaha besar untuk disebut berdikari. Seorang ibu rumah tangga yang mengelola keuangan keluarga dengan bijak, seorang buruh yang menyekolahkan adiknya dari hasil keringat sendiri, seorang mahasiswi yang bekerja sambil belajar agar tidak membebani orang tua mereka semua adalah potret kemandirian dalam bentuk yang paling jujur. Berdikari tidak diukur dari panggung, melainkan dari keberanian mengambil tanggung jawab atas hidup sendiri.
Pada akhirnya, perempuan yang berdikari adalah mereka yang menolak menyerahkan nasibnya pada belas kasihan semata. Mereka menjahit harapan dari benang-benang rapuh, menenun masa depan dari sisa-sisa kesempatan, lalu memakainya dengan bangga sebagai pakaian martabat. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh. Bukan hanya hidup, tetapi memberi arti.
Dan barangkali, di tengah dunia yang sering gaduh oleh perebutan kuasa, perempuan berdikari adalah puisi yang berjalan pelan namun pasti. Ia tidak selalu berteriak, tetapi jejaknya membekas. Ia tidak selalu memukul, tetapi kehadirannya mengubah arah angin.
Dari langkah-langkah sunyi merekalah, peradaban belajar bahwa kekuatan sejati bukan tentang siapa yang paling keras, melainkan siapa yang paling mampu berdiri tanpa menjatuhkan yang lain.
***
*) Oleh: Nae Anne, Pemerhati Sosial.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |