https://jatim.times.co.id/
Opini

Belajar Pintar atau Belajar Beradab?

Minggu, 18 Januari 2026 - 19:37
Belajar Pintar atau Belajar Beradab? Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD negeri 4 Sawojajar.

TIMES JATIM, MALANG – Pendidikan sering dipuja sebagai kunci masa depan, tetapi jarang ditanya: masa depan seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun? Di ruang kelas, nilai sering diperas menjadi angka, rapor, dan peringkat. Di baliho sekolah, pendidikan dipamerkan sebagai tangga menuju karier mapan. 

Namun di jalanan, kita masih menjumpai kekerasan, intoleransi, korupsi kecil-kecilan, dan sikap saling memangsa. Di titik inilah pendidikan patut bercermin: jangan-jangan kita terlalu sibuk mengajar cara menjadi pintar, tetapi lupa mengajarkan cara menjadi manusia.

Nilai pendidikan sejatinya bukan barang jadi yang bisa dibagikan seperti buku paket. Ia adalah konstruksi sosial yang tumbuh dari perjumpaan antara guru, murid, keluarga, dan lingkungan. Nilai hidup di kebiasaan, bukan di slogan. 

Ia bernafas di cara orang menyapa, menghargai perbedaan, menepati janji, dan memperlakukan yang lemah. Jika sekolah hanya memproduksi lulusan yang cepat menghitung tetapi lambat berempati, maka kita sedang menanam kecerdasan tanpa akar moral.

Mengonstruksikan nilai pendidikan berarti merancang pengalaman belajar yang membuat murid tidak hanya tahu, tetapi juga merasa dan bertanggung jawab. Kejujuran, misalnya, tidak cukup diajarkan lewat definisi. Ia harus dihidupkan dalam sistem evaluasi yang adil, dalam guru yang tidak memanipulasi nilai, dan dalam kebijakan sekolah yang tidak mengajarkan “asal lulus”. Jika sejak bangku sekolah anak belajar bahwa mencontek adalah dosa kecil yang bisa dinegosiasikan, maka kelak ia akan memandang korupsi sebagai dosa besar yang bisa ditawar.

Nilai juga tidak lahir dari ceramah panjang yang membuat mata mengantuk. Ia tumbuh dari keteladanan. Guru yang datang tepat waktu sedang mengajarkan disiplin tanpa banyak kata. Kepala sekolah yang berani meminta maaf sedang menanamkan keberanian moral. 

Orang tua yang jujur pada anaknya sedang menyemai integritas yang tidak tercantum di kurikulum. Pendidikan sosial yang membangun tidak bekerja lewat pengeras suara, tetapi lewat laku sehari-hari yang konsisten.

Dampak sosial pendidikan baru terasa ketika ilmu tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke tangan dan kaki. Murid yang belajar tentang lingkungan lalu membersihkan sungai, mahasiswa yang memahami demokrasi lalu mengawal kebijakan publik, santri yang mengaji lalu membela tetangga yang dizalimi di situlah nilai menjelma menjadi tindakan. Pendidikan yang tidak menyentuh realitas sosial hanya akan melahirkan generasi yang fasih berbicara, tetapi gagap bertindak.

Masalahnya, sistem pendidikan kita masih sering terjebak pada logika pabrik: seragam, cepat, terukur. Nilai dipadatkan menjadi mata pelajaran, dikurung dalam jam tertentu, lalu diuji dengan pilihan ganda. Padahal nilai adalah sesuatu yang cair, kadang rumit, dan sering berantakan. Ia membutuhkan ruang dialog, konflik pendapat, bahkan kegagalan. 

Anak perlu belajar berbeda pendapat tanpa saling membenci, belajar kalah tanpa merasa hina, belajar menang tanpa menjadi pongah. Semua itu tidak bisa diajarkan dengan rumus, tetapi dengan ruang aman untuk menjadi manusia yang utuh.

Mengonstruksikan nilai pendidikan juga berarti berani menghubungkan sekolah dengan denyut masyarakat. Ketika siswa dikenalkan pada realitas kemiskinan, ketidakadilan, dan keragaman budaya, mereka belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. 

Empati tidak lahir dari papan tulis, tetapi dari tatapan langsung pada wajah orang lain. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa ilmu bukan alat untuk menindas, melainkan jembatan untuk berbagi.

Pendidikan yang berdampak sosial membangun akan melahirkan warga yang tidak mudah terbakar hoaks, tidak ringan menghina, dan tidak cepat main hakim sendiri. Ia melatih nalar kritis sekaligus hati yang lapang. Ia membentuk generasi yang mampu berkata “tidak” pada ketidakadilan, tetapi tetap berkata “ya” pada kemanusiaan. Inilah nilai yang membuat masyarakat tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga matang secara moral.

Tentu, tugas ini tidak bisa dibebankan pada sekolah semata. Negara perlu menghadirkan kebijakan yang memuliakan guru, bukan menekannya dengan administrasi tak berujung. 

Media perlu berhenti memuja sensasi dan mulai merawat akal sehat. Keluarga perlu kembali menjadi sekolah pertama tentang empati dan tanggung jawab. Pendidikan adalah orkestra besar; jika satu alat sumbang, musik sosial akan terdengar fals.

Mengonstruksikan nilai pendidikan bukan proyek singkat seperti mengganti kurikulum. Ia adalah kerja panjang menanam, menyiram, dan menunggu. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat di grafik pertumbuhan ekonomi, tetapi terasa dalam cara masyarakat menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, dalam cara pejabat menolak suap, dan dalam cara anak muda memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan.

Jika pendidikan hanya melahirkan orang pintar, negeri ini mungkin akan maju. Tetapi jika pendidikan melahirkan orang baik, negeri ini akan selamat. Dan di antara maju dan selamat, sejarah selalu memilih yang kedua sebagai syarat agar yang pertama tidak berubah menjadi bencana.

***

*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD negeri 4 Sawojajar.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.