https://jatim.times.co.id/
Opini

Generasi Lajang dan Psikologi Cinta yang Berubah

Minggu, 18 Januari 2026 - 20:57
Generasi Lajang dan Psikologi Cinta yang Berubah Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

TIMES JATIM, MALANG – Indonesia sedang mengalami sesuatu yang nyaris tak terlihat oleh orang yang sibuk mengejar angka pertumbuhan ekonomi: jumlah orang muda yang memilih tidak menikah semakin tinggi. Data terbaru BPS menunjukkan bahwa sekitar 71 persen kaum muda usia 16–30 tahun berstatus lajang. 

Angka ini bukan sekadar statistik kering, tetapi cermin yang memantulkan keresahan, harapan, kecemasan, dan perubahan cara kita memaknai cinta, komitmen, dan kehidupan dewasa.

Beberapa dekade lalu, menikah adalah rite of passage tanda bahwa seseorang telah dewasa, siap bertanggung jawab, layak menjadi kepala keluarga, dan mampu membangun rumah. Kini, ritus itu mulai kehilangan beratnya. 

Bukan karena cinta hilang, tetapi karena konteks hidup muda telah berubah begitu cepat sehingga komitmen jangka panjang tidak lagi terasa sebagai tujuan utama, melainkan sebagai salah satu opsi di antara sekian banyak kemungkinan.

Psikologi perkembangan memberi kita lensanya. Remaja dan dewasa muda saat ini hidup di era extended adolescence masa transisi yang lebih panjang di mana identitas, karier, dan kebebasan pribadi menjadi prioritas. 

Tidak lagi ada peta yang jelas: sekolah kerja nikah anak. Rute itu kini seperti peta tua yang sudah usang. Banyak yang memilih berhenti, melihat sekeliling, dan bertanya: “Apakah semua ini harus terjadi sekarang?”

Ketidakpastian ekonomi jelas turut bicara. Ketika harga rumah melonjak, biaya hidup meningkat, dan pekerjaan tetap semakin sulit dijangkau, pernikahan terasa seperti loncatan yang memerlukan jaring pengaman yang tak selalu tersedia. 

Psikolog Abraham Maslow pernah bicara soal hierarki kebutuhan ekonomi dasar harus terpenuhi sebelum kebutuhan cinta dan afiliasi direalisasikan. Ketika kebutuhan eksistensial masih bergelut di perut, pernikahan sering dianggap kemewahan yang sulit dijangkau.

Tapi itu bukan keseluruhan cerita. Ada dimensi lain yang lebih halus: ketakutan terhadap komitmen. Generasi muda hari ini terbiasa hidup dalam dunia yang serba cepat dan bisa dibatalkan kapan saja langganan streaming yang bisa berhenti dengan satu klik, pekerjaan kontrak yang tak menentu, hubungan asmara yang dimulai lewat aplikasi dan kadang juga berakhir lewat notifikasi. Dalam konteks semacam ini, komitmen seumur hidup bukan lagi sekadar janji, tetapi risiko psikologis besar yang bisa menakutkan.

Psikolog Erik Erikson berbicara tentang konflik intimacy vs. isolation pada dewasa awal: individu dihadapkan pada pilihan antara membentuk keterikatan emosional yang kuat atau tetap terisolasi untuk menjaga diri. 

Ketika lingkungan sosial dan kebiasaan digital mempromosikan koneksi cepat tanpa kedalaman, pembangunan keterikatan jangka panjang menjadi tantangan psikologis tersendiri. Banyak yang jatuh cinta cepat, tetapi enggan berlabuh; mereka menikmati gelombang rasa tanpa mau menggali dasar yang lebih dalam.

Selain itu, ada perubahan signifikan dalam cara generasi muda memahami identitas diri. Pernikahan dulu dipandang sebagai puncak transisi menuju kedewasaan. Namun sekarang, kedewasaan sering diukur dari kemampuan mandiri secara ekonomi, psikologis, dan emosional bukan dari status pernikahan. 

Banyak yang lebih memilih mengejar pendidikan lanjutan, perjalanan, atau membangun karier yang bermakna sebelum sekadar memikirkan selamanya. Beberapa bahkan merasa bahwa pernikahan, di tengah tuntutan modern, bisa mengekang kebebasan pribadi yang telah susah payah mereka raih.

Budaya juga memainkan peran. Narasi romantis yang pernah memaksa ‘harus menikah’ kini banyak dikritisi karena sering kali dibarengi dengan diskriminasi sosial terhadap mereka yang memilih lajang. 

Kontemporer muda semakin sadar bahwa cinta tidak seharusnya dipasang harga dalam bentuk upacara besar, rumah, atau anak. Mereka ingin makna, bukan seremoni. Mereka ingin hubungan yang sehat, bukan sekadar label.

Namun, tren ini tidak lepas dari dampak psikologis yang paradoks. Di satu sisi, lebih banyak lajang berarti lebih banyak ruang untuk eksplorasi diri dan otonomi. Di sisi lain, isolasi sosial, kesepian, dan rasa tidak berdaya ketika melihat teman-teman menikah dan membangun keluarga bisa menimbulkan kecemasan eksistensial. Kebutuhan akan koneksi mendalam masih ada, hanya saja bentuknya kini lebih fleksibel dan tidak selalu berujung pada pernikahan formal.

Masyarakat juga harus belajar membaca tren ini tanpa stigma. Menyebut generasi lajang sebagai egois atau tidak bertanggung jawab hanyalah cara lama melihat dunia yang telah berubah. 

Diskursus sosial perlu membuka ruang bagi pluralitas pilihan hidup bahwa jalan menuju kebahagiaan dan kedewasaan tidak hanya satu: yakni menikah muda dan membangun keluarga sesuai formula tradisional.

Pendidikan pun memegang peranan penting. Pendidikan yang sehat tidak hanya mengajarkan apa menikah, tetapi mengapa menikah apa artinya komitmen, bagaimana membangun hubungan yang sehat, dan bagaimana memelihara kesejahteraan psikologis dalam hubungan itu. Tanpa kapasitas batin yang kuat, pernikahan bisa berubah menjadi jebakan, bukan perjalanan bersama.

Pemerintah dan lembaga masyarakat pun perlu menanggapi tren ini sebagai fenomena yang membutuhkan perhatian struktural. Penyediaan akses kesehatan mental, pendidikan hubungan yang lebih matang, dan kebijakan ekonomi yang memberikan ruang untuk generasi muda berkembang tanpa harus menunggu jaminan hidup mapan sebelum membayangkan masa depan bersama semua itu adalah bagian dari respons sosial yang bijak.

Tren menurunnya angka pernikahan bukan hanya soal statistik demografis. Ia adalah lukisan psikologis bangsa yang sedang berubah. Ia memaksa kita bertanya ulang tentang hubungan, komitmen, kebahagiaan, dan makna bersama. Bukan untuk menolak romantisme pernikahan, tetapi untuk merayakan bahwa cinta bisa hidup dalam banyak bentuk bukan hanya yang dibingkai oleh ijab dan sah.

Jika kita mampu melihat fenomena ini tanpa prejudis, kita bisa mulai membangun masyarakat yang menghargai pilihan, memahami dinamika psikologis, dan membangun sistem sosial yang menerima setiap manusia, baik yang memilih menikah maupun lajang, sebagai warga yang bermartabat dan utuh.

Dalam kebisuan angka itu, ada cerita manusia yang sedang belajar tentang kehidupan, tentang hubungan, dan tentang harapan yang tak lagi terikat pada satu bentuk saja. Dan mungkin, justru di sanalah, cinta menemukan cara barunya untuk berkembang.

***

*) Oleh : Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.