TIMES JATIM, MAGELANG – Maraknya isu dugaan keracunan yang menimpa sejumlah siswa penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) di Magelang, tidak hanya menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan pihak sekolah, tetapi juga membawa dampak serius bagi para pekerja dapur MBG yang menggantungkan hidup dari aktivitas harian tersebut.
Di balik sorotan publik dan derasnya informasi di media sosial, terdapat kisah para pekerja kecil yang harus menahan beban ekonomi akibat penghentian sementara operasional dapur.
Agus, 43 tahun (bukan nama sebenarnya), salah satu pekerja dapur MBG, mengaku terpaksa dirumahkan selama kurang lebih dua pekan sejak munculnya dugaan keracunan tersebut. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif hingga permasalahan dianggap selesai.
“Karena terjadinya keracunan yang menimpa para siswa yang diduga dari MBG, kami para pekerja dapur MBG diberhentikan sementara sekitar dua mingguan,” ujar Agus kepada TIMES Indonesia pada Kamis (29/1/2026).
Bagi Agus, keputusan tersebut bukan perkara ringan. Ia merupakan tulang punggung keluarga dengan dua anak yang masih kecil dan kebutuhan hidup yang terus berjalan setiap hari.
“Padahal kami harus terus memberikan nafkah keluarga. Anak saya dua, masih kecil-kecil semua,” tambahnya, dengan nada lirih.
Kondisi serupa juga dialami Imah, 33 tahun. Sebelumnya ia adalah ibu rumah tangga yang baru sekitar dua minggu bekerja di dapur MBG. Harapan untuk membantu ekonomi keluarga pun harus tertunda akibat penghentian sementara aktivitas dapur, tempatnya bekerja.
“Saya baru sekitar dua minggu kerja. Tapi karena ada anak yang keracunan, saya tidak lagi bekerja karena dapur MBG tempat saya kerja distop sementara sampai permasalahan keracunan dianggap selesai,” tuturnya sambil berpesan agar nama aslinya tak disebut.
Sementara itu, pihak tenaga kesehatan yang menangani para siswa penerima MBG menegaskan bahwa penyebab keracunan belum bisa disimpulkan secara pasti berasal dari makanan MBG. Menurut mereka, diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan agar tidak menimbulkan dampak lanjutan yang lebih luas.
“Tidak bisa serta-merta disimpulkan bahwa anak-anak keracunan karena MBG. Kalau memang dari MBG, seharusnya semua yang mengonsumsi makanan itu mengalami hal yang sama,” ujar salah satu petugas kesehatan setempat.
Pihak Dapur Bertanggung Jawab
Pihak dapur MBG sendiri menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan hal yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Mereka menyebut kejadian tersebut sebagai musibah atau kecelakaan, bukan unsur kesengajaan.
Selain itu, pihak dapur juga menyatakan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh terhadap siswa yang dianggap sebagai korban keracunan.
Namun, maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi dinilai memperparah situasi. Informasi yang beredar luas melalui unggahan media sosial dan status WhatsApp dinilai berdampak besar, tidak hanya pada kepercayaan publik, tetapi juga pada keberlangsungan hidup para pekerja dapur.
“Dampaknya luar biasa. Para pekerja diliburkan, padahal mereka punya keluarga yang harus dinafkahi setiap hari,” ungkap perwakilan dapur MBG.
Hal senada juga disampaikan oleh, Hari. Ia adalah salah satu pemilik yayasan di mana beberapa dapur MBG bernaung. Hari mengisahkan kejadian yang dialami oleh rekannya, yang dapur MBG nya dihentikan sementara waktu.
"Sebenarnya bukan hanya para pekerja yang merasakan dampaknya, para kepala sekolah juga banyak yang menginginkan MBG segera kembali bisa bisa mereka terima, anak-anak dan orang tua juga banyak yang bertanya, kapan MBG mulai lagi," bebernya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap isu publik, ada kehidupan banyak orang yang ikut terdampak. Kehati-hatian dalam menyebarkan informasi serta menunggu hasil pemeriksaan resmi menjadi kunci agar tidak menimbulkan korban sosial baru di tengah upaya menjaga kesehatan dan gizi anak-anak. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Di Balik Isu Keracunan MBG: Nasib Pekerja Dapur Terhenti, Sekolah Pun Kembali Menanti
| Pewarta | : Hermanto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |